[SELESAI]
[spin-off 'Double Kill'-'Just Us 2']
***
Juli kerap mendengar orang-orang mengatakan hidupnya sempurna. Wajahnya cantik, karirnya bagus, dan punya pacar tampan dengan usia hubungan yang tidak sebentar.
Tidak mau munafik, Juli tak pernah me...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[]
"Kamu nggak ngasih tau Mama?"
Caka bertanya sambil menggeser kursinya mendekat ke kasur Juli. Dia baru saja selesai membantu Juli menghabiskan makanan yang disediakan oleh rumah sakit—menyuapi, lebih tepatnya. Awalnya, Juli tidak mau disuapi dan ngotot ingin makan sendiri. Tapi, karena Caka tau kalau membiarkan Juli makan sendiri sama dengan membiarkan Juli hanya makan dua suap, Caka tidak memberikan kesempatan sama sekali untuk Juli memegang sendok. Walau dengan wajah cemberut, Juli berhasil makan (lumayan) banyak. Tidak sampai habis, tapi cukup membuat Caka puas.
Setelah makan, sekarang Caka sibuk menyuruh Juli untuk istirahat. Bagi Juli, sekarang bukan waktunya untuk tidur. Tapi, siapa dia bisa melawan seorang Cakrawala?
"Aku nggak apa-apa, Caka. Ngasih tau cuma bakal bikin kehebohan baru nggak, sih?"
Alis Caka menukik, "Kok gitu? Apa harus nunggu kamu sakit parah dulu baru Mama dikasih tau?"
"Ih, kok kamu sewot?"
"Don't change the topic, Sayang," balas Caka. "Seenggaknya kasih tau lah keadaan kamu ke Mama."
Juli cemberut. Dia menunduk sambil memainkan selimutnya. "Iya. Nanti aku kasih tau."
"Apa mau aku aja yang telepon Mama?" usul Caka.
Juli menggelengkan kepala. "Nggak usah, biar aku aja."
"Oke."
Setelah itu hening. Caka sibuk dengan ponselnya, walau dia tidak sedikit pun beranjak dari posisi duduknya. Sedangkan Juli, entah kenapa mendadak gelisah tanpa sebab yang jelas.
Kapan, sih, dia bisa pulang dari Rumah Sakit? Toh, keadaannya sudah sangat baik-baik saja. Perutnya juga tidak lagi kenapa-napa.
Tangan Juli tanpa sadar bergerak ke arah perutnya. Ia mengelusnya pelan, yang membuat perasaannya semakin bergejolak.
Juli terkejut ketika tangannya yang masih berada di atas perut digenggam erat oleh–siapa lagi kalau bukan–Caka. Menoleh ke arah Caka, laki-laki itu masih fokus pada ponselnya dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menggenggam tangan Juli sambil sesekali dielusnya pelan.