Tiga belas

3K 391 100
                                        

Sepanjang jalan yang hening, hanya suara nafasnya yang terdengar di telinga, tanpa sapaan, tanpa basa-basi, Ia berada di sini, tempat di mana dirinya duduk bersebelahan dengan Freen lagi setelah tidak ada pertemuan yang baik antara Mereka tadi pagi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Sepanjang jalan yang hening, hanya suara nafasnya yang terdengar di telinga, tanpa sapaan, tanpa basa-basi, Ia berada di sini, tempat di mana dirinya duduk bersebelahan dengan Freen lagi setelah tidak ada pertemuan yang baik antara Mereka tadi pagi.

"Kak?"

"Kau melihatnya kan?, mempermasalahkannya?"

"Bahkan selama pernikahan kita, kamu belum menyentuhku sedikitpun kak. "

Freen tertawa sinis, Ia bahkan tidak menatap Becky sedikitpun, hanya seringai panjang yang dirinya berikan untuk jawaban pertanyaan itu.

Tidak pernah ada niat sedikitpun untuk Freen melakukannya bersama Becky, karena sedari awal, perasaan mereka hanya berat sebelah, bahkan bukan miliknya, jadi apa yang harus Freen nikmati dalam hubungan ini? selain rasa benci yang bertumpuk di sana?.

"Bec, dari awal sudah aku katakan, kalau kita hanya sebatas menikah, aku sebagai suamimu dan kau sebagai istri, hanya sebuah peran, jadi kau tidak seharusnya melewati batasanmu. "

"Apa yang Pat berikan kepadamu sehingga kau mencintainya sedalam itu kak?"

"Tutup mulutmu, aku bersamamu hari ini bukan untuk bertengkar, kau terlalu menyusahkanku untuk segala hal, kau tau?"

"Apa kau terbebani dengan perasaanku kak?"

"Bahkan adanya kau membuatku terbebani. "

Air matanya mengalir sembari senyum mengembang pilu, Ia tidak pernah tau alasan apa lagi yang membuatnya bertahan sampai sejauh ini, kenapa dirinya terjebak dengan perasaannya sendiri, memilih untuk sakit dan hancur setiap hari.

"Apa kau mencintai Pat sebesar itu Kak?"

"Iya, iya, kalau itu yang ingin kau dengar. " Bentaknya kuat, Becky memejamkan matanya saat suara itu terdengar melengking di telinga, saat semesta dan kenyataan ini tak lagi berpihak kepadanya.

"Berhenti mengharapkan apa yang tidak akan pernah ditakdirkan untukmu Becky, berhenti. "

Diam, bahkan sampai mobil itu melaju kencang melebihi keberaniannya, Becky tidak lagi mengeluarkan suaranya. Rasanya terlalu terluka untuk hanya sekedar berbicara.

Di mana rumah yang ayahnya katakan waktu itu, tentang pulang dan menetap, Becky rasa semua ucapan ayahnya adalah bohong, saat Ia berharap jika Freen lah tempatnya untuk kembali, ternyata Ia malah mendapatkan penolakan besar walaupun hanya sekedar berteduh.

Dentuman pintu itu terdengar jelas di telinga, Becky masih berdiam diri di tempatnya, Ia terlalu takut untuk mengikuti wanitanya masuk ke dalam rumah yang sudah terlanjur suram untuknya.

"Masuk. " Sekali lagi suara itu terdengar marah, hubungan macam apa ini, kenapa harus serumit ini.

Langkahnya lemah menuju rumah itu, Ia terdiam saat matanya menangkap ada Pat di sana, duduk tenang dengan secangkir teh hangat dan beberapa kue kering di hadapannya, matanya terfokus kepada tab yang Ia genggam, kaca matanya, raut wajah seriusnya, jauh lebih baik dibandingkan dengan dirinya saat ini.

Otak Becky bekerja keras untuk sebuah rasa percaya diri yang terjun bebas, Patricia jauh lebih cantik dari dirinya, Pat adalah gambaran terbaik untuk seorang wanita, Ia sempurna, Ia pintar dan kreatif, semua orang menyukainya, karyanya dan bahkan senyumannya, Becky jauh terjatuh di bawah telapak kaki wanita itu.

"Pat. "

Wanita itu melihat ke arah suara dengan wajah datar, bahkan setelahnya pun tidak ada yang berubah, bahkan suara yang Becky inginkan sebagai jawaban saja tidak terdengar di telinga.

"Kamu ngapain di sini?" Ujarnya ragu-ragu.

"Kenapa aku gak boleh di sini?" suara yang sama datarnya dengan wajah gadis itu.

"Kamu datang sendiri?"

"Tidak, Freen menjemputku, kau dari mana saja? kenapa membuatnya marah dengan kabarmu?"

Semua hal yang terjadi dengannya bahkan hanya sebuah emosi untuk Freen, tidak akan ada rasa senang yang hadir jika itu tentangnya.

"Kamu seharusnya di rumah, kalau sakit ngapain jalan-jalan, nyusahin tau gak. "

Pat berbicara tanpa melihatnya, namun hati Becky mampu terluka begitu dalamnya, sepertinya, di manapun Ia berada, tidak akan pernah ada yang mampu menerimanya dengan tulus.

"Non Pat, kamarnya sudah siap. "

Bahkan Bi Nan, wanit itu masih dengan sangat jelas lebih menyayangi Pat dibandingkan dengan dirinya, terkadang Ia ingin egois, ingin diangap ada tanpa seorangpun yang akan membedakannya dengan yang lain.

"Bi. "

"Iya Non Bec?"

"Aku---

"Bi, Aku ingin tidur dengan Pat, tolong parfum kamarnya diganti vanilla ya, " suara Freen jauh lebih lembut dari sebelumnya, yang bahkan tidak sekalipun Aku dengan itu untukku.

"Sudah Non Freen, "

"Masakin ikan gurame goreng yang krispi ya Bi, Pat pasti mau makan itu. "

"Baik Non, untuk Non Becky sekalian?"

Wajah itu sumbringah mendengar namanya disebut, namun setelah itu Ia harus kembali menelan luka atas penolakan yang mungkin terdengar kecil tapi tidak untuknya.

"Tidak, Becky makan setelah kami, dan gurame hanya untuk Pat, Aku tidak membeli lebih. " Freen kembali berjalan menjauh dari Mereka, begitupun Bi Nan, seakan tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi pada hatinya, Mereka berlalu begitu saja.

Gawainya berdering, ada nama sang Ayah di sana, Ia selalu suka dengan suara bariton namun hangat terdengar olehnya, bagaimana perhatian kaku itu tertuju padanya, benar-benar membuatnya tenang.

"Hallo sayang, sudah ya, sekarang kamu harus sadar, kembali lagi, Ayah tunggu. " Panggilan itu terputus seiring tubuh itu melemah sempurna.

Ada yang memilih berjalan menjauh, untuk tau seberapa penting Ia untuk dicari

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ada yang memilih berjalan menjauh, untuk tau seberapa penting Ia untuk dicari.

Backburner (Freenbecky)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang