12. Kamu Dimana?

159 34 50
                                        

Mobil sedan metalik itu memasuki gerbang sebuah rumah besar nan mewah. Pintu mobil terbuka, menampakkan gadis berseragam SMA yang tengah menggendong tas, turun dari sana.

"Nuhun, Mang Udin."

Asya sempat tersenyum pada sopir yang selalu mengantar jemput dirinya itu. Dia berbalik, hendak memasuki pintu utama namun tertahan oleh sebuah mobil Jazz yang terparkir di pelataran rumah. Dia mengenal mobil itu.

Tanpa aba-aba Asya langsung berlari masuk.

Dengan jantung berdebar, dia melangkah memasuki ruang tamu yang kini terlihat sosok tamu penting.

"Mama?!"

Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menoleh ke arahnya. Juga ada sang ayah yang ikut menatapnya dengan wajah gusar.

"Mama pulang? Iya? Mama pulang kan? Balik sama Papa?" saking senang melihat ibunya, Asya berseru dengan semangat. Menantikan apa yang dia inginkan selama ini. Melupakan hal yang terjadi terakhir kali.

Tapi tak ada jawaban.

"Ma—"

"Asyara, masuk." Papanya, Matthias keburu menyuruhnya pergi. Wajahnya mengeras, menahan emosi yang siap meledak.

"Enggak Pa, aku mau di sini, mau liat Papa sama Mama lagi—"

"Tidak ada yang bersama." Matthias berdiri. Menoleh pada wanita itu. "Sesuai surat yang baru saja kamu tandatangani, kita akan bertemu di pengadilan."

"Papa?!"

"DIAM ASYARA!" Matthias meneriaki putrinya keras. Matanya melotot dingin, menyuruh Asya tidak ikut campur.

Sang Mama—Leyla perlahan berdiri. Menatap Matthias datar. "Ya... sampai jumpa di pengadilan." 

"Mama! Apa-apaan ini?!" Asya mendekati kedua orang tuanya. "Perceraian apa?!"

Matthias memijat pelipisnya yang berdenyut. "Kamu tidak perlu tahu. Masuk ke kamarmu!"

"Papa!"

"PAPA BILANG MASUK KAMAR SEKARANG!"

"NGGAK MAU! ASYA MAU DI SINI, ASYA NGGAK MAU PERGI!" gadis itu balik meneriaki Papanya. Menahan diri untuk tidak menangis. Asya memegang tangan Mamanya, yang sedari tadi memilih diam.

"Mama, Mama jangan pergi! Mama nggak boleh ninggalin aku sama Papa! Mama harus kembali. Ya, Ma?"

Leyla menghempaskan tangan sang anak. Kasar.

"Kamu tahu jelas keputusan Mama, Catharina." ucapnya dingin. Kemana Mama yang selalu menatapnya hangat dan penuh kasih? Kemana?

Asya mematung saat ibunya perlahan melangkah hendak pergi dari sini. Cepat-cepat dia menahannya.

"Ma, Mama jelasin sama aku. Kenapa Mama ninggalin kita? Ma, aku masih butuh Mama, Papa juga. Kita masih bisa barengan lagi kayak dulu! Ma, tunggu Asya!"

Asya akhirnya menangis. Dia menangis memegang tangan ibunya yang lagi-lagi dengan kasar ditampik begitu saja. Menoleh pada Papanya yang memilih diam, enggan berbuat apapun.

"Papa, tolong hentikan Mama! Mama nggak boleh pergi lagi! Mama!!"

"Asya, berhenti!" Matthias mencekal lengannya yang ingin mengejar Leyla. "Asyara!"

"Nggak bisa!" Asya menggeleng dengan air mata yang bercucuran di pipi. Menangis tergugu.  "Papa tolong hentikan Mama! Aku nggak mau Papa sedih lagi nunggu Mama pulang. Papa harus hentikan Mama!"

Matthias tak menjawab.

"MAMA BERHENTI. ASYA BILANG BERHENTI, MA!" gadis itu berusaha melepaskan diri dari pegangan sang ayah, terus berteriak sambil menangis.

LAKUNA.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang