part 21

199 20 0
                                        

HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
.

"Sudah, gue bilang sudah" lerai amora memeluk tubuh alfareza yang di banjiri keringat.

Tatapan tajam alfareza seakan menusuk kepada Daniel yang di bantu oleh beberapa guru. "Ada masalah apa sampai-sampai kalian seperti ini" tanya Gibran.

"Dia harus mati" ucap alfareza mencoba memberontak namun Gibran mengunci pergerakannya.

"Gue bilang sudah rez!" Sentak amora sehingga alfareza tersadar menunduk kearah amora yang memeluk tubuh nya.

"Sudah rez, jangan di perpanjang semuanya bisa di bicarakan baik-baik" lanjut amora dengan tatapan permohonan.

Alfareza memberontak di kuncian Gibran sehingga tangannya terlepas. Alfareza membalas pelukan sang empun dengan nafas tersengal-sengal. "Bawa teman kalian ke UKS, dan kau Reza masuk ke ruang BK" pinta Gibran meninggalkan semuanya.

Daniel yang di gotong beberapa guru sedangkan Alf
areza terdiam membuat amora mengelap keringat sang empun dengan tangannya. "Buset nafsu amat Lo pukul anak orang" tanya kenzi berdecak kagum.

"Pindahkan rekaman cctv ke ponsel gue segara" pinta alfareza membuat kenzi bingung namun mengangguk.

"Keruang BK" pinta amora membuat alfareza menatap jengkel. "Kau tidak mau membela ku, apa jangan-jangan kau ada hubungan dengan bajingan itu" tanya alfareza dingin.

"Gue memang pemilik sekolah tapi gue tidak berhak membuang peraturan sekolahan, jadi jaga ucapan mu" peringat amora berjalan mengikuti Gibran yang belum terlalu jauh.

Alfareza mengacak rambutnya frustasi membuat kenzi yang baru saja keluar dari ruangan lantas menahan amarahnya. "Kenapa lo enggak langsung bunuh dia" tanya kenzi dengan emosi di ubun-ubun.

Angkasa menerima ponsel yang di berikan oleh kenzi membuat alvano, kenzo, angkasa, adriane, elana, Kayla dan aldara kaget. "Siapa sebenarnya amora" tanya angkasa menatap kearah adriane.

"Lo tanya gue" tanya adriane memiringkan kepalanya membuat angkasa salah tingkah membuat nya harus membuang muka kearah lain.

Sedangkan yang lain menatap datar dengan tingkah angkasa, alfareza meninggalkan yang lain masuk keruang BK, di sana sudah ada Gibran dan Bram di lengkapi dengan amora. Sangat aneh pikir alfareza seharus nya yang mengurusnya adalah sang guru BK tumben sekali kepala sekolah nya langsung yang mengurus hal seperti itu.

"Permisi" ucap alfareza membuat Bram menyuruh alfareza duduk.

"Jadi, apa alasan mu Alfareza Cakrawala Mahendra" tanya Bram.

Alfareza tidak menjelaskan nya melain memberi bukti langsung dengan rekaman cctv yang sudah iya salin. Bram dan Gibran menatap ponsel tersebut dengan serius sehingga keduanya menatap ke Amora.

"Kau baik-baik saja" tanya keduanya serempak membuat alfareza yang berada di ruangan yang sama bingung dengan ke khawatiran dari ketua laki-laki dewasa tersebut.

"Saya baik-baik saja" balas amora membuat keduanya bernafas lega.

"Baik lah mungkin akan ada beberapa peringat melalui pihak sekolahan karna kau sudah main hakim sendiri" ucap Bram.

"Tidak boleh gitu dong pak, saya seperti itu karna saya membela amora bahkan saya sendiri yang akan menjadi korban! Ini bisa jadi terulang kembali" tolak alfareza tidak setuju dengan ucapan Bram.

Bram meminta persetujuan dari amora yang diam dengan bersedekap dada melihat ketiga laki-laki tersebut dengan tampang tidak peduli. "Skor mereka, untuk memikirkan kesalahan mereka" pinta amora.

Amza II (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang