Saya kasih tau satu hal, cowok itu, cowok yang suka kamu teriakin namanya itu adalah pacar saya. Ngerti?
—Catharina Asyara.
°
°
°
"Woi, tumben nggak langsung ke Warbet?" Tama mengernyit sembari mengikuti langkah Fandi menelusuri koridor yang ramai di waktu istirahat ini.
Fandi hanya melirik sekilas.
Langkahnya perlahan memelan saat mendekati kelas 12 IPS 5 yang pintunya terbuka lebar.
"Yeu, nyamperin pacar ternyata? Tumben amat njir." Tama menyeringai sembari geleng kepala. Dia tahu betul kawannya satu itu, apakah Fandi sudah tobat? Sudah membuka hati untuk mbak pacar? Kalo udah syukur hamdalah! Dia bisa minta traktir nanti.
Fandi memutuskan untuk memunculkan diri di pintu kelas. Membuat beberapa murid yang masih ada di sana menengok. Mengamati pemuda jangkung yang kini menatap datar.
"Eh, itu kan si anak silat yang kemaren ngewakilin sekolah?"
"Ssssttt, itu Fandi. Dia sering nongkrong di Warbet sama temen-temennya. Pada ngerokok."
"Iya, gue pernah liat sampe dihukum Pak Suripto!"
Bisik-bisik para gadis tak mendapat respon si pemuda. Dia menatap salah satu perempuan yang berada paling dekat dengan pintu kelas.
"Asya ada?"
Kehebohan terdengar. Kasak-kusuk memanggil teman mereka, Asya yang sedari tadi sibuk di bangku belakang kelas. Menyelesaikan tugas seni miliknya.
"Asyaaa! Dicariin pacar tuh!"
"Cieeeeeeeee!"
Asya langsung menoleh dan bertatapan dengan Fandi di pintu kelas. Gadis itu mengerjapkan mata berkali-kali, Fandi ada di sini?
Fandi mengode untuk segera keluar. Asya bergegas bangkit, buru-buru keluar kelas. Menghampiri pemuda itu yang ternyata bersama temannya.
"Em, halo?" sapa Asya kelewat canggung dengan pipi bersemu.
"Ehehehe, kalem neng." Tama cengar-cengir gajelas. "Tuh, si Pandi ngajakin gue ke sini." sambil menyikut Fandi yang diam saja memandang Asya sejak tadi.
"Naon euy, Fandi?"
"Naha teu kaluar? "
"Aku masih harus ngerjain tugas seni atuh. Nanti pulang kan suruh kumpulin."
"Pak Fuad?"
Asya mengangguk sambil cemberut. "He'em."
Fandi hanya mengulas senyum tipis.
"Tumben ka dieu?"
"Nggak boleh?"
"Enggak gitu," Asya membenahkan rambutnya yang terikat. "Tumben aja ish."
Fandi hanya menaikkan alisnya.
"Ke sini mau ngapain?" Asya mendongak, menatap si pemuda lekat.
"Udah makan?"
"Belummm,"
KAMU SEDANG MEMBACA
LAKUNA.
Teen Fiction"Yang ku abadikan dalam cerita ini. Untukmu, sebuah rindu yang tak pernah mampu meminta temu. Dalam uluran sang waktu." ©2024 - by Aksa
