HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Menatap adriane menelan nya membuat amora tersenyum puas. "Jika kau tidak selamat maka semua keluarga Lo akan di jamin aman sama gue, dan selamat merasakan reaksi kapsul itu" ucap Amora lalu pergi begitu saja membuat adriane menatap kepergian amora.
"Ahh sialan lo, anj*ng emang" umpat adriane berdiri dari duduk nya.
Menatap ponselnya jika sebentar lagi reaksi kapsul tersebut akan beraksi sebentar lagi membuat nya melangkah keluarga dengan langkah lebar. Tatapan nya menatap kearah lorong sekolahan dengan tatapan khawatir takut-takut iya harus mati konyol di sekolah membuat nya melangkah dengan cepat.
Namun nihil kapsul tersebut sudah mulai menyebar membuat kaki nya terasa berat untuk diangkat, tatapan memburam bahkan nafas yang tercekat membuat nya berjalan dengan pelan. "Enggak Lo harus bisa sampai ada pertolongan".
Adriane tak tahan dengan rasa yang menjalar di tubuh nya membuat terjatuh di lantai menatap sekitar yang tidak ada sama sekali yang melewati lorong tersebut.
"T-tolong" pinta adriane menatap bayang-bayang suara langkah kaki menuju kearahnya sehingga membuat nya memejamkan matanya menatap semuanya yang sudah gelap.
Sedangkan Alfareza yang berniat kearah kamar mandi harus di kaget kan dengan keadaan adriane yang tergeletak di lantai membuat nya menatap sekitar namun dengan cepat menggendong tubuh milik adriane dengan ala bridal style sehingga melangkah lebar kearah UKS.
Tatapan nya tertuju kepada beberapa siswa dan siswi yang kebetulan sudah keluar istirahat membuat suara bisik-bisik. Sudah jelas jika dengan cara nya sekarang bisa membuat satu sekolahan gempar namun harus bagaimana iya panik dengan keadaan adriane yang sudah terlihat pucat.
"Shit, dri bangun Lo kenapa" kesal alfareza.
Langkahnya terus tertuju kearah UKS dan pergerakannya terhenti melihat angkasa dkk dan tentu disana ada Amora yang berdiri dari belakang kenzo dengan tatapan datar. Tidak dipikirkan yang lain panik dengan melihat wajah adriane sehingga alfareza lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan nya diikuti yang lain dan tidak dengan amora yang lebih memilih untuk berjalan paling akhir.
"Bagaimana bisa" tanya angkasa membuat alfareza menggeleng.
"Tadi gue temu dia pas mau ke kamar mandi" ucap alfareza membuat angkasa berlari membuka pintu UKS dan di sana ada beberapa petugas khusus ruangan tersebut.
Dengan pasilitas terlengkap membuat sekolahan tersebut sudah terkenal begitu luas dengan kenyamanan dan semua kebutuhan ada disana bahkan ada satu dokter pribadi di dalam sekolah tersebut sungguh sekolahan yang sangat di impikan bukan.
"Tolong teman kami" ucap angkasa dengan wajah panik membuat beberapa petugas yang ada disana menatap kearah adriane yang sudah memucat bahkan nafas yang seakan melambat.
"Dia hanya butuh oksigen" ucap amora dari arah pintu masuk dengan tatapan datar bahkan alfareza menatap kearah amora.
Dokter yang ada di sana dengan cepat menyiapkan peralatan oksigen membuat amora menatap kearah alfareza dengan tatapan datar seakan matanya memancar tidak suka. "Bagaimana bisa seperti apa adriane ada penyakit" tanya angkasa menatap adriane yang di pasangkan oksigen.
"Kaki nya lecet" gumam alvano menatap kaki adriane yang sedikit tergores membuat semuanya saling tatap namun tidak dengan amora yang lebih memilih untuk meninggalkan ruang UKS.
"Gue tau apa yang dirasakan amora" ucap aldara di dengar oleh yang lain membuat alfareza tersadar lalu berjalan keluar mencari keberadaan amora.
Elana meninggalkan yang lebih tanpa kata pamit membuat Kayla dan aldara memberi kode jika sudah di pastikan jika elana akan menuju kearah ruangan cctv. Angkasa berjalan menatap wajah damai adriane yang mulai mengeluarkan nafas teratur membuat nya memegang pelan tangan sang empun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
РазноеHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
