23

20 5 0
                                        

Hari-hari Hakam di Singapura dimulai dengan ritme yang padat. Setiap pagi, ia bangun lebih awal, menatap jendela kamar kos yang menghadap jalan kota penuh gedung tinggi dan hiruk-pikuk lalu lintas. Udara kota terasa berbeda—kering, penuh aroma kopi dari kafe, dan suara langkah kaki pejalan yang tergesa-gesa. Semua terasa asing, tapi Hakam menyambutnya dengan sikap cuek.

Kuliah dimulai, dan Hakam berusaha fokus. Di kampus, ia duduk di antara mahasiswa lain, mengikuti dosen, mencatat, dan sesekali mengerjakan tugas kelompok. Tapi di balik sikap tenang itu, pikirannya selalu melayang ke Rubi. Setiap detik, bayangan Rubi hadir: wajahnya, senyum tipisnya, ekspresi penasaran yang masih membekas di hati Hakam.

Ia mencoba mengisi hari-harinya dengan aktivitas—perpustakaan, olahraga ringan, berjalan di sekitar kampus—tapi setiap kali sendirian, rasa sepi menghantamnya. Hakam sadar, pergi ke Singapura bukan sekadar studi; ini adalah pelarian dari sesuatu yang lebih besar, dari perasaan yang ia tahu tak boleh ia akui.

Di kos, malam menjadi waktu paling berat. Lampu jalan di luar jendela menyinari kamar sederhana itu, bayangan gedung tinggi menempel di dinding. Hakam menatap laptopnya, daftar tugas menumpuk, tapi ia tak bisa benar-benar fokus. Hatinya masih gelisah, terikat pada Rubi yang kini jauh di rumah.

“Kenapa gue malah kangen sama Rubi?” gumamnya di dalam hati, tangannya menepuk meja. Ia menutup mata sejenak, menahan rasa yang ingin meledak. Hakam tahu, ia harus melupakan—tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk menjaga hati dan prinsip. Ia mencintai Rubi, tapi cinta itu salah jika diteruskan. Maka ia memilih menjauh, walau setiap langkah terasa pahit.

Di kampus, Hakam mulai berinteraksi dengan teman baru. Mereka ramah, membantu, tapi Hakam tetap menjaga jarak. Ia hanya menerima percakapan ringan, tidak membuka terlalu banyak tentang dirinya. Teman-temannya mengira ia orang cuek, tapi kenyataannya, Hakam sedang berperang dengan hati sendiri.

Hidup di Singapura mengajarinya banyak hal: disiplin, tanggung jawab, dan kesendirian. Ia belajar menahan rindu, menyalurkan energi ke belajar, dan mencari ketenangan melalui doa. Setiap malam, setelah semua kesibukan selesai, Hakam menundukkan kepala, meminta petunjuk dan kekuatan dari Yang Maha Kuasa—agar hatinya tetap kuat, dan ia bisa menjalani jalan yang diridhoi, meski berat.

Di sisi lain, jauh di Indonesia, Rubi semakin gelisah. Ia mulai menelusuri petunjuk kecil, percakapan keluarga, dan hal-hal yang membuatnya yakin bahwa Hakam menyembunyikan sesuatu. Tanpa disadari, jarak yang memisahkan mereka semakin memperjelas betapa besar perasaan yang tersimpan—meski Hakam berusaha menutupnya, Rubi perlahan mulai merasakan kehilangan yang mendalam.

***

Rubi duduk di ruang tamu, menatap meja yang penuh dengan foto-foto keluarga dan dokumen lama. Hatinya terasa berat, campuran penasaran dan gelisah yang tak bisa ia bendung. Setiap kali keluarga menyinggung Hakam, ada nada yang terasa aneh—seakan mereka sengaja menahan sesuatu darinya.

Ia menatap Ummah Jian yang sedang menyiapkan teh. “Ummah… sebenernya Hakam sekarang gimana? Kalian semua pasti tau banyak hal…” suaranya pelan, tapi cukup tegas untuk menarik perhatian.

Ummah Jian menoleh sebentar, tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala. “Rubi… semua baik-baik aja.”

Rubi menahan napas, hatinya berdebar. Ada sesuatu di balik jawaban itu. Nada lembut itu bukan sekadar perhatian, tapi seperti menutup celah informasi. Ia menatap Buya Azhar, yang hanya tersenyum sambil mengangguk. Bahkan Shaka tetap asyik dengan ponselnya.

“Kenapa mereka semua… kayak takut bilang apa-apa?” gumam Rubi dalam hati. Rasa penasaran mulai berubah menjadi tekad. Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Hakam.

