part 9

206 19 1
                                        

HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.

Amora menatap datar kearah kaca wastafel, wajah cantik nya seakan sangat menawan membuat nya membasuh mukanya dan lansung mengelap nya dengan tisu yang sudah tersedia.

"Adriane Sarale Atmajaya" gumam amora menatap dirinya di pantulan kaca dengan sorot mata tajam.

"Dia sahabat mu".

"Dia wakil ketua anggota mu".

"Dia selalu ada ketika Lo butuh".

"Itu hanya masalah sepele jadi jangan bawa kematian karna cemburu".

"Dia tidak pernah mengeluarkan darah dari tubuhmu".

"Ingat satu tetes darah maka dibalas satu nyawa".

"Dan dia tidak pernah membuat mu terluka dengan tangannya sendiri".

Shit! Amora menepis isi pikirannya lalu berjalan keluar dengan wajah yang seakan sudah segar. Sorot matanya menatap dengan dingin bahkan beberapa perawatan yang melewatinya seketika merinding.

Amora kembali masuk dalam ruangan adriane dengan yang lain sibuk sendiri. "Ngapain" tanya kayla mengangguk ponsel.

"Sepertinya lo lagi enggak baik-baik saja" tanya alvano menatap wajah amora dengan seksama.

Amora menoleh tersenyum tipis membuat alvano tidak membendung senyum nya, alfareza yang melihat tersebut mendadak jengkel sehingga berniat melangkah ke tempat duduk amora yang berada di sofa sendirian namun terhenti akibat kenzi lebih dulu duduk di samping amora.

"Are you okey" tanya kenzi membuat amora menatap sang empun lalu mengangguk.

Kenzi tersenyum tipis sehingga menyandarkan kepalanya tepat di cekukan leher sang empun. Pemandangan tersebut berhasil membuat alfareza panas sehingga dengan cepat menarik kenzi sehingga terbangun.

"Enggak usah dekat-dekat" ancam alfareza dengan sorot mata tidak suka.

"Dia saudara ku, kenapa kau yang ngatur" ketus amora membuatnya tidak peduli dan lebih memilih untuk duduk di samping sang pacar.

"Kau kenapa, gue ada salah hm" bisik alfareza sehingga membuat amora diam tidak bersuara.

Clik

Pintu terbuka menampilkan seorang wanita paruh baya dan laki-laki paru baya menatap kearah adriane dengan datar. Meraka adalah Alvin Atmajaya dan Laras Atmajaya orang tua dari adriane seorang pengusaha yang lebih mentingkan uang ketimbang mengurus sang putri.

"Ada apa lagi kau merepotkan kami saja" ucap Alvin dengan nada datar membuat adriane yang mendengar itu mencengkram erat selimut yang menutupi setengah badannya.

Semuanya kaget kecuali amora yang sudah tau latar belakang dari gadis dingin tersebut. "Eh Tante apa kabar lama tidak berjumpa" sapa aldara mencairkan suasana membuat Laras hanya mengangguk.

"Kami keluar dulu Tante, nanti kamu datang lagi" pamit aldara di setuju yang lain membuat Laras kembali mengangguk.

Aldara memberi kode kepada yang sehingga mengangguk membuat mereka berbondong-bondong keluar sehingga angkasa sempat melihat kearah adriane yang menunduk membuatnya khawatir. Amora menatap kearah Alvin dan Laras yang terdiam menatap dengan tatapan seakan memberi intensi keluar namun nihil gadis tersebut hanya tersenyum miring lalu dengan santainya menyandarkan kepalanya tepat di sofa yang didudukinya.

"Kenapa kau tidak keluar" tanya Alvin dingin membuat Amora menatap kearah Alvin.

"Hei tuan jika kau memang tak berniat kesini jangan datang, anak mu tidak membutuhkan mu" ucap amora santai sehingga adriane menatap kearah amora dengan tatapan sayu.

Amza II (REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang