part 12

186 17 0
                                        

HAPPY READING
TYPO BERTEBARAN
.
.
.
.
.

Adriane bersedekap dada melihat amora yang datang bersama dengan alfareza dan jelas di sana ada Alvin dan Laras yang menunggu sang anak sampai sembuh.

"Bagaimana keadaan mu" tanya amora memberi bingkisan buah ke Laras membuat sang empun tersenyum tipis.

"Kata dokter gue boleh pulang besok" jawab adriane sehingga amora mengangguk menanggapi.

Alfareza duduk bersama Alvin membuat sang empun menawarkan ke kantin membuat sang empun setuju sehingga hanya tersisa dua gadis dan satu wanita paruh baya.

"Kau tidak sekolah" tanya Laras. "Dia pemilik sekolahan ma, dulu aja kalian enggak ikut hadir maka nya tidak tau" balas adriane dengan nada pelan sehingga Laras membisu.

Amora terkekeh melihat kediaman dari Laras nya mm untuk tidak peduli dan lebih memilih untuk duduk di dekat adriane. "Tadi gue habis rapat masalah kepala sekolah baru dan kepala sekolah baru nya adalah tuan Bram Pradipta" terang amora membuat adriane kaget.

"Bagaimana bisa".

"Gue juga tidak mengerti ternyata laki-laki itu mempunyai pengalaman mengajar di Amerika selama lima tahun, tangan kanan gue sudah handle dan pak gibran ikut mengurusnya".

Laras menyimak pembicara keduanya membuatnya tersadar jika iya menganggu membuatnya izin keluar untuk menyusul sang suami ke kantin rumah sakit membuat di dalam ruangan tersebut hanya tersisa dua gadis buronan kelas kakap yang masih kasusnya tersembunyi kan dengan sangat rapi.

Terdiam diruangan tersebut tidak ada pembicaraan setelah kepergian Laras membuat kedua gadis tersebut tidak ada pembicaraan. Amora menatap ponselnya karna mendapatkan notifikasi dari nomer yang tidak dikenal.

+6283........
[Temui gue di taman rumah sakit]

Angkasa
[Lo dimana gue mau bicara empat mata dengan mu]

Amora membalas keduanya dengan memberi titik yang sama untuk menyuruh keduanya bertemu di parkiran rumah sakit amora pikir dari dua nomer tersebut ada satu pelaku.

"Gue lagi ada urusan" ucap Amora lalu meninggalkan adriane yang sempat bertanya.

***

Angkasa yang mendapatkan balasan dari amora menunggu sang empun di kursi panjang yang tidak jauh dari parkiran bahkan mobil-mobil dan motor sudah terlihat jelas. Amora menatap kearah angkasa dengan tatapan datar begitu pula dengan angkasa yang memandang sang empun dengan tatapan datar.

Langkah amora terhenti menyadari iya terasa diawasi dan benar saja mulutnya di bungkam kain sehingga membuatnya berhasil memandang buram. Angkasa melihat jelas ada dua pria berbadan tinggi yang menjadi pelaku membuatnya lansung berdiri dan lansung berlari namun kedua pelaku tersebut membawa tubuh amora kedalam mobil sehingga mobil tersebut melesat dengan cepat.

Nafas angkasa terengah-engah iya tidak percaya kejadian nya begitu cepat membuatnya lansung kearah motornya mencoba mencari keberadaan mobil tersebut namun nihil sudah terlalu jauh iya mengejar tidak ada satu pun jejak yang iya dapatkan.

Angkasa berhenti di tepi jalan lalu menelpon alfareza yang masih di rumah sakit sehingga panggil tersambung. "Amora di culik segera gue sudah mencarinya" ucap angkasa.

"Lo jangan bercanda amora lagi ada di ruangan adriane tadi" balas alfareza tidak percaya dengan ucapan angkasa.

"BANGSAT LO RAGUIN GUE SEGERA KALAU LO ENGGAN MAU PACAR LO KENAPA-KENAPA" sentak angkasa sehingga alfareza yang dari sebrang kaget dengan sentakan tersebut.

Amza II (REVISI)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang