HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
Satu jam berlalu amora melangkah keluar dengan kondisi tidak baik-baik saja, matahari yang terbenam terlihat jelas membuat nya melesat pergi menjauh di bar tersebut. Amora berjalan kekediaman nya dengan langkah lemah.
Semua bodyguard yang berada di sana lantas mencoba menolong sang majikan namun nihil amora malah menodongkan pisau lipat nya membuat semuanya hanya mengikuti dari belakang. Suara di dalam bangunan terdengar jelas membuat nya sudah memastikan bahkan keluarga ada disana di tambah lagi pasti ada sang kekasih.
Brak
Sang gadis dengan tanpa sopan santun menendang pintu di depannya sehingga terbuka sempurna. Semua tatapan mengarah kepadanya, belum ada yang menyadari jika sang gadis sedang berada di kendali alkohol membuat Liam yang yang berada di sana lantas tersenyum tipis untuk menyapa.
Tatapan gadis tersebut terlihat sayu, jantung yang berdebar lebih cepat dari biasanya membuatnya hanya terdiam. "Maaf tuan nona mabuk" ucap sang bodyguard.
Semuanya membulatkan mata sempurna, tidak percaya dengan itu Liam berlari kearah sang cucu kesayangan dan sudah tercium jelas aroma alkohol. Alfareza mengikutinya membuat sang gadis berlutut dengan nafas tersengal-sengal.
"Kenapa sayang Hay" tanya panik Liam memeluk tubuh sang gadis yang sudah lemah tak berdaya.
"Aku tak pantas hidup" balas amora membuat Liam merapikan helaian rambut sang gadis yang mengeluarkan air mata.
"Enggak boleh, grandpa tidak setuju dengan ucapan mu" tolak tegas sang lelaki tua di depannya.
"AKU HANYA INGIN HIDUP SEPERTI WANITA LAIN, KENAPA-KENAPA TUHAN SEAKAN TIDAK MENGINGINKAN SEMUA ITU, AKU BENCI TAKDIR INI" teriak sang gadis dengan dramatis, air mata yang seakan turun dengan sendirinya.
Alfareza memeluk tubuh sang gadis mengambil ahli semuanya. "Tidak kau pantas bahagia" balas sang pemuda mengangkat tubuh sang gadis ala bridal style.
"Gue mengkhianati mu rez, ya gue pengkhianat" ujar sang gadis sehingga kesadarannya hilang seketika.
Alfareza sangat bingung apa yang di maksud sang gadis namun melihat instruksi dari Liam membuatnya mau tidak mau membawa sang gadis masuk kedalam kamar. Arthur yang melihat kondisi sang putri sangat khawatir.
"Amora baru kali ini mabuk, mungkin dia tidak dapat membebankan perasaan nya" terang Liam duduk menyeruput kopinya.
***
Waktu berjalan dengan cepat, amora sudah dalam kendali tubuhnya sendiri semua tatapan mengarah kepada nya dengan tatapan introgasi namun beda dengan tatapan yang di lemparkan oleh alfareza yang terkesan tajam.
"Kenapa" tanya kenzo membuat amora menatap semuanya sangat detail. "Kau melarang berat kira minum, lalu kenapa kau melakukannya bukan kah itu hanya sampah" tanya kenzi seakan kecewa.
"Zaidan siapa" lama semuanya akhirnya tatapan semuanya mengarah ke Alfareza yang menatap dengan tatapan dingin tanpa ekspresi sedikitpun. Amora menoleh kearah sang pemuda yang seakan mengetatkan rahangnya sempurna. "Zaidan siapa" tanya alfareza kedua kalinya.
Tidak ada jawaban nafas sang pemuda tersegal, dengan keadaan Arthur, jesi, kenzo dan kenzi berada di sana membuat suasana senyap beda halnya dengan Liam yang izin karna ada yang harus iya selesaikan.
"Kapan kau menghargai gue" tanya alfareza. "Rez kita bicarakan baik-baik nak" bujuk jesi membuat alfareza hanya menatap datar.
Tatapan sang gadis beradu dengan pemuda tersebut, "dia adalah seorang yang gue sayang" balas amora dengan suara berat.
Tidak dapat di tahan sang ketua black dragon tumbang dengan air mata yang terjatuh, "gue benci lo" ucap alfareza meninggalkan semuanya dengan bercampur aduk.
Amora dengan cepat menyusul sang pemuda membuat alfareza terhenti akibat amora mencekalnya. "Lepasin gue" pinta alfareza menyentak tangan sang gadis dengan kasar.
"Gue yang salah terlalu percaya dengan mu, gue yang salah terlalu cinta kepada orang yang belum lepas dari seseorang" lanjut Alfareza dengan mata yang tak henti mengeluarkan air mata.
"Dengar penjelasan ku" pinta sang gadis membuat alfareza tak membendung amarahnya dengan tangan yang tidak tinggal diam.
Plak
Tamparan berhasil di layangan kan, amora memegang pipinya yang merasakan perih, tatapannya m natap tajam sempurna. "LO KURANG AJAR SIALAN" sentak amora dengan nafas tersengal-sengal.
"LALU, KAU MAU DI SEBUT APA?, Pengkhianat sangat cocok dengan mu" balas alfareza. "KAU TIDAK PERNAH TAU APA MASALAH KU" sentak amora dengan nada tak bersahabat.
"Sayang sudah" lerai arthur. "Gue diak karna gue berusaha untuk menghargai mu" lanjut amora dengan nada lirih.
"Ya benar gue emang mengkhianati mu, maaf" ujar amora.
Semuanya terdiam membisu membuat alfareza meninggalkan kediaman keluarga smist dengan perasaan campur aduk, sedangkan sang gadis hanya terduduk lemah di lantai yang dingin dengan air mata berjatuhan membasahi pipi mulusnya.
Jesi memeluk tubuh sang putri memberi semangat. "Amora sejahat itu ma" adu amora dengan suara lemah membuat jesi terdiam. "Kau memang salah tapi momy tetap berada di posisi mu sayang" balas nya.
Jangan lupa
Vote and komen
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
SonstigesHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
