[SELESAI]
[spin-off 'Double Kill'-'Just Us 2']
***
Juli kerap mendengar orang-orang mengatakan hidupnya sempurna. Wajahnya cantik, karirnya bagus, dan punya pacar tampan dengan usia hubungan yang tidak sebentar.
Tidak mau munafik, Juli tak pernah me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[]
"Okay, good! It's all done, ya!"
Usai mendengar kalimat tersebut, Juli langsung turun dari set dan segera berjalan menuju ruangan yang memang dibuat khusus untuknya. Di belakangnya, Arsa menyusul lalu membantu Juli melepas baju juga aksesoris yang tadi dipakainya untuk pemotretan.
Hela napas Juli terdengar berat, begitu pula dengan matanya. Ia memejamkan mata selagi orang-orang mengerubunginya.
"Juli..."
Bola mata Juli terbuka secara perlahan. Wajahnya sudah bersih dari make up. Dia hanya perlu berganti baju sekarang dan pulang ke apartemennya supaya dia bisa rebahan dengan benar.
Saat hendak berdiri, tiba-tiba pandangannya berputar, membuatnya oleng dan kalau saja Arsa tidak meraih tangannya, sudah pasti Juli akan jatuh terjerembap di atas lantai.
Juli tak jadi berdiri. Dia memilih untuk duduk lagi dan menstabilkan pandangannya dengan cara mengerjap dengan cepat. Namun, bukannya membaik, sekarang malah kepalanya ikutan berdenyut.
"Badan lo panas," telapak tangan Arsa menyentuh kening Juli. "Lo istirahat dulu di sini sebentar setelah itu gue antar ke rumah sakit."
Juli menggeleng. "Gue nggak apa-apa, Sa. Kayaknya hanya kecapekan aja."
"Kenapa lo nggak bilang kalo nggak enak badan?" Arsa berdecak. "Gue nggak bakal biarin lo tetep kerja seharian nonstop kalo tau lo sakit. Gue nggak sejahat itu anjir."
"Gue hanya butuh tidur aja."
Arsa memutar bola mata. Dia meraih ponsel, hendak menghubungi Caka tapi tangan Juli meraih tangannya.
"Nggak usah hubungi Caka, please," ucap Juli pelan. "Caka masih di luar kota. Gue nggak mau dia panik. Gue beneran nggak apa-apa, Sa. Please, jangan hubungi Caka, ya?"
Melihat tatapan Juli yang tampak memohon, Arsa tak punya pilihan selain mengangguk. Juli nggak salah juga sih. Caka lagi di luar kota dan mengabari kalau Juli sakit sepertinya bukan ide bagus.