HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Adriane hanya menunduk menatap kearah sang ibu yang duduk di sofa tanpa mengeluarkan sepatah kata pun iya terasa di acuhkan. "Ma" panggil pelan adriane.
Laras menatap kearah adriane membuatnya menunduk, siapa sangka di wajah datar tersebut banyak ketakutan yang iya sembunyikan. "Kenapa, apa yang kau mau" tanya Laras.
Suaranya seakan kelu tidak dapat iya keluarkan sehingga pintu terbuka menampilkan Alvin yang menatap kearah adriane membuat sang empun kembali menunduk takut.
"Dia bicara apa dengan mu" tanya Laras sehingga Alvin berjalan kearah adriane membuat sang empun panas dingin mencengkram erat selimut nya.
Wajahnya seketika berubah menjadi takut membuat Alvin lansung menepuk pelan pundak sang empun sehingga mendongak pelan membuat Alvin memeluk tubuh sang putri dengan mata terpejam erat. Laras bingung tumben sekali sang suami memeluk sang anak begitu pula dengan adriane yang membeku ditempat.
"Maaf" satu kata lolos dari bibir laki-laki paruh baya tersebut membuat adriane masih tidak tersadar dengan ucapan sang ayah.
Tidak dibendung gadis yang berada di dekapan nya tidak menahan air matanya, berapa tahun iya tidak pernah merasakan pelukan sang ayah sehingga membuatnya berhasil membuat nya mengeluarkan air mata. Alvin melonggarkan pelukannya menatap wajah adriane yang sudah lama iya tak pernah lihat karna lebih memilih untuk perusahaan saja.
Laras tertegun menatap interaksi keduanya. "Saya terlalu lebih mementingkan uang sehingga hampir menghilangkan berlian yang paling berharga".
Alvin mengelap air mata yang terjatuh di pelupuk mata sang putri dengan ibu jarinya menatap wajah sang empun dengan intens. Pintu terbuka menampilkan wajah amora dengan anteng masuk tanpa permisi.
"Astaga kau menangis" tanya amora dengan kekehan khas nya membuat adriane menyembunyikan wajahnya dengan telapak tangannya.
Amora hanya menggeleng dengan tingkah kutub tersebut. "Saya permisi mau pulang besok jika ada kesempatan saya akan datang lagi" ucap amora membuat Alvin mengangguk.
"Terimakasih atas kamu saya sadar anak lebih penting" balas Alvin membuat amora mengangguk.
"Saya ramal dalam 5 menit kedepan perusahaan mu akan naik" ucap Amora lalu pergi begitu saja membuat Alvin bingung sehingga notifikasi ponselnya berbunyi dan benar saja suntikan dana dari keluarga smist berhasil membuat nya naik membuatnya menatap kearah pintu yang sudah tertutup.
Senyumnya merekah sehingga tatapannya kembali mengarah ke Adrianne yang terdiam. "Ada yang sakit" tanya Alvin membuat adriane terdiam.
"Sayang, mungkin teman-temannya masih ada disini enggak enak kalau mereka diluar".
Laras pun mengangguk lalu pergi keluar dan benar saja yang lain masih berada disana membuatnya memberi kode buat masuk membuat semuanya canggung.
"Amora ngancem apa" tanya adriane dengan nada parau.
Alvin mengerutkan keningnya apa yang dimaksud oleh sang putri membuatnya menggeleng. "Tidak ada kenapa, ada yang salah dengan sikap papa" tanya Alvin membuat adriane terdiam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
De TodoHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
