HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Amora memandang alfareza dengan tatapan datar. "Hangus-hangus di kira itu tiket di beli pakai daun apa jangan aneh-aneh" balas amora ketus.
"Uang ku banyak nanti aku ganti" cerca alfareza membuat amora memutar bola matanya nya jengah lalu merapikan piring-piring nya.
"Mentang-mentang kaya, jika lo beneran sini transfer dulu" pinta amora membuat alfareza berdiri mencari sesuatu di sakunya sehingga mengeluarkan satu kartu yang berwarna hitam.
"Mau berapa ambil aja yang penting jangan pergi" sogok alfareza membuat amora tertawa garing dengan tingkah alfareza.
Amora berjalan meninggalkan Alfareza, langkah kaki yang menuju tepat ke kearah pencucian piring membuat alfareza terdiam. "Simpan saja untuk taruhan balap mu" pinta amora.
"Apasih aku enggak pernah balap" ketus kesal alfareza.
Amora menatap kearah alfareza. "Simpan buat masa depan mu, jangan mentang-mentang sekarang kau berada di atas kau seenak nya, takdir bisa berputar dan siapa tau kau terjatuh" ucap amora menaruh piring yang sudah bersih.
"Jadi?, kesimpulan mu bagaimana, pokok nya kamu jangan tinggalkan aku" perintah alfareza membuat amora selesai dengan kegiatannya.
"Terserah lo, gue malas banget" putus amora meninggalkan alfareza sendirian.
Sedangkan sang empun yang di tinggal pun menyusul langkah sang pacar dari belakang, amora tidak peduli dengan alfareza yang membuntuti nya karna tujuan nya saat ini adalah kekamar nya. Tatapan semua temannya mengarah kearah nya dengan bingung melihat amora yang diam tanpa niat menyapa satu sama lain namun berbeda dengan alfareza yang tetap saja membuntuti sang pacar.
Sesampainya di tujuan amora masuk kedalam kamar nya di ikuti alfareza. "Kenapa enggak ikut kumpul" amora melepas suara dengan melemparkan pertanyaan kepada alfareza yang duduk di ranjang milik nya.
Alfareza menatap kearah gadis cantik yang berjalan kearah balkon kamar nya menatap langit sini siang yang sudah terlihat begitu cerah, bahkan burung-burung yang terbang terlihat jelas.
"Sayang" panggil alfareza membuat amora hanya berdeham singkat menjadi jawabannya.
Mendapatkan respon yang kurang memuaskan alfareza menjatuhkan tubuh nya tepat dengan kepala yang lansung di sembunyikan dengan bantal milik sang kekasih. Amora bingung alfareza tidak bersuara lagi membuat nya tertoleh kebelakang melihat posisi sang kekasih.
Amora sangat di repot kan hari ini dengan tingkah alfareza yang tiba-tiba saja menjadi manja. Langkah nya mendekat kearah alfareza yang tidak bergerak, dengan pantat yang terduduk sempurna amora sedikit menjangkau untuk menepuk pundak sang pacar.
"Kenapa lo sakit" tanya amora.
Diam tidak ada jawaban yang lolos dari bibir sang kekasih, amora menarik bantal yang menutupi wajah sang kekasih sehingga terlihat jelas alfareza yang memejamkan matanya. Wajah yang sangat sempurna di padukan alis tebal, hidung mancung, bibir tipis pink alami membuat amora tersenyum tipis dengan jari telunjuk yang bergerak dari dahi sampai dagu milik sang pacar.
Tidak ada respon dari sang empun, "ternyata wajah setenang ini membuat ku repot sendiri" batin amora terkekeh dengan jiwa nya seakan meronta-ronta untuk mencium wajah milik sang kekasih, siapa sangka dengan jalan pikir yang berubah membuat nya sedikit demi sedikit melupakan seseorang.
Amora menidurkan tubuh nya tepat di dekat alfareza menatap langit-langit kamar nya. Tangan kekar terasa di perut rata nya membuat nya menatap kesang pelaku yang masih dengan memejamkan mata nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
RandomHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
