25. Mengejar Impian.

451 34 52
                                        

Masa depan masihlah panjang. Romansa cerita kita hanyalah bagian kecil darinya.

°
°


Sesuai yang dijadwalkan, setelah kelas 12 mengisi link pendaftaran jurusan dan kampus dalam seleksi jalur rapot atau SNBP, setelah sebulan lebih, hasil itu kemudian diumumkan.

Banyak ledakan tangis saat menerima hasilnya.

Tangis kebahagiaan karena lolos jalur rapot. Juga tangis kecewa saat dinyatakan gagal.

Pengumuman SNBP itu dikeluarkan tepat pukul 3 sore.

Bahkan empat sekawan itu sejak adzan Dzuhur berkumandang sudah standby di rumah Fandi. Merusuh dengan segala hal seakan menunggu pengumuman seperti menunggu waktu berbuka puasa. Saking asyiknya ngereog, barulah mereka membuka laman web SNMPMB setelah adzan Maghrib. Mengecek hasil.

"Gais, gue ada metode." ujar Ipul dengan wajah seriusnya. "Daripada kita deg-degan nunggu pengumuman ini, mending kita sholat Maghrib dulu nggak sih? Siapa tau ntar ada mukjizat."

"Mukjizat apaan?" tanya Dilan dengan muka absurd-nya.

"Ya siapa tau aslinya yang dapet merah, eh kitanya sholat, terus jadi biru. Mantep kan?" sahut Ipul cengar-cengir.

Warna merah di SNBP berarti gagal, sedangkan warna biru artinya lolos.

"Nggak gitu konsepnya, blok!" Fandi menjitaknya kuat-kuat. "Gue juga mau kalo dengan sholat dapet begitu!"

"Woi, ibadah ya ibadah dong!" seru Dilan menasehati kedua teman gebleknya itu. "Hakikat ibadah tuh niatnya buat Tuhan, bukan buat bisa lolos SNBP njir. Sesat kalian!"

Sementara Tama dan Gio yang memang hanya ikut merusuh tanpa ketar-ketir menunggu pengumuman, rebahan santai sambil nonton kontes dangdut di Indosiar.

"Kim Nassar! Kim Nassar! Kim Nassar!"

"Oppa! Kiyowok!"

"Sarangek!

"Anjay, sejak kapan Nassar jadi idol koreyah?" Dilan mengernyit melihat kedua temannya yang asik menggoyangkan pinggul di depan televisi. Menyanyikan lagu 'Seperti Mati Lampu' dengan gerakan brutal. Bikin siapapun muntah melihatnya.

"Lah, lu nggak tau Yedam milih hengkang dari grup buat ikut kontes dangdut?" ujar Tama menatap Dilan sinis. "Dia aja duet bareng Fildan."

"Yedam sapa lagi njir?!" Dilan melempar bantal ke arahnya.

"Woi, udah woi!" seru Fandi menghentikan kegiatan kawannya. "Ayok sholat dulu nyet! Tuh mesjid sebelah udah iqamah!"

"Pan, lu yang imamin yak!"

"Jangan gue. Gue belom siap jadi imam hidup kamu nanti."

"Gue cuma becanda ya anjing!"

Ke-empatnya bergegas meninggalkan ruang tamu untuk menunaikan sholat Maghrib bersama. Hanya ada Dilan sendiri di sana. Menonton TV, mengganti siaran sepak bola.

Pemuda sipit itu menghormati teman-temannya yang tengah sholat tak jauh dari ruang tamu dengan mengecilkan volume dan tidak membuat kegaduhan sedikitpun.

Sampai ke-empatnya selesai sembahyang, kini mereka memberanikan diri untuk membuka pengumuman SNBP.

"Ya Allah, bismillah." Ipul yang tengah membenahkan peci duduk bersila sembari menekan layar hpnya.

Saipul Abdurrahman.
Lolos Seleksi Nasional Berbasis Prestasi.
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Jurusan Sosiologi—Universitas Padjajaran.

LAKUNA.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang