Ian -08-

1.9K 252 21
                                        

Call Me Mpiw!













Kepala Marvin tak henti-hentinya bergerak ke kiri dan ke kanan, memperhatikan dua wajah yang saling berhadapan di hadapannya dengan tatapan penuh selidik, karena dalam pandangannya terlihat jika Rianka terlihat begitu antusias saat mengobrol dengan Elisha, dan Elisha terlihat kikuk, juga tak henti salah tingkah.

Jadi, selesai Elisha dan Marvin mengecek serta membeli beberapa bahan untuk di Restaurant, mereka memutuskan untuk duduk santai sejenak di depan tempat pasokan buah dan sayur, karena Rianka yang memintanya, hingga jadilah Marvin terjebak dan jadi cctv yang bergerak kesana-kemari memantau interaksi janggal antara dua orang yang begitu dikenalinya.

"Sakedap (sebentar), ini kalian keliatan aneh, pada kenapa sih?" Ujarnya, membuat Elisha dan Rianka yang tengah larut dalam obrolan mereka terusik, dan segera menoleh pada Marvin.

"Aneh gimana? Kita cuma lagi ngobrol ya kan El?" Ucap Rianka sambil beralih menatap Elisha.

Elisha menganggukkan kepalanya samar, "Iya, aneh gimana maksudnya?"

"Ya aneh, kalian baru kenal beberapa Minggu ini tapi kok udah kaya kenal berabad abad, gue aja yang udah kenal kalian dari jaman ingus meleber kemana-mana justru ngerasa kaya orang baru disini, alias Lo pada akrab banget, lagi pedekate ya?" Celetuknya.

Seketika Elisha dan Rianka saling tatap beberapa detik, kemudian memutusnya kembali karena secara tiba-tiba mereka merasa canggung, padahal sebelumnya terlihat begitu akrab.

"Tuh kan! Tuh kan! Sekarang pada malu-malu meong, ada apa sih?" Marvin merasa gemas saat ini, entah kenapa interaksi antara sepupu dan sohibnya itu terlihat mencurigakan sekaligus menggemaskan.

Hmm mirip bocah-bocah baru puber kalo pada saltingan gini, ujar Marvin dalam hati.

"Apa sih Vin? Lo makin ngaco deh!" Elisha berusaha mencarikan suasana kembali, agar kecanggungan yang ia dan Rianka rasakan bisa terkikis kembali.

Tapi balasan dari Marvin justru semakin membuat Elisha dan Rianka tak berkutik, "Gak papa kali kalo pada mau pedekate juga, biar gue jadi tim suksesnya."

Kecanggungan semakin menjadi, sontak saja membuat Elisha menyumpah serapahi sepupu laknatnya itu di dalam hati, awas Lo Marvinjing, gue tonjok abis pala dongo Lo itu karena untuk kesekian kalinya Lo udah bikin gue kejebak di situasi rumit gini.

Berbeda dari Elisha, keterdiaman Rianka justru bukan karena tengah menyumpahi Marvin melainkan tengah mempertimbangkan, pedekate? Apa perlu di coba?

🐰🐰🐰

"Marvin babi, Lo tuh kenapa gak bisa bikin hidup gue tenang sih? Udah bikin perasaan gue sama kak Ian kacau, nyeret si Ian, terus sekarang bikin gue sama Ian jadi canggung! Emang anjing!"

Elisha mengomeli Marvin habis-habisan ketika ia dan Marvin sudah berada di dalam mobil.

"Bentar, kok nyalahin gue? Pertama, perasaan Lo sama si Adrian kacau karena perbuatan si Adrian sendiri, gue cuma mau peringatan Lo aja, jadi bukan salah gue! Kedua, gue gak maksud nyeret si Rianka karena gue cuma salah kirim nomor aja, lagian Lo sendiri kenapa gak hati-hati dan malah antusias gak jelas! ketiga, gue gak ngerasa bikin Lo sama si Rianka jadi canggung tadi, tapi cuma berinisiatif buat deketin kalian aja, biar Lo cepet move on dari si Ian bajingan itu, lagian gak ada yang salah ini sama si Ian gemoy, gue tau banget dia gimana orangnya." Papar Marvin.

Elisha mendengus, "Terserah Lo aja deh." Ujar Elisha malas, setelahnya memilih untuk memasang seat belt dan memejamkan maniknya.

Marvin berdecak melihat kelakuan sepupunya yang malah mengabaikan perkataanya tersebut, dan setelahnya ia pun melakukan hal serupa, memasang seat belt, kemudian mengemudikan mobilnya, meninggalkan tempat pemasok milik mama nya Rianka.

45 menit berlalu, mereka pun sampai di Hera Restaurant yang tampak sedang dibenahi oleh para karyawan yang bertugas membuka Restaurant.

Segera saja keduanya meminta para karyawan disana untuk membawa barang belanjaan ke dapur, setelah itu Elisha dan Marvin menuju ke tempat kerja masing masing, Elisha ke ruangannya dan Marvin ke dapur utama.

Di ruangan Elisha, sang empu tampak duduk di kursi kerjanya, seraya menghela nafasnya dengan berat.

"Hah...gue jadi gak enak sama Rianka deh, Marvin tuh kapan gak berulah nya sih, bikin kepala gue pusing aja." Ujarnya, lalu memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.

Ting

Di tengah ke-frustasiannya bunyi notifikasi tiba-tiba mengalihkan fokus pikirannya, dan membuat Elisha melirik ponselnya yang beberapa saat lalu ia letakkan di atas meja.

Melihat ada notifikasi yang masuk, Elisha pun lantas membukanya, ternyata sebuah pesan masuk dari nomor yang sebelumnya ia beri nama 'Kak Ian' yang kini berubah menjadi 'Rianka'.

Rianka

|Kayanya next time kita perlu
|ngobrol lagi kaya tadi,
|tapi tanpa Marvin pastinya, dia
|pengacau haha

Seketika manik Elisha mengerjap beberapa kali, guna memastikan jika pesan yang baru saja ia lihat itu sesuai dengan yang dibacanya.

"Ini maksudnya dia ngajak ketemuan gitu?"

Usai berkata begitu, tiba-tiba Elisha merasa gelenyar aneh, pipinya terasa memanas, juga kedua sudut bibirnya terasa tertarik ke atas secara otomatis.

"I-ini apa lagi! Masa gue senyum?" Ujar Elisha seraya melihat pantulan wajahnya dibalik ponselnya. Tak lupa ia berusaha menutup bibirnya agar senyum tersebut tak semakin lebar.

"A-apa sih gue? Cuma diajak ketemu buat ngobrol aja kenapa sampe gini sih?!"

"Ih gak jelas Lo Elisha!" Ujarnya seraya menoyor kepalanya sendiri, setelah itu ia memilih untuk menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas meja.

Entahlah yang jelas, Elisha tengah salah tingkah sendiri hanya karena sebuah pesan yang dikirim oleh Rianka.

Ting

Karena ponselnya kembali berbunyi, Elisha pun menegakkan posisi tubuhnya, dan kembali membaca pesan yang ia dapat, yang kembali berasal dari Rianka.

|Udah diliat, tapi gak dibales
|nolak secara gak langsung kah?

Elisha menggigit bibir bawahnya, sambil bergumam, "Ini gue bales apa..."

Deg deg deg deg

Di tengah keterdiamannya tersebut, jantungnya turut berdegup kencang tak karuan, membuat Elisha melotot seketika, "Heh apa nih?!" Ujarnya sambil memegangi dadanya, tepatnya di bagian jantungnya yang tiba-tiba berdegup dengan kencang.

"Gue kena serangan jantung?!" Lanjutnya. Kemudian Elisha geleng geleng kepala dan kembali berujar, "Astaga kok gue kaya orang goblok gini? Tenang Elisha, dia cuma ngajak ketemu doang tinggal bales mau apa engga, kok repot banget." Ia berusaha untuk menyadarkan dan menenangkan perasaanya yang tiba-tiba tak karuan tersebut.

Lalu kemudian Elisha pun mulai mengetikkan balasan pada Rianka.

Boleh, atur aja|

"Balesan gue udah cool kan ini? Gak keliatan ngebet banget kan?" Ujarnya. Seraya menatap lekat pada pesan yang baru saja ia kirim. Dan tak lama, balasan dari Rianka pun muncul.

|Lusa gue mau ke studio rekaman
|band gue, kalo lo bisa kita
|ngobrol di sana

"Studio rekaman? Ada anak band nya juga dong? Tapi bukannya ini kesempatan gue ya buat nebus kesalahpahaman sebelumnya, biar gue bisa kenal band dia, siapa tau gue bisa jadi fans nya juga...gue iyain aja kali ya, lusa juga gak ada janji apa apa selain kerja." Ujarnya mempertimbangkan.

Boleh, share aja tempatnya,
nanti aku ke sana

|Okey
































































Anjay Ian gemoy beraksi nih
16-12-2023.

"IAN" [LK] ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang