12

137 11 0
                                        

Selesai makan bubur kacang, Hakam membawa Rubi ke taman komplek yang tampak sepi. Hakam menolehkan kepala pada Rubi yang terlihat asik menatap sekitar.

"Mau di sini dulu?"

Rubi menoleh pada Hakam, kemudian mengangguk. "Iya, gue mau ngadem di sana." tunjuknya pada sebuah ayunan yang tertutup rimbun pohon.

Bibirnya mengerucut seketika, membuat Hakam merenggut.

"Tau gitu gue bawa buku," cicitnya.

Hakam menghampiri sepupunya. "Mau gue ambilin?" tawarnya.

Rubi langsung menggeleng, "gak usah! Gue cuma ngomong doang." Ya kali dia tega menyuruh Hakam balik lagi ke rumah yang jaraknya lumayan ini. Lagipula ia tidak mau ditinggal sendiri.

Tunggu! Rubi segera mengenyahkan pikirannya.

"Lagian gue gak mau ditinggal sendirian." cetusnya. Rubi tidak bisa menahan segalanya di kepalanya.

Hakam mengerjap beberapa kali tanpa mengalihkan tatapannya ke Rubi yang sedang mengayunkan kakinya di ayunan. Hijabnya bergerak tertiup angin pagi yang sangat segar.

Pemandangan yang dapat memanjakan mata Hakam. Tersadar, Hakam segera beristighfar dan segera melihat ke lain arah.

Selagi menunggu Rubi puas bermain di taman, Hakam memilih untuk merebahkan tubuhnya di bangku panjang. Sebelah lengannya ia gunakan untuk menutupi area matanya. Jaraknya dengan Rubi tidak jauh. Senandungan Rubi pun masih bisa didengar.

"Kam?"

Hakam menjawab dengan gumaman panjang.

Rubi meneruskan ucapannya, "lo mau nikah umur berapa tahun?"

Hakam bergeming, lalu menjawab." Secepatnya." jawabnya tanpa merubah posisi.

Rubi membulatkan mulutnya seraya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi gue gak liat ikhtiar lo buat ta'arufan."

"Ada, lo nya aja yang gak tau."

Rubi meringis, entah kenapa. Dia kembali meneruskan ucapannya.

"Pokonya, lo harus kasih tau gue kalo lagi proses ta'arufan."

"Buat apa?"

Rubi menatap Hakam yang masih betah di posisinya.

"Ya karena gue keluarga elo, Hakam." jawab Rubi dengan penekanan.

Hakam mengangkat lengannya, matanya mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Kemudian sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Rubi yang juga menatapnya.

"Gak usah diperjelas kali." balas Hakam. Kini ia mendudukkan tubuhnya. Kepalanya tertunduk seraya berucap. "Tanpa lo minta juga, nanti gue bakal kasih tau." Hakam bangkit, meregangkan otot tubuhnya yang sedikit kaku. "Seperti kata lo, kita itu keluarga." sambungnya.

Rubi termenung di ayunan. Helaan napasnya terdengar. Ia segera bangkit saat melihat Hakam yang berlalu meninggalkannya.

"Tunggu, Kam! Mau ke mana?" pekik Rubi segera menyamakan langkah.

"Pulang." katanya, lalu menatap Rubi sekilas. "Lo udah puas 'kan?"

Rubi mengangguk saja sebagai respon dari pertanyaan Hakam yang menurutnya terdengar ambigu. Karena kebanyakan melamun, langkahnya tertinggal jauh dengan Hakam.

"Hakam tunggu!" teriaknya.

Hakam menghentikan langkahnya tanpa berbalik. Kemudian ia menyahut santai.

"Iya."

***

Ternyata, jalan-jalan ke taman tidak dapat mengurangi rasa bosan Rubi. Gadis itu terus merengek pada orang di dekatnya.

BAHTERA HARU [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang