20

84 9 3
                                        

Sudah seminggu ini kota terus-menerus diguyur oleh hujan. Bahkan dibeberapa daerah ada yang terdampak banjir, entah disebabkan oleh hujan lokal ataupun tanggul yang jebol.

Di tengah derasnya hujan, orang-orang tidak mesti mengurungkan niatnya untuk menjalani hari seperti biasa. Mereka tetap dipaksa untuk beraktivitas karena memang perlu. Di antaranya banyak yang mengeluh merasa kesulitan, sebagian lagi merasa senang karena turunnya rezeki dari yang Mahakuasa.

Ditatapnya jutaan tetes air yang jatuh ke permukaan kolam itu dengan pikiran yang menerawang jauh. Suara hujan seperti melodi yang menenangkan.

"Kam?"
"Lo dengerin gue gak?"

Hakam tersentak dengan menolehkan kepalanya. "Kenapa?" tanyanya setelah mengusap wajahnya yang sedikit terkena tampias hujan.

Ejaz mendengus. Meredam rasa kesalnya dengam menyeruput secangkir kopi yang asapnya masih mengepul. Ia menyilangkan kakinya di lantai gazebo. Kemudian mengamati temannya. Ditatapnya wajah yang sudah ditumbuhi oleh rambut tipis itu. Ck! Bahkan temannya itu tidak sempat mengurus diri.

"Lo mending tidur sekarang deh, udah gak bener kalo diterusin."

Hakam terkekeh dengan perkataan Ejaz karena terasa benar. Tanpa berkata lagi, Hakam merebahkan tubuhnya perlahan, menutup matanya berusaha masuk ke alam mimpi.

Dua menit setelahnya, Hakam betulan sudah terlelap. Ejaz yang melihat itu mendecak sinis. "Malam dijadiin siang, siang dijadiin malam."

Terhitung hampir dua bulan, Ejaz merasa bahwa Hakam sedang gila-gilanya. Bagaimana tidak? Dia bekerja seperti robot. Awalnya, Ejaz tidak tahu alasan kenapa Hakam sangat sering bertemu dengan dosennya. Sudah mirip dengan sekretaris direktur.

Setelah satu bulan, mungkin itupun karena kapasitas kemampuannya sudah tidak menampung lagi, akhirnya Hakam bercerita kepada Ejaz serta meminta bantuannya. Tentu awalnya Ejaz merasa kesal, tapi tidak serta merta dirinya tidak ikut membantu kan?

Untuk perizinan, Hakam sudah berbicara dengan orang tuanya. Awalnya mereka setuju-setuju saja karena Hakam sudah dewasa dan yakin bisa menentukan sendiri jalan pilihannya asal tidak keluar dari jalur yang salah.

Rubi? Apa harus, Hakam memberitahu Rubi? Toh nanti pun ia akan tahu sendiri dari orang tuanya.

Ejaz mengambil laptop yang masih menyala ke hadapannya, kemudian meneruskan tugas Hakam sebisanya. Untuk Ejaz, oh tidak mungkin dirinya meninggalkan orang tuanya. Apalagi jauh dari mama tercintanya.

Dua jam berkutat dengan laptop Hakam, Ejaz merasa pusing. Ia memilih untuk sarapan dulu walaupun hari sudah hampir siang. Padahal sejak tadi makanan sudah tersedia di meja gazebo. Mamanya yang menyuruh pembantu menyediakan makanan serta minuman. Apalagi saat Hakam menginap di rumahnya sejak dua hari lalu, mamanya semangat memasak jenis camilan apapun.

Erangan dari Hakam membuat Ejaz menoleh, ia tengah menikmati makanannya seraya menonton video di laptop.

"Makan dulu, lo."

Hakam mengucek matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Kemudian bertanya dengan suara serak. "Jam berapa?"

"Bentar lagi jam 11."

Hakam bangkit meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian turun dari gazebo. "Gue mau mandi dulu."

Sambil berlalu ke kamar mandi, Hakam melirik layar laptop. Hanya terdengar suara perempuan yang banyak bicara, sepertinya tengah bercerita.

"Nonton apa sih?"

Ejaz menjawab dengan nasi yang masih penuh di mulutnya. "Nadia Omara."

***

BAHTERA HARU [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang