Hari semakin petang. Matahari beranjak kembali ke peraduannya. Mereka bertujuh tengah berkumpul di ruang tengah. Hanya kegiatan biasa sebatas menonton TV sembari mengobrol sana – sini. Tuan Park baru saja pulang dari kantornya. Dia bekerja sebagai direktur salah satu perusahaan ternama di Busan.
"Jadi, kalian ingin menginap untuk sementara waktu di rumah ini?" tanya Tuan Park.
"Ne, appa. Sampai kami merasa keadaan sudah aman, kami akan kembali lagi ke Seoul. Sementara itu, mungkin kami bisa mencari tahu tentang peri La Fée ini." jawab Jimin.
"Setahu appa, peri La Fée adalah jenis peri paling berbahaya. Kenapa kalian ingin mencari tahu tentang mereka?" tanya Tuan Park. Dan pertanyaan itu sukses membungkam mulut Jimin. Ingin melindungi dunia adalah jawaban yang cocok. Di atas semua itu, ingin mengalahkan rasa takut juga jawaban yang cocok, setidaknya cocok bagi Jimin. Dan Jin mengambil alih percakapan dengan menjelaskan semua kepada Tuan Park, mulai dari peri yang membunuh dua puluh anak perempuan, mimpi buruk Jimin, juga terror yang terus menerus mereka alami.
Selesai Jin menjelaskan semuanya kepada Tuan Park, Tuan Park terdiam sesaat sebelum berkata, "Ah, arraseo. Baiklah, kalian bebas tinggal di sini sampai kapanpun kalian siap untuk kembali. Para peri itu tidak akan tahu kalian sudah pindah ke sini. Kalaupun mereka tahu, mereka tidak akan bisa melawan kita semua di sini dengan mudah. Di sini ada banyak senjata dan kalian tahu? Semua pelayan di sini telah dilatih secara khusus layaknya seorang Chasseur. Kalaupun peri – peri itu mengirim makhluk ciptaan mereka, kita tidak mudah untuk dilawan."Mereka semua yang ada di ruangan itu menatap Tuan Park. Mereka mendapati sebuah semangat di matanya. Mungkin hal itu disebabkan karena dia dan istrinya sudah pensiun menjadi seorang Chasseur, dan pemikiran tentang 'melawan-makhluk-mitos' membuatnya kembali bersemangat. Layaknya orang yang bangkit dari keterpurukan.
"Gomawo, appa. Gomawo, eomma." ucap Jimin.
"Cheonma. Nah, bagaimana kalau kita makan malam? Aku rasa makanan – makanan itu sudah siap di atas meja makan. Kajja!" ujar Nyonya Park.
"Kajja!" seru mereka bersamaan. Dan mereka beranjak menuju ruang makan.
*****
Satu minggu berlalu tanpa kejadian yang berarti. Mereka berlima telah menemukan kegiatan baru di sela – sela kegiatan 'berburu La Fée'. Jimin dan Jin yang sering disibukkan dengan play station milik Jimin. Bomi, Minah, dan Bora sering disibukkan dengan kegiatan berkebun yang, menurut mereka, menyenangkan.
Selain itu, mereka tidak melupakan tujuan utama mereka datang ke tempat itu. Untuk mencari ketenangan dan mencari informasi sebanyak – banyaknya mengenai keberadaan peri La Fée ini. Namun, mereka sama sekali tidak mengalami kemajuan. Selain karena sumber mereka hanya berasal dari satu buku, mereka sama sekali tidak punya data mengenai keberadaan sumber yang lain. Ada satu buku yang membahas tentang peri La Fée di perpustakaan milik keluarga Park, namun isi dari buku itu sama saja dengan sumber buku yang mereka punya.Selain itu, rupanya terror peri La Fée tetap berlanjut, meskipun tanpa insiden berdarah seperti yang terjadi satu minggu yang lalu. Dan hanya Jimin dan Minah yang mengalami terror ini. Seiring berjalannya waktu, mereka berdua seringkali mencium bau harum La Fée. Dan ketika mereka menanyakan hal ini kepada yang lain, semuanya menggeleng. Mereka mengaku mereka tidak pernah mencium bau itu.
"Apa kamu yakin ini bukan halusinasimu, Jimin – ah?" tanya Jin ketika Jimin sudah menanyakan hal yang sama sebanyak sepuluh kali sejauh ini.
"Bagaimana mungkin aku dan Minah noona mengalami halusinasi yang sama, hyung?" tanya Jimin. Jin pun terdiam karena dia setuju dengan Jimin. Bagaimanapun juga, dua orang berbeda mengalami halusinasi yang sama lebih dari satu kali adalah hal yang ganjil.
KAMU SEDANG MEMBACA
CHASSEUR (BTS FF)
FanfictionAda saat dimana dunia ini dikuasai oleh makhluk mitos dan legenda. Tugas seorang Chasseur lah untuk melindungi dunia dari genggaman mereka.
