Pesawat menderu pelan di landasan, dan Hakam menatap jendela kabin. Kota yang baru saja ia tinggalkan kini tampak mengecil, dipenuhi atap-atap rumah basah dan jalanan yang masih mengkilap karena hujan. Di kursi sebelahnya, penumpang lain sibuk dengan tablet dan telepon, tapi Hakam tetap diam, menatap jauh ke horizon.
Di dalam hatinya, perasaan campur aduk berputar cepat. Ia cuek di luar, mengirimkan senyum tipis ketika pramugari menawarinya minuman, tapi di dalam, setiap detik pergi dari Rubi terasa seperti merobek sesuatu yang tak bisa ia pulihkan. Ia mencintai Rubi—tidak hanya mencintai, tapi terjebak dalam obsesi yang tak bisa ia akui. Ia tahu, Rubi adalah sepupunya, dan itu membuat semua perasaan itu salah. Maka ia pergi, berusaha menekan setiap rasa yang ada.
“Kenapa gue malah ngerasa sesak gini,” gumam Hakam di dalam hati, menatap jendela kabin. Kota yang menjauh bukan sekadar jarak fisik, tapi juga jarak yang ia ciptakan untuk hati sendiri.
Sementara itu, di rumah, Rubi duduk di kamar, menatap handphone yang ia pegang tanpa benar-benar memperhatikannya. Rasa kehilangan mulai merayap perlahan. Hati kecilnya bertanya-tanya: apa sebenarnya yang Hakam sembunyikan? Mengapa perpisahan kali ini terasa berbeda, begitu berat?
Di Singapura, Hakam mendarat di bandara Changi dengan ekspresi tetap cuek. Terminal yang luas, lampu-lampu terang yang memantul di lantai marmer, suara pengumuman yang berulang—semua tampak biasa bagi penumpang, tapi bagi Hakam, setiap langkah terasa berat. Ia menyeret koper dan tasnya dengan langkah mantap, berusaha menahan getaran perasaan yang sebenarnya ingin ia lepaskan.
Ia menatap orang-orang di sekitarnya: mahasiswa yang tampak bersemangat, wisatawan yang sibuk dengan kamera, keluarga yang bertemu kembali dengan penuh canda. Semua tampak ringan, sementara hatinya penuh kepenatan. Ia ingin menatap Rubi sekali lagi, mengucapkan apa yang tak bisa ia katakan, tapi ia tahu itu mustahil.
***
Di kamar kost yang ia sewa sementara, Hakam menutup jendela dan duduk di tepi tempat tidur. Di layar laptopnya, daftar mata kuliah, jadwal, dan tugas-tugas yang menunggu terasa menjemukan. Tapi semua itu hanya pelarian—cara untuk mengalihkan pikirannya dari satu orang yang terus menghantui setiap sudut hatinya: Rubi.
Hakam menutup mata sejenak, menelan napas panjang. Ia harus melupakan, harus menekan rasa yang tak pantas ia miliki. Setiap detik jauh dari Rubi terasa pahit, tapi itu satu-satunya cara agar ia tidak terjerat dalam cinta yang salah.
Di sisi lain dunia, Rubi menatap kalender di dinding, menghitung hari-hari sejak Hakam pergi. Ada perasaan cemas yang tak bisa ia jelaskan—seolah ada sesuatu yang tertinggal, sesuatu yang Hakam sembunyikan darinya. Hatinya menuntut jawaban, tapi ia takut bertanya, takut jawaban itu menghancurkan kenyamanan yang masih tersisa.
Dan di dua tempat yang berbeda itu, satu hal tetap sama: jarak fisik tercipta, tapi hati tetap saling menempel, terikat oleh rahasia dan cinta yang tak bisa diungkapkan. Hakam cuek di luar, tapi terbakar di dalam. Rubi bingung di sini, tapi hatinya mulai merasakan kekosongan yang tak bisa dijelaskan.
***
Rubi duduk di meja belajar, tangan menatap kosong ke laptop yang mati, layar yang tak menampilkan apapun seolah mencerminkan pikirannya sendiri: kosong, penuh pertanyaan yang tak terjawab.
Setiap kali ponselnya bergetar, hatinya berdegup lebih cepat, berharap itu kabar darinya. Tapi yang datang hanyalah pesan-pesan biasa, iklan, atau notifikasi dari aplikasi yang tak penting. Hati Rubi perlahan menuntut jawaban yang tak berani ia tanyakan langsung.
“Kenapa gue ngerasa… kehilangan dia gitu aja?” gumamnya pelan. Suara itu nyaris tenggelam oleh hujan yang mulai turun lagi di luar jendela. Tetesan air mengalir di kaca, menetes pelan, seakan meniru perasaannya yang tak tentu arah.
KAMU SEDANG MEMBACA
BAHTERA HARU [On Going]
SpiritualCinta bisa datang dari arah yang tak terduga, bahkan dari orang yang selalu dekat dalam lingkaran keluarga. Hakam selalu menyimpan perasaan pada Rubi, sepupunya sendiri. Namun, keyakinannya pada batas-batas syariah membuatnya menahan diri, menatap c...
![BAHTERA HARU [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/344100800-64-k400170.jpg)