Terima kasih untuk tiga tahun ini, kawan-kawan terbaik. Dan dia yang tentu saja menjadi bagian terindah, melengkapi setiap cerita masa SMAku.
° °
"Yakin atuh si Aden, tetep mau berangkat ini?"
Bik Imas berulang kali bertanya pada tuan mudanya yang keukeh ingin menghadiri acara pelepasan kelas 12. Wajah wanita paruh baya itu tidak bisa tidak khawatir, apalagi keadaan sang pemuda tidak sehat sepenuhnya.
"Ini terakhir, Bik Imas." Pemuda itu meraih jas hitamnya, tersenyum tipis. "Terakhir jadi murid SMA, saya harus tetep berangkat atuh. Ambil ijazah, abis itu pulang."
Ting!
Sebuah pesan terlihat di layar handphone-nya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pemuda tinggi jangkung itu tak bereaksi sama sekali. Dia menoleh pada Bik Imas yang mengantar hingga pintu utama, berpamitan singkat.
"Hati-hati ya, Den!"
Fandi mengangguk sebelum akhirnya masuk ke Bentley yang dikemudikan Pak Imron—sopir keluarganya. Perlahan keluar dari rumah besar itu dan melesat di jalanan Bandung pagi hari.
🍁
Tepuk tangan terdengar riuh saat kepala sekolah mengakhiri sambutan dalam acara pelepasan kelas 12 SMA Pilar Bangsa yang di selenggarakan di sebuah gedung serbaguna Bandung.
Diawali dengan anak paskib yang berjejer mengangkat tongkat bersilangan seperti dalam prosesi Pedang Pora, menyambut para siswa masuk. Dua orang berpasangan, laki-laki dan perempuan disusul belakangnya hingga seterusnya. IPA disebelah kanan dan IPS disebelah kiri. Perempuan memakai rok batik panjang dengan atasan kebaya. Untuk laki-laki memakai jas hitam.
Begitu sudah tiba di tempat duduk masing-masing, pembukaan diisi dengan berdoa terlebih dahulu lantas menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Pibasa. Kemudian ada sambutan Bapak Kepsek dan OSIS angkatan.
"Lu tadi gandengan sama siapa, met?" bisik Tama pada Fandi ditengah riuhnya tepuk tangan. Pasangan yang dia maksud adalah saat masuk tadi, dimana laki-laki dan perempuan adalah absen yang sama dari kelas yang berbeda, misal absen satu dari IPA 1 beriringan masuk dengan absen satu dari IPS 1 dan seterusnya.
"Nggak tau, nggak kenal." sahut Fandi berbisik juga. Pemuda itu menyingkap rambutnya ke atas, membuat pesonanya bertambah kali lipat. Banyak perempuan mencuri pandang ke arahnya.