HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Di lain tempat, alfareza masih tertidur dengan begitu pula namun terganggu dengan beberapa pesan yang masuk kedalam ponselnya. Alfareza meraba ponsel genggam miliknya menatap jam berapa, dan disana sudah tertera jam 12 siang. Bingung mendapatkan beberapa pesan dari nomer yang tidak dikenal membuat nya membuka pesan tersebut.
+6283*******
Send_
Satu foto berhasil membuat alfareza melebarkan matanya sempurna, tidak percaya dengan apa yang iya lihat. "Tidak mungkin, ini bukan amora" gumam alfareza bergetar.
Siapa sangka foto tersebut menampilkan amora yang memegang satu tespek yang bergaris dua, di tambahkan lagi satu foto amora yang membunuh seseorang. Alfareza menggeleng tidak percaya, namun tidak dengan perasaannya yang bercampur aduk sempurna.
+6283*****
_wanita yang selalu kau bela_
Satu pesan kembali masuk membuat alfareza menatap dengan sorot mata tajam, "siapa!, kau siapa sialan" umpat alfareza dengan amarah.
Tidak ada balasan alfareza bergegas keluar dari kamarnya, aruna bingung dengan sang putra membuatnya mencegat sang empun. Di kagetkan lagi dengan jidat sang empun yang memar membiru, suhu tubuh yang panas membuat aruna menatap sorot tajam milik sang putra.
"Rez, kenapa" tanya khawatir aruna.
Alfareza tidak dapat menjawab, tenggorokan nya seakan bergetah alfareza berlutut tepat di depan aruna. "Rez, kenapa cerita sama bunda" tanya aruna mencoba membangunkan alfareza.
Alfareza memberikan ponselnya tepat ke aruna membuat sang empun melihat nya dengan tatapan tidak percaya. "Rez, bukan kamu kan" tanya aruna dengan air mata yang mengalir.
Tidak ada jawaban, alfareza hanya menggelengkan kepalanya dengan sorot mata kecewa. "Kita ke Amora sekarang, amora tidak mungkin melakukan ini" ucap aruna menenangkan alfareza yang tidak mengeluarkan sepatah kata.
Bahkan tatapan nya sempurna tak terlihat tajam, tatapan berubah seakan menumpahkan tangis. Darga keluar dari kamar melihat keduanya dengan bingung, "kalian kenapa" tanya darga membuat aruna hanya memperhatikan foto tersebut membuat menatap sang putra tajam.
"Bukan dia mas" lerai aruna membuat darga bernafas lega akibat sang putra tidak menghamili anak orang.
"Baik lah, sepertinya kita harus membicarakan nya sama arthur" ucap darga membuat keduanya mengangguk.
***
Sore tiba dengan sangat cepat, anggota black dragon berkumpul di kediaman keluarga smist. Suara isak tangis terdengar sempurna dari wanita paruh baya "sayang, jangan nangis, kita tunggu kedatangan amora" ucap Arthur memeluk sang istri.
Sesuai dengan permintaan darga, alfareza dan kedua orang tuanya memberi tahu semuanya. Kaget dengan kabar tersebut membuat jesi menangis tak berdaya, kenzo dan kenzi sendiri tak dapat berkata-kata lagi.
Sedangkan alvano dan angkasa nampak kelimpungan dengan kisah keluarga sang teman. "Gue tanya sekali lagi rez, bukan Lo pelakunya" tanya kenzo menatap alfareza yang menatap kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
CasualeHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
