17. Pengakuan.

158 40 71
                                        

Apa hanya aku yang berharap di sini? Apa hanya aku yang jatuh cinta sendiri?
Catharina Asyara.

°
°

"Asya!!"

"Asyara!" Fandi bergegas meraih lengannya. Pemuda itu berusaha mengatur napas yang memburu. Berusaha menahan perasaannya yang perlahan kacau.

Asya hanya diam. Menunduk.

"Asya—"

"Sekarang apa?" Gadis itu mendongak. Memotong ucapan Fandi. Menatap pemuda di depannya dengan air mata mengalir. "Apa lagi, Fandi?"

Untung saja keduanya berada di ujung parkiran yang sepi. Jelas tidak ada yang akan mendengar pembicaraan mereka.

"Asya, dengerin gue dulu—"

Fandi mengusap sudut bibirnya yang berdarah. Sedikit panik dengan situasi saat ini.

"Bukannya semua udah jelas?" Asya menangis tergugu. "Alasan kamu selama ini selalu cuek sama aku. Alasan kenapa hubungan kita yang terlalu datar kayak gini, aku udah tau semuanya!"

Tak ada jawaban dari pemuda itu.

"Aku—" Asya tersedak tangisnya. "Aku salah apa sama kamu, Fandi?! Aku salah apa sampe kamu tega ngelakuin aku kayak gini?!" gadis itu mencekeram jaket si pemuda erat-erat. Tangisnya terdengar memilukan.

"Jawab aku!" Asya kembali mendesak. "Aku tau kamu bisa bicara, jawab aku!"

Tetap tidak ada jawaban darinya.

"Fandi!"

Fandi menatap Asya yang berada di depan wajahnya lekat. Matanya memerah, tersenyum. Getir.

"...maaf Asya."

Hanya dengan kalimat itu tangis Asyara meledak. Fandi bergegas memeluknya, meski gadis itu terus berontak, memukul dadanya. Tidak keras. Tapi itu sebagai pelampiasan rasa kecewa miliknya, Fandi tahu jelas.

Fandi terus memeluk Asya. Membiarkan gadis itu memukulnya. Dia terus mendekap gadis itu, matanya yang memerah kini berkaca-kaca. "Maaf, Asya."

"Kamu jahat, Fandi." Asya terus memukul dadanya. Gadis itu nampak kacau. "Kamu nyakitin aku."

"...maaf, Asya." hanya itu yang selalu Fandi ucapkan. Seolah tidak ada kata lain yang bisa dia jelaskan. Tapi seuntai kalimat itu jelas mewakili perasaan si pemuda. Dia bahkan lebih kecewa pada dirinya sendiri.

"Aku nggak masalah selama ini kamu cuek, kamu datar banget ngehadepin aku. Gamasalah! Aku nggak papa!" Asya mendongak. "Tapi kalo kamu jadiin aku taruhan, itu yang buat aku kecewa sama kamu! Aku marah sama kamu, Fandi!"

".....maaf, Asya."

"Aku nggak butuh maaf kamu!" Asya berseru. Gadis yang biasanya terlihat anggun nan kalem itu berubah perangainya. "Aku cuma butuh penjelasan kamu! Jelasin sekarang!"

"....iya."

"Iya apa?!"

"Gue jadian sama lu karena dare doang." jawab Fandi pelan. "Setelah sebulan gue harus putusin lu."

LAKUNA.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang