21

26 4 0
                                        

Suasana hujan di luar jendela membuat ritme tetesan air terdengar lebih jelas, tapi Hakam tampak tak terlalu peduli.

Rubi menatapnya, alisnya berkerut. "Hakam… lo serius mau ke Singapura minggu depan? Lo nggak bilang apa-apa sebelumnya."

Hakam mengangkat bahu, seolah itu hal paling biasa di dunia. "Ya, gue pergi. Ada urusan di sana. Lagian… gue juga butuh jauh dari sini sebentar." Suaranya tetap tenang, tapi ada nada yang tak bisa Rubi baca.

Rubi menatapnya lebih lama, hati mulai berdesir. "Jadi… lo cuma pergi begitu aja? Tanpa cerita sama gue?"

Hakam meneguk kopi seadanya, menatap cangkirnya sebentar. "Cerita buat apa? Gue pergi bukan buat lo ribet atau apa. Gue cuma… ya, ada hal yang harus gue urus sendiri."

Rubi merasakan ada jarak yang tiba-tiba begitu lebar di antara mereka. Ia ingin bertanya lebih jauh, ingin tahu apa yang sebenarnya ada di kepala Hakam, tapi rasa penasaran itu kalah dengan rasa kecewa. "Habis ini gue gimana? Lo… lo bakal ninggalin gue gitu aja?"

Hakam menoleh sebentar, tatapannya tetap datar, tapi matanya menahan sesuatu yang tak terucapkan. "Nggak ada yang ninggalin siapa-siapa, Rubi. Gue cuma… mau fokus sama diri gue dulu."

Rubi mengangguk pelan, tapi dalam hati ia tahu ada yang berbeda. Hakam selalu begitu cuek, tapi kali ini, ada sesuatu yang berat di matanya, sesuatu yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

Hakam bangkit, meregangkan tubuhnya yang tinggi ramping, menatap Rubi sekilas sebelum melangkah ke kamar untuk menata barang-barangnya. "Lo santai aja, gue nggak bakal bikin masalah di sini. Gue beresin semua dulu, baru pergi."

Rubi menahan napas. Ada rasa sakit yang aneh di dadanya, tapi ia tak tahu alasannya. Ia hanya merasa… kehilangan sesuatu yang bahkan belum pernah dimilikinya.

Hakam di balik sikap cueknya itu, diam-diam menelan rasa sakit yang lebih dalam. Ia mencintai Rubi—tidak, lebih tepatnya terobsesi dengan kehadiran Rubi di hidupnya. Tapi Rubi adalah sepupunya sendiri, dan itu membuat segalanya terasa salah, tak mungkin. Maka ia memilih pergi. Singapura bukan sekadar kesempatan, tapi pelarian. Pelarian dari perasaan yang tak boleh ia akui, pelarian dari cinta yang tak bisa ia punya.

Dan sementara hujan terus menetes di luar, Hakam menata kopernya, menahan getaran hati yang paling dalam. Rubi masih di dapur, tak mengerti, tak tahu, dan Hakam ingin tetap begitu. Cuek di luar, tapi hancur di dalam.

***

Pagi itu, hujan sudah reda ketika mobil mereka memasuki area parkir bandara. Udara lembap masih menyelimuti kota, dan aroma tanah basah menempel di pakaian. Hakam duduk di kursi belakang mobil, kedua tangan bersilang di dada, menatap jendela dengan tatapan kosong. Tak ada satu pun kata keluar dari mulutnya, seperti biasa.

Di depan, Ummah Jian duduk dengan tenang di sebelah Rubi, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan Hakam terlihat baik-baik saja. Buya Azhar, dengan jaket tebalnya, mengerutkan dahi setiap kali hujan menetes dari atap mobil. Shaka duduk di samping pengemudi, matanya tak henti-hentinya mengamati Hakam, meskipun ia mencoba bersikap santai.

Begitu mereka turun dari mobil, suasana bandara menyambut mereka dengan keramaian yang khas: suara pengumuman penerbangan, roda koper yang beradu lantai, dan aroma kopi dari kafe di dekat pintu masuk. Hakam berjalan di depan, langkahnya datar dan tenang, sesekali mengangkat bahu ketika payung yang dibawa Ummah Jian hampir mengenai kepalanya.

Shaka menyusul di belakang, menatap Hakam sambil bergumam, “Santai banget ya elo. Kayak orang gak bakal pergi jauh aja.”

Hakam menoleh sekilas, ekspresinya tetap cuek. “Yaudah kan gue pergi juga, santai aja. Lo ribet amat.”

Rubi mengikuti di belakang, wajahnya tenang tapi hatinya campur aduk. Ia menatap Hakam dari sisi samping, mencoba membaca ekspresi yang selalu tampak tak bisa ditembus itu.

Mereka sampai di pintu keberangkatan internasional. Antrian penumpang cukup panjang, tapi Hakam tetap berjalan di depan dengan langkah yang stabil. Ummah Jian menepuk bahunya perlahan, seolah ingin menahan sesuatu. “Hakam, jangan lupa jaga diri. Kamu makan juga ya, sebelum terbang.”

Hakam mengangguk, santai. “Iya, Ummah. Tenang aja.”

Shaka menyeret koper Hakam ke mesin check-in, sementara Buya Azhar memastikan tiket dan paspor sudah siap. Hakam tetap diam, membiarkan semuanya berjalan sesuai rencana keluarga.

Setelah check-in selesai, mereka berjalan menuju ruang tunggu. Lampu-lampu neon memantul di lantai yang mengilap, suara pengumuman bergema di seluruh ruangan. Penumpang sibuk dengan koper, telepon, atau sekadar duduk menunggu. Hakam duduk di kursi panjang dekat jendela, menatap pesawat yang sudah siap lepas landas, wajahnya tetap cuek, tapi di matanya ada bayangan jauh: kenangan bersama Rubi yang tak bisa ia miliki.

Rubi duduk di samping Ummah Jian, tangannya menggenggam tas kecil. Ia menatap Hakam dari jauh, hati berdesir. Ia ingin menanyakan sesuatu, tapi kata-kata tertahan di tenggorokan. Ia hanya bisa menatapnya, merasakan jarak yang tak terlihat tapi sangat nyata.

Shaka duduk di sebelah Hakam, berusaha memecah keheningan. “Gue yakin lo bakal betah di sana. Jangan lupa kirim kabar, ya,” katanya sambil menyenggol bahu Hakam.

Hakam hanya mengangkat alis. “Ya, gue tau.” Suaranya tetap datar, tapi hatinya bergetar sedikit saat mendengar Shaka menyebut ‘kabarnya’. Setiap kata itu seperti pengingat akan hal-hal yang ia tinggalkan di sini—Rubi, keluarganya, dan segala sesuatu yang tak bisa ia miliki lagi.

Panggilan boarding terdengar. Hakam berdiri perlahan, memeriksa tiketnya sekali lagi. Ia menoleh ke arah Rubi, menatapnya sebentar tanpa berkata apa-apa. Rubi membalas pandangan itu, tapi matanya terlihat kosong—seolah menahan rasa yang belum ia pahami.

Ummah Jian menepuk bahu Hakam lagi, lebih tegas kali ini. “Jangan lupa, Nak. Jaga diri dan hati-hati. Kita semua doain kamu.”

Hakam tersenyum tipis, cuek di luar, tapi hatinya menahan semua perasaan itu. “Iya, Ummah.”

Saat Hakam berjalan menuju gate, Rubi berdiri diam, menatap sosok itu yang perlahan menjauh. Hujan mungkin sudah reda, tapi hati Rubi masih basah oleh rasa penasaran dan rindu yang belum terucap.

Dan di balik ekspresi cuek Hakam, hatinya menjerit pelan, sadar bahwa ia pergi bukan untuk meninggalkan, tapi untuk melupakan—melupakan Rubi yang tak mungkin ia miliki, meski setiap detik bersamanya terasa begitu berarti.

***

kangen nggak??

BAHTERA HARU [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang