2. Sahabat Somplak

43 3 0
                                    

Kata Emak, Jangan pernah percaya perasaan karena dia datang dan pergi tanpa permisi. Orang yang hidup dengan apa yang dirasakannya tidak akan pernah maju karena mereka selalu mengedepankan ego dan perasaan mereka sendiri di atas logika yang berlaku.

Tapi sepertinya tidak berlaku untuk si Melankolis tingkat 99.9/100 yang melekat pada kepribadianku ini. Aku bisa tiba-tiba mellow dan nangis melihat Cecak mencoba ber-autotomi dengan memutus ekornya.

"Kasihan ya... ekornya bisa numbuh lagi nggak sih? Patah begitu.. kayak hatiku..." Aku yang tiba-tiba mewek jelas membuat bingung teman-teman seperguruanku. Iya, perguruan Jomlo Nusantara.

Dan aku berakhir jadi bulan-bulanan geng ANSOS, para sahabat dekatku dari SMA. Siapa lagi kalau buka Tiara dan Celpi. Yang ini bukan Tiara Andini tapi Tiarawati Sudiradiharja. Meski namanya ningrat tapi kelakuan si mama muda berputra satu ini tidak menunjukkan keningratan yang hakiki. Waktu SMA aku hampir saja di bawa ke kantor polisi karena disangka maling ayam tetangga. Tentu saja kalau bukan Tiara yang mengajakku cabut dari sekolah. Kebetulan pagar sekolah kami langsung berbatasan dengan rumah warga. Tiara lupa menginfokan kalau rumah warga yang dimaksud adalah kandang ayam. Jadi tidak salah sih kalau warga meneriaki kami yang turun dari balik pagar ke pekarangan mereka yang penuh ayam itu dengan sebutan "Maling... Maling Ayam..."

Sepertinya sepatuku yang menginjak tai ayam sepanjang usaha pelarianku itu masih tersimpan di sudut ruang keluarga. Kata Mama, itu pengingat betapa nakalnya aku waktu SMA. Aku bergidik melihat sepatu itu dalam kotak kaca meski sudah tampak bersih. Iya, aku membersihkannya hampir seharian.

Begitu pula sejujurnya moodku naik-turun ketika menulis. Apalagi jika ini sudah tentang adegan romantis yang dituliskan di Novel. Aku menghentikan ketikanku berulang kali, mengernyitkan kening dan mencoba membayangkan sebisa mungkin siapapun yang bisa aku anggap sebagai Muse dari tokoh yang sedang kuciptakan.

Nihil.

"Hai guys, maafin baru banget selesai dari pertemuan Parenting Melvin di Kindergartennya. Baru mau pulang eh diajak rapat sama Mama-mama muda anggota Komite sekolahnya Melvin. Biasa, mau bikin arisan Tupperware plus diamond gitu. Yah nggak jauh sih cuma di Lombok. Katanya sekalian ngikut suami-suami nonton MotoGP. Ya gimana ya.. Ntar aku bilang Daddynya Melvin dulu deh, si Oscar kan kadang pas keluar kota sampai berhari-hari. Ya masa aku sendirian." Tiara yang baru saja datang melambai kepada pramusaji di counternya dan kembali nyerocos di hadapan kami. Aku dan Celpi menghentikan kegiatan kami dan saling berpandangan.

Untung aku mengenal Tiara sejak dia masih suka sms-an alay dengan huruf dan simbol dan suka foto ala Emo girl. Jadi aku sama sekali tidak merasa Tiara sedang flexing kegiatan rutinnya. Karena yah kami kenal Tiara sepenuhnya. Meski jauh dari kata sahabat yang sempurna karena seringkali khilaf dan berubah menjadi Dajjal, Tiara tetap sahabat kami yang baik hati.

"Hoh.. Ibu pejabat emang beda ye. Enak juga ya jadi istri pejabat BUMN, mingle-nya sama ibu-ibu pejabat, istri-istri Bupati..." Celpi berceloteh.

"Eh bupatinya belum beristri..." potongku cepat-cepat. Tiara dan Celpi yang giliran memandang ke arahku bersamaan. Aku menutup mulutku sambil berusaha mengalihkan perhatianku dengan bermain laptop.

"Hmm.. yang sedang kasmaran sama Bupati muda.." Celpi berseloroh, aku semakin menenggelamkan wajahku di balik layar laptop.

"Are you sure?" Tiara berdehem kecil, wajahnya sudah berubah ekspresi dari ibu-ibu muda kompleks sebelah yang doyan ghibah, menjadi sosok istri pejabat yang sok anggun. "Yakin Bupati muda itu tidak punya pacar? I mean, siapa yang nggak mau sama doi, ya kan?" Tiara mengibas rambutnya.

Aku menelan ludah. Iya sih, bisa dibilang begitu. Dari awal aku lihat memang dia se-mempesona itu. Tapi apalah aku ini, cuma upik abu. Sekalipun si Bupati muda cari jodoh, jelas aku tidak ada di salah satu pilihannya. Hanya saja aku melihat bahwa dia sosok yang tepat untuk menjadi inspirasi menulisku. Kurasa hanya itu saja yang membuat aku menyukainya.

"Bestie kita nih lagi nulis novel yang tokohnya sama kayak Bupati muda itu kan. Gimana nih Ti, masa kamu nggak mau bantuin temen kita buat kenalan secara pribadi?" Celpi berujar dengan penuh kebijaksanaan. Sumpah! Ini terjadi hampir 100 tahun sekali saat Celpi bisa berkata-kata menggunakan logika dan akal sehat, apalagi sampai memikirkan nasib sahabatnya. Jujur aku terharu!

"Ya kalau bestie gue ketemu sama Bupatinya, bisa deket lalu pacaran beneran trus nikah, kan lumayan ye.. Bisa bantuin perijinan Beauty Treatmentku yang baru." Celpi melanjutkan.

Rasanya aku ingin memindahkan puncak gunung Himalaya itu ke atas ubun-ubun si Makhluk astral setengah turunan Squidward ini. Mempercayai bahwa Celpi adalah sosok anggun dan penuh cinta kasih kepada sahabatnya hanya halusinasi belaka.

Sama seperti semua cerita yang berkembang di novelku. Semanis-manisnya aku menulis alur novel itu, aku tetap tidak mengalaminya sendiri. Hampir setiap novel online larisku adalah novel romantis. Kebanyakan berkata kalau baper membacanya. Satu-satunya novel horor yang laku keras hanyalah yang berjudul "Iblis Perawan Tanpa Pusar". Terinspirasi kelakuan bestie ku yang lagi cengengesan sambil nyomotin french fries di sebelahku ini.

"Tapi beneran, minggu ini ada acara bersama Ibu-ibu PKK. Aku diundang. Gwen kalau mau beneran ketemu, ikut aku aja. Ntar bisa pura-pura jadi Nanny-nya Melvin." Tiara mengibas rambutnya dan menunjuk padaku dengan jemari lentiknya yang ter-manicure rapi.

Aku menelan ludah. Penawaran menarik.

***

Gwen-chana [Season 1 Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang