HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.
"REZA" pekik aruna dengan tangis menggelegar membuat beberapa polisi mencoba untuk menghentikan aksi aruna yang berniat mencoba mendekat kearah rumah yang perlahan terbakar dengan suara ledakan keras.
Amora membawa tubuh alfareza yang sudah tak sadarkan diri, gadis tersebut mulai terlihat di kepalan asap yang sudah memenuhi rumah. Aruna dan darga kaget di tambah polisi yang berada di sana.
Luka yang di alami keduanya cukup serius dengan amora yang mengeluarkan darah lewat hidung nya di tambah alfareza yang tak sadar diri.
Beberapa polisi membantu membawa tubuh alfareza dengan diikuti suara sirena ambulance datang, amora terduduk lemah menatap rumah besar di depan nya terbakar sempurna. Aruna mengikuti alfareza di dalam ambulance sehingga darga berjongkok tepat di depan amora.
Darga tidak berbicara melainkan menggendong tubuh sang empun masuk kedalam ambulance lain nya, amora di beri bantuan oksigen karna terlalu banyak menghirup asap.
***
Di ruang sakit, semuanya di tangani dengan cepat membuat darga tidak lupa memberi kebar kepada Arthur membuat semuanya terkumpul di satu ruangan. Dengan amora yang terdiam membisu di satu ruangan yang sama dengan alfareza.
"Reza belum bangun karna obat bius nya, jadi jangan khawatir" peringat jesi kepada aruna yang sedari tadi menangis melihat sang putra terbaring.
"Apa kalian ada musuh" tanya amora menatap datar.
Darga dan aruna menggeleng sehingga tatapan gadis tersebut mengarah kepada kenzo dan kenzi yang terdiam. "Regan atau Andre" tanya amora membuat keduanya terdiam.
Tatapan datar amora berubah menjadi tajam seperti silet, "dari mana kau tau keduanya" tanya kenzo.
Suara leguhan terdengar membuat semuanya mengarah ke pemuda yang terbaring dengan menyesuaikan cahaya lampu di matanya. Menatap kesekitar membuat nya mencoba duduk namun terhenti dengan darga yang menahannya.
"Banyak luka di tubuh mu, jangan terlalu banyak bergerak" peringat darga sehingga tatapan alfareza mengarah ke seberang bangkar amora. "Jika luka ku banyak, maka bagaimana dengan amora" balas pelan alfareza.
Amora yang dari sebrang tersenyum tipis, "gue memang menerima banyak luka tapi tidak selemah lo". Alfareza terdiam menatap langit-langit ruangan rumah sakit dengan menetralkan nafas berat nya.
Aruna melangkah memeluk sang putra membuat laki-laki tersebut mengelus pundak sang ibunda dengan sayang, semuanya masih tertuju kepada anak dan ibu tersebut. "Bunda sangat khawatir rez, apa ada yang sakit" tanya aruna dengan sesegunya.
Laki-laki tersebut menggeleng meski tubuhnya seakan terasa remuk dengan banyaknya luka di bagian tubuh di tambah beberapa sayatan yang mengenainya. Namun laki-laki tetap memperlihatkan wajah seakan baik-baik saja mencoba untuk menutupinya dengan tersenyum tipis.
"Maaf gara-gara musuh Reza, amora ikut terlibat" ucap alfareza sehingga Arthur terdiam.
Jujur saja ia sangat khawatir dengan sang putri yang ikut terbaring dengan beberapa luka di wajahnya di tambah selang infus terpasang sempurna di pergelangan tangannya. Terdiam seribu bahasa, Arthur hanya menatap singkat kearah alfareza lalu kembali menatap sang putri yang memandang kosong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Amza II (REVISI)
De TodoHay gays Amza up nih yok lah Mampir dulu jangan lupa Vote and komen