Malam itu, Rubi diam-diam membuka lemari arsip keluarga, mencari catatan lama, surat, atau hal-hal yang mungkin bisa menjawab pertanyaannya. Hatinya berdebar setiap kali menemukan dokumen yang berkaitan dengan Hakam—foto masa kecil, catatan sekolah, bahkan surat-surat Hakam yang ditinggalkan di rumah. Semua ini memberi petunjuk kecil, tapi cukup untuk menyalakan api penasaran yang tak terbendung.

Sementara itu, di Singapura, Hakam duduk di tepi tempat tidur, menatap laptopnya yang menampilkan jadwal kuliah dan tugas-tugas menumpuk. Meski tampak fokus pada studi, pikirannya selalu melayang ke Rubi. Ia menghela napas panjang, menatap lampu kota yang terlihat dari jendela.

“Gue harus bisa lupakan, Hakam… ini satu-satunya cara,” gumamnya, menutup mata sejenak. Ia tahu cinta ini salah, cinta pada sepupu sendiri yang tak bisa ia miliki. Maka ia memilih menjauh, menyalurkan energi ke belajar, dan menenangkan hati melalui doa.

Namun, setiap malam, rindu itu tetap datang—lebih kuat dari sebelumnya. Hakam menahan diri untuk tidak menghubungi Rubi, takut perasaan itu kembali menguasainya. Sementara Rubi, di rumah, mulai merasakan bahwa ada hal besar yang disembunyikan darinya—dan ia bertekad mencari jawaban, apapun risikonya.

Di dua tempat yang berbeda, satu hal terasa jelas: jarak fisik memisahkan mereka, tapi hati mereka tetap terikat oleh rahasia, rindu, dan cinta yang tak boleh diungkapkan. Dan rahasia itu perlahan mulai menggerogoti ketenangan Rubi, membuatnya semakin penasaran dan gelisah setiap harinya.

***

Malam itu, Rubi duduk di kamar, lampu meja menyinari wajahnya yang tegang. Ia memegang tumpukan dokumen dan foto-foto lama yang sempat ia temukan di lemari arsip keluarga. Jantungnya berdetak cepat. Ada sesuatu di antara dokumen itu—surat lama dari Hakam, catatan perjalanan, bahkan tiket yang menunjukkan kepergiannya ke Singapura—yang membuat Rubi mulai menyadari bahwa selama ini keluarganya menahan informasi penting darinya.

Ia membuka surat yang ditulis Hakam beberapa bulan lalu. Kata-kata di sana sederhana, tapi ada nada hati yang jelas terselip: tentang ketidaknyamanan Hakam dengan perasaannya sendiri, tentang keinginannya untuk pergi demi menenangkan hati, dan… tentang Rubi. Rubi menelan ludah, napasnya tersengal. Selama ini, ia tidak pernah menyangka bahwa sikap cuek Hakam di bandara dan jarak yang ia ciptakan bukan karena acuh tak acuh, tapi karena perjuangan batin yang berat.

“Jadi selama ini… Hakam… nggak pernah mau bilang ke gue karena…?” gumam Rubi, suaranya hampir tersedak oleh perasaan yang campur aduk. Ada rasa marah karena keluarganya menahan informasi, tapi ada juga rasa hangat dan rindu yang perlahan muncul.

Ia menatap foto Hakam saat kecil, tersenyum tipis, namun hatinya bergetar. Rubi mulai memahami bahwa ada rahasia yang selama ini tersembunyi, dan rahasia itu bukan tentang ketidakpedulian Hakam, tapi tentang cinta yang tak boleh ia ungkapkan.

Sementara itu, di Singapura, Hakam duduk di balkon kosnya, menatap lampu kota yang berkelap-kelip. Ia menundukkan kepala, menahan perasaan yang ingin ia kirimkan ke Rubi. Setiap malam, ia berdoa, memohon kekuatan dari Yang Maha Kuasa agar hatinya tetap teguh, agar rasa cinta yang terlarang ini tidak menghancurkan dirinya atau Rubi.

“Gue harus kuat. Gue nggak boleh bikin Rubi… terluka,” gumamnya, menepuk dadanya pelan. Namun di dalam hati, rindu itu tetap menggelora, semakin sulit ditekan.

Di dua tempat yang berjauhan, konflik batin semakin tajam. Rubi kini mulai curiga bahwa keluarganya sengaja menyembunyikan sesuatu, dan rasa penasarannya makin membakar. Hakam, di sisi lain, berusaha menahan cinta yang ia tahu salah—tapi setiap detik jauh dari Rubi justru membuatnya semakin terpaut pada sepupunya sendiri.

Hujan yang turun di kota mereka, meski berbeda tempat, seakan menjadi saksi bisu: cinta, rahasia, dan rindu yang tak bisa mereka ungkapkan tetap saling mengikat, menunggu saat yang tepat untuk menemukan jalannya.

BAHTERA HARU [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang