Rubi menatap Ummah Jian dan Buya Azhar dengan raut serius. Ia masih sulit menerima bahwa selama ini keluarganya menahan sesuatu. Namun, berbeda dengan yang Hakam rasakan, hatinya tetap tenang—tidak ada perasaan cinta yang terselip. Bagi Rubi, Hakam hanyalah kakak sepupu yang ia sayangi, sosok yang selalu ada di sekitarnya.
“Jadi selama ini… kalian nutupin ini dari aku?” tanyanya, menahan nada emosi. “Kalian semua takut aku bakal… gimana?” nadanya melemah.
Ummah Jian menghela napas panjang. “Bukan begitu, Nak. Kita cuma… nggak mau kamu bingung atau salah paham. Hakam punya perasaan… tapi itu cinta yang nggak boleh dia ungkapkan. Kita cuma ingin melindungi kalian berdua dari hal-hal yang bisa menyakiti hati kalian.”
Rubi mengerutkan alis. Ia merasa aneh. Ia tidak pernah berpikir tentang hal romantis antara dirinya dan Hakam. “Perasaan dia? Maksud Ummah gimana? Aku nggak pernah ngerasa sama sekali,” ujarnya, suaranya tenang tapi tegas.
Buya Azhar menatapnya, raut wajahnya serius tapi lembut. “Itulah masalahnya, Nak. Hakam sendiri berjuang dengan perasaannya. Dia pergi ke Singapura bukan buat ninggalin kamu, tapi buat menenangkan hati dan belajar menahan rasa yang nggak boleh dia teruskan. Dia tahu kamu nggak akan membalas perasaannya, jadi dia memilih pergi daripada membuat situasi menjadi salah.”
Rubi menundukkan kepala, menahan senyum tipis. Hatinya campur aduk—penasaran, sedikit prihatin, tapi juga lega. Ia tidak memiliki perasaan cinta, tapi kini ia mulai memahami perjuangan Hakam. Cinta itu nyata, tapi sepihak. Dan Hakam memilih pergi demi kebaikan semua pihak, termasuk dirinya.
“Jadi… selama ini dia berjuang sendiri, dan aku bahkan nggak sadar,” gumam Rubi. Suaranya pelan, hampir untuk dirinya sendiri. Ia merasa ada beban kecil yang dilepas, tapi juga ada rasa iba yang tak bisa diungkapkan.
Ummah Jian tersenyum, menepuk pundaknya. “Ya, Nak. Kadang cinta itu nggak selalu harus dibalas. Yang penting, kita belajar memahami dan menghargai perjuangan hati seseorang. Hakam memilih jalan yang benar—dan kita harus mendukungnya.”
Rubi mengangguk pelan. Di dalam hatinya, ia memutuskan untuk tidak ikut campur, tapi akan tetap memperhatikan Hakam dari jauh. Bagi Rubi, Hakam tetap kakak sepupu yang ia sayangi, dan ia menghormati pilihan serta perjuangan Hakam, meski ia sendiri tidak memiliki rasa yang sama.
Di Singapura, Hakam menatap lampu kota dari balkon kosnya. Ia tidak tahu bagaimana Rubi akan bereaksi jika ia benar-benar tahu isi hatinya. Ia tersenyum tipis, menahan rasa yang tertahan, menundukkan kepala, dan berdoa: agar ia tetap kuat, agar hatinya tetap lurus, dan agar cinta yang tak pantas ini tetap dijaga dalam batas yang diridhoi.
Dan di dua tempat yang berbeda, satu hal tetap jelas: cinta Hakam nyata, tulus, dan berat untuk ditahan, sementara Rubi tetap polos dalam kasih sayangnya—hanya sebagai kakak sepupu. Jarak, rahasia, dan perasaan yang tak terbalas menjadi ujian yang tak mudah bagi hati Hakam.
***
Hari-hari Hakam di Singapura mulai terbiasa dengan rutinitas baru. Setiap pagi, ia bangun lebih awal, menatap langit kota yang sibuk, dan melangkah ke kampus dengan langkah mantap. Aktivitas kuliah, tugas yang menumpuk, dan interaksi dengan teman-teman baru menjadi cara Hakam menyalurkan energinya, sekaligus menahan perasaan yang terus bergejolak.
Meski tampak tenang dan cuek di luar, hati Hakam bergetar setiap kali ia teringat Rubi. Ia menahan rindu yang tak pantas, menahan perasaan yang ia tahu salah jika diteruskan. Di malam hari, setelah semua aktivitas selesai, Hakam menundukkan kepala di tepi tempat tidur, menyalakan lampu meja kecil, dan berdoa:
“Ya Allah, kuatkan hatiku. Jadikan aku mampu menahan perasaan yang tak seharusnya ini. Lindungi Rubi, dan bimbing aku menjalani jalan yang benar.”
Doa itu menjadi tempatnya melepaskan segala gelisah. Setiap kali kata-kata itu keluar dari hati, ada ketenangan yang masuk, walau rasa rindu tetap hadir, tak bisa sepenuhnya hilang. Hakam sadar, ini bukan sekadar ujian perasaan, tapi ujian iman—bagaimana ia bisa mengendalikan diri dan menempatkan cinta di batas yang diridhoi.
Sementara itu, di Indonesia, Rubi mulai aktif mencari tahu kehidupan Hakam. Ia membuka media sosial, menghubungi teman-teman Hakam, bahkan sesekali menanyakan kabar secara halus kepada keluarganya. Ia tidak memiliki rasa cinta, tapi rasa penasaran dan kepedulian membuatnya ingin tahu lebih banyak.
“Kayaknya Hakam bener-bener serius sama kuliahnya di sana,” gumam Rubi sambil menatap layar ponselnya. Ia tersenyum tipis melihat foto Hakam bersama teman-teman kampusnya, terlihat santai namun fokus. “Untung dia bisa jaga diri dan nggak bikin masalah. Gue cuma pengen dia baik-baik aja.”
Rubi tidak menyadari bahwa di balik ekspresi cuek itu, Hakam selalu menatap setiap kabar atau foto darinya dengan hati yang gelisah. Ia ingin tahu bagaimana Rubi bereaksi, tapi ia tetap menahan diri, tidak mengirim pesan, tidak menelpon—karena ia tahu, terlalu dekat akan membuatnya gagal menahan perasaan yang tak pantas.
Hari-hari berlalu dengan pola yang sama: Hakam belajar, berdoa, dan menahan rindu, sementara Rubi diam-diam memperhatikan dari jauh, tanpa mengetahui bahwa rasa yang ia anggap biasa bagi Hakam begitu berat untuk ditahan. Jarak mereka menjadi saksi perjuangan hati—Hakam yang menyembunyikan cinta terlarang, dan Rubi yang polos, hanya ingin memastikan sepupunya baik-baik saja.
Di setiap malam yang sepi, hujan jauh di kota asal mereka tetap menjadi pengingat: cinta Hakam tulus tapi tak terbalas, sementara kesabaran, doa, dan keimanan menjadi satu-satunya penguatnya untuk tetap berada di jalan yang benar.
***
Suatu sore, di ruang perpustakaan kampus, Hakam sedang sibuk menelaah jurnal-jurnal akademik. Lampu putih menyinari meja panjang, sementara suasana hening hanya dipecahkan oleh bisikan beberapa mahasiswa. Hakam menatap layar laptop, sesekali menulis catatan, tampak fokus. Namun di balik sikap cuek itu, hatinya tetap kosong, terus memikirkan Rubi.
“Tolong bantu gue sedikit, Hakam?”
Hakam menoleh, sedikit kaget. Di depannya berdiri seorang teman sekelas baru, Nadira, mahasiswa dari jurusan yang sama. Senyum ramahnya menembus keheningan perpustakaan. Nadira duduk di seberangnya, membuka laptop, dan mulai menunjukkan beberapa catatan yang berkaitan dengan tugas kelompok mereka.
Hakam mengangguk pelan, tetap cuek di luar. “Oke, gue liat sebentar.”
Selama beberapa menit, mereka berdiskusi. Nadira terlihat cerdas, antusias, dan mudah diajak bicara. Ia sesekali menatap Hakam dengan rasa ingin tahu, bahkan tersenyum hangat ketika Hakam menjelaskan sesuatu dengan singkat tapi tepat.
Hakam menahan rasa yang muncul—sekejap saja, pikirannya tersesat, membayangkan interaksi yang ringan tapi hangat. Ia menutup matanya sebentar dalam hati, menegur diri sendiri: “Ini cuma teman. Rubi masih di rumah. Lo nggak boleh terjebak.”
Setiap kali Nadira tertawa atau mengangguk saat ia menjelaskan sesuatu, hati Hakam bergetar. Ia sadar, ujian batin ini tidak hanya soal menahan rindu terhadap Rubi, tapi juga menjaga diri dari perasaan yang bisa muncul terhadap orang lain. Nadira polos, baik, tapi ia tahu hatinya tidak boleh tertipu.
“Lo baik banget ya, Hakam. Gue seneng bisa belajar sama lo,” kata Nadira, tersenyum tulus.
Hakam hanya tersenyum tipis, cuek di luar. “Iya, santai aja.”
Namun begitu Nadira pergi, Hakam menundukkan kepala, menepuk dadanya, dan berdoa dalam hati:
“Ya Allah, lindungi hati ini. Jangan sampai gue tersesat, jangan sampai gue melupakan jalan yang benar. Jaga Rubi, jaga diri gue, dan tuntun gue agar selalu kuat.”
KAMU SEDANG MEMBACA
BAHTERA HARU [On Going]
SpiritualCinta bisa datang dari arah yang tak terduga, bahkan dari orang yang selalu dekat dalam lingkaran keluarga. Hakam selalu menyimpan perasaan pada Rubi, sepupunya sendiri. Namun, keyakinannya pada batas-batas syariah membuatnya menahan diri, menatap c...
![BAHTERA HARU [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/344100800-64-k400170.jpg)