27 - is it over now?

631 113 42
                                        

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

***

***

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

[]

Caka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, tidak lagi peduli lagi soal keselamatan diri sendiri. Klakson dia bunyikan secara terus-menerus seperti orang kesetanan. Dan dia tidak bisa untuk tidak mengumpat saat macet menjebaknya di tengah emosinya yang berada di titik tertinggi.

Atau mungkin seharusnya dia mensyukuri kemacetan ini? Karena kalau tidak terjebak macet, Caka pasti masih akan terus menginjak pedal gas dan tidak menutup kemungkinan kalau dia akan berakhir dalam sebuah kecelakaan besar.

Caka memutuskan melajukan mobilnya menuju apartemen Juli, tanpa benar-benar tahu apa yang akan dia lakukan di sana. Dia hanya merasa kalau dia harus ke sana.

Setelah menahan sabar hampir satu jam lamanya, akhirnya Caka sampai. Saat pintu terbuka, Caka tak langsung masuk. Dia masih diam sebentar sambil mengamati apartemen Juli. Terakhir dia ke sini adalah sebelum berangkat ke Bangkok, berarti kurang lebih dua belas hari yang lalu?

Caka menghela napas sebelum akhirnya membawa kakinya melangkah masuk lebih dalam.

Apartemen Juli selalu rapi sebab Juli tidak pernah menaruh benda-benda tidak pada tempatnya.

Pandangan Caka langsung tertuju pada pintu kamar Juli. Tanpa ragu, Caka mendekat dan meraih gagang pintu. Kamar Juli gelap, namun langsung berubah menjadi terang benderang saat Caka memetik saklar lampu.

Ada satu hal yang langsung menarik perhatian Caka begitu lampu dinyalakan; benda kecil berbentuk persegi panjang yang terletak di atas nakas. Jantung Caka seolah berhenti berdetak begitu tatapannya jatuh pada benda tersebut. Seiring dengan langkah kakinya yang mendekat, rasa sesak di dadanya juga semakin menguat.

Tangan Caka terulur, hendak meraih benda itu. Caka bahkan tidak sadar kalau tangannya gemetar.

Benda itu tak sampai diraihnya, Caka sudah terlebih dulu berjongkok sambil menutup wajah dengan kedua tangan. Dia menangis, tanpa suara. Sendirian. Bahunya bergetar, lalu lama-kelamaan isaknya terdengar. Sangat menyakitkan.

Cakrawala Untuk Juli [✔]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang