HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Kedatangan Alfareza membuat ke lima gadis tersebut membeku di tempat. "Apa maksud ucapan kalian " tanya alfareza dengan tatapan datar.
"Gue mau bunuh lo, kenapa? Kau ketua black dragon bukan" ucap amora dengan nada dingin.
Tatapan alfareza tidak percaya membuat amora terkekeh datar. "Pergi dari hadapan gue segera" usir amora. "Gue salah apa" tanya alfareza.
Adriane tertawa renyah membuat yang lain ikut tertawa. "Bisa-bisanya kau percaya dengan ucapan amora, bercanda kali tadi kita hanya bahas-bahas tentang curhatan amora yang pernah di culik" alibi Kayla.
"Dia bilang kenapa ya alfareza enggak bunuh ketua black eagle" lanjut aldara dengan alibi.
Alfareza mencari kebohongan gadis-gadis tersebut namun nihil tatapan semuanya berhasil membuatnya percaya. "Dasar bodoh" umpat amora lewat batin nya.
"Gue minta tolong ke kalian, gue mau ngomong empat mata sama amora" pinta alfareza sehingga ke empat nya mengangguk dan lansung keluar.
Hanya ada pasangan di dalam kelas dengan amora yang menatap pergi kearah anggota intinya yang menurut saja untuk keluar. "Sayang, kenapa hm" tanya alfareza berniat untuk memegang amora namun nihil sang empun menepis kasar sang empun.
Jengkel dengan kelakuan sang pacar Alfareza kembali merangkul sang empun sehingga berhasil membuat nya memberontak namun dengan teguh nya iya mengunci pergerakan sang empun.
"Kalau gue tanya baik-baik dengan dengan baik gue enggak suka" tekan alfareza dengan nada parau.
"Lepasin gue" pinta amora dengan penekanan.
Alfareza mengangkat sebelah alisnya. "Enggak mau siapa Lo atur gue" jawab alfareza dengan enteng.
Wajah amora seketika memerah menahan jengkel cukup tau jika iya sekarang begitu kesal dengan perbuatan laki-laki tersebut. "Di detik ini kita enggak ada hubungan lagi, dan gue enggak mau ada penolakan titik" ucap amora.
Mata alfareza seketika membulat menatap amora yang sebahu dengannya. "APA ENGGAK USAH LO LIHAT GUE SEPERTI ITU" sentak amora berhasil membuat sang empun terjengkit kaget.
Rangkulan tersebut seketika terlepas dengan alfareza yang menggantinya dengan cekalan tangan. "Loh!! Enggak-enggak awas Lo jangan ngomong gitu" larang alfareza dengan nada serak.
"Lo mau apa sih, mau balap? Okey terserah lo gue cuma enggak mau lo kenapa-kenapa cukup saja gue kehilangan sekali, gue enggak mau lo pergi, gue enggak mau kehilangan untuk kedua kalinya" gerutu Amora dengan nada getar bahkan siapa sangka matanya mulai berkaca-kaca.
Alfareza membeku melihat wajah amora dengan telinga yang menyaring ucapan barusan. Amora menyentak tangan nya sehingga cekalannya terlepas, amora mengusap air matanya yang sempat tertetes.
"Pergi, gue mau sendiri" pinta amora dengan suara tercekat.
Hatinya mulai tak karuan, pikirannya mulai kemana-mana amora duduk dan menyembunyikan wajahnya dibalik dengannya. Tatapan alfareza menatap gadis malang tersebut membuatnya ikut duduk di samping sang empun dengan tangan yang mengelus rambut surai panjang milik sang kekasih.
"Maaf aku membuatmu khawatir" ucap alfareza dengan nada lembut. "Bullshit rez, lo akan tetap pergi" balas amora tanpa mengalihkan posisinya.
Terdiam seribu bahasa, alfareza tidak bisa berucap sepatah kata pun membuatnya hanya mengelus rambut panjang milik sang gadis. Suara pintu terbuka menampilkan wajah datar milik Gibran.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
De TodoHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
