Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Becky POV.
Hari ini aku tau, semua itu hanya halusinasi bagiku, bagaimana Freen, Pat, dan Bi Nan itu adalah kepribadian lain yang aku ciptakan.
Freen akan muncul jika tingkat kepercayaan dirimu sedang ada di level terendah, kesombongannya, rasa angkuh yang Ia ciptakan membuatku jauh dari sifat asliku.
Sementara Pat akan hadir di saat aku mengalami gejolak emosional yang berlebihan, sifat licik dan pemarahnya membuatku merasa kuat untuk diriku.
Terakhir aku menciptakan sosok Bi Nan yang lembut dan baik hati, Ia begitu perhatian, membuatku merasa menjadi orang paling baik sejagat raya.
Sementara sifat asliku adalah sosok wanita penakut yang tidak percaya diri, yang merasa selalu rendah dibandingkan yang lain, selalu berpikir berlebihan tentang tidak ada seorangpun yang menyukaiku.
Kepalaku begitu berisik untuk suara yang tidak pernah siapapun dengar, Aku sibuk dengan semua skenario yang aku buat sendiri, aku sulit membedakan keadaan nyata dengan halusinasiku, aku kesulitan mengendalikan emosiku, aku kesulitan menyampaikan semua maksud yang ada di pikiranku.
Dan di sinilah aku sekarang, dengan baju pasien rumah sakit jiwa, dengan semua obat penenang yang kembali aku konsumsi, bukan kali pertama, namun aku masih tidak terbiasa dengan kondisi ini.
Dengan tangan dan kakiku diborgol pada kedua sisi tempat tidurku, bagaimana mulutku disumpal dengan silikon yang aku tau fungsinya agar aku tidak menggigit lidahku lagi.
"Hallo. "
Suara itu, aku takut ini hanya halusinasiku, aku takut seseorang yang bersamaku saat ini yang mirip sekali dengan seseorang yang aku buat menjadi tokoh penting di dalam hidupku, namun jas dokternya, cara dia tersenyum, dan wajah yang sedikit jauh lebih dewasa dari Freen membuat ku lega, ini bukan hayalanku.
"Bagaimana keadaannya?"
"Apa saya sedang berhalusinasi?"
"Tidak, ah kenalkan, nama saya Flora, dokter kamu. "
"Apa kita seumuran dok?"
"Saya ijin periksa dulu ya, permisi. "
Perempuan dengan rambut dark brown itu tertawa, menaruh stetoskopnya di dadaku, memeriksa detak jantung dengan intens, namun yang aku lakukan hanya menyaksikan hal yang terjadi di hadapan ku, dia terlalu mirip.
"Umur saya 40 tahun, kamu masih 20'an kan?"
Aku dengan reflek mengangguk, lucu terlihat, membuatnya tak berhenti tersenyum ketika perhatiannya sepenuhnya tertuju kepadaku, aku malu, demi Tuhan.
"Panggilannya? F? Flo? Ra?"
"Flo, itu aja. "
"Dokter Flo?"
"Iya, Becbec. "
Kening ku berkerut, pasalnya panggilan itu hanya ayah ku yang punya, namun kali ini terdengar asing kala ada orang lain yang ikut menyebutkannya.