"Iya Mama, tadi pagi juga aku yang mandiin Om Rio. Iya kan Suster Titi?"
"Iya, Anggia."
Sebenarnya yang salah itu telinga Dini atau memang dia masih ada di alam mimpikah?
Diam-diam, Dini mencubit kecil punggung tangannya dan merasakan perihnya.
Rasanya dia tidak mimpi. Dini ingat yang terjadi kemarin. Dini ingat betul bagaimana Rio menghinakannya dan membuatnya seperti wanita murahan tak berharga. Dini ingat saat Rio pergi setelah puas dan bilang akan menemui istrinya. Cuma kenapa tidak sinkron?
Apa habis bertemu istrinya Rio yang merasa bersalah menemui Anggia? Atau ... Rio tadinya ingin menyiksa Anggia juga karena kesal pada Dini? Jadi benar Rio menemani Anggia? Tapi kenapa ini sulit diterima olehnya?
Lebih sulit ketika melihat pemberian Rio pada putrinya. Mainan-mainan mahal.
Bagaimana cara Rio bisa membelikan Anggia? Apa istrinya tak marah kalau ditinggalkan Rio? Dini jadi ragu...
Apa Rio berbohong pada Diniapa sebetulnya Rio tak pergi? Apa telepon itu palsu? Tapi kenapa dia harus berbohong? Iseng sekali bukan? Atau ... apa mungkin ini semua dilakukannya karena Rio merasa sangat bahagia setelah menyiksa Dini?
Kok Dini makin pusing ya? Buntu rasanya. Semakin dipikirkan semakin pikiran Dini tidak mengerti apa yang diinginkan oleh pria itu.
"Mama, Anggia nanti dapet kado apa dari Mama?"
Dan sudahlah! Tidak perlu dipikirkan apa yang ada di dalam benak Rio. Buang waktu! Yang Dini tahu, Rio yang sekarang bukan Rio yang dulu. Apa yang dilakukannya itu bukan urusan Dini. Masih banyak yang harus dipikirkannya apalagi sekarang putrinya sudah menagih kado.
Tapi sayang, Dini tidak punya uang untuk membeli kado dan ini adalah ulang tahun pertama Anggia setelah Dini diusir dari rumah ayahnya. Dulu, setiap tahun, selalu saja ada kado untuk Anggia. Tapi saat ini, Dini mana punya uang?
"Anggia, gimana kalau kado dari Mama sekarang, dibikinin kue ulang tahun yang enak banget sama Mama, dimasakin makanan yang enak juga, semuanya kesukaan Anggia. Mau?" tanya Dini agak ragu karena itu hadiah yang sepertinya terlalu biasa menurutnya. Tapi apakah putrinya mau menerima?
"Mau mama! Mau bangeeeeeet! Anggia mau!" Anggia justru terlihat sangat antusias. Wajahnya berbinar, seakan menghapus semua gundah dalam hati Dini.
"Kue ulang tahunnya yang besar ya Mama!"
"Iya Sayang, mama pasti buatkan. Tunggu ya."
Lega dirinya. Kalau hanya untuk membuat makanan pasti ada bahan-bahannya di dapur. Setidaknya Dini tidak harus keluar uang. Ya meski dia memanfaatkan uang Rio. Tapi bukankah Rio juga sudah mengambil bayaran dari dirinya sehingga Dini bisa menggunakan apapun yang ada di sana?
Dini berusaha tebal muka dan dia ke dapur untuk mempersiapkan kue ulang tahun dan makanan kesukaan Anggia. Pelayan, seperti biasa kalau Dini sedang membuat sesuatu di dapur, mereka hanya membantu saja sesuai yang diperintahkan Dini.
Dini pun mulai berkreasi!
Awalnya dia masih meraba-raba apa yang ingin dibuat olehnya tapi setelah semua bahan-bahan itu sudah dipersiapkan, Dini mulai fokus. Dia melupakan semuanya dan kalau sudah di dapur, memang Dini tidak akan memperhatikan apapun yang ada di sekitarnya.
Apalagi sekarang Dini sedang menghias kue ulang tahun untuk putrinya setelah tadi selesai memasak untuk makan siang mereka. Dini dengan waktu yang tersisa ingin kue itu selesai tepat sebelum makan siang. Kue dengan dekorasi kesukaan Anggia. Banyak cream, topping yang Dini yakin, anaknya pasti suka.
Makanya dia tidak memikirkan apapun yang ada di sekitarnya.
Sampai satu suara kembali mendistraksinya
"Anakmu itu menderita thalasemia. Tapi mau disuruh makan makanan dengan karbo tinggi terus kah?"
Dini tak tahu apakah orang itu tidak punya kerjaan sampai jam segini di waktu makan siang bisa keluar dari kantornya lalu sudah berniat mengganggunya lagi?
"Apa kau ingin anakmu cepat mati?"
Dan sudahlah! Cukup berbasa-basinya. Semakin didengarkan ucapannya, semakin mengganggu telinga Dini dan memporak-porandakan emosinya yang sudah stabil. Dini ingin mengusirnya.
"Yang pertama, kue yang saya buat ini rendah karbo dan bahkan tidak menggunakan karbohidrat tinggi. Sesuai untuk diet penderita thalasemia. Meski terlihat mewah dengan krim-krim ini tapi semuanya aman. Dan ini tidak untuk dimakan satu kali olehnya semua. Hanya sebagian kecil dan sisanya akan dibagikan ke perawat dan pelayan di sini," ucap Dini yang masih berusaha menetralkan pikirannya dan dia mencoba mengingat-ingat apa yang Rio lakukan untuk putrinya hari ini.
"Yang kedua Saya ingin berterima kasih untuk kado yang Bapak berikan pada putri saya juga sudah mau menemaninya tadi malam. Padahal saya pikir Bapak itu pulang karena sudah ada panggilan dari istri Bapak!"
"Cemburu bilang, gak perlu menyidir."
Menyesal Dini bicara begitu. Seharusnya dia tidak perlu membahas masalah yang saat tadi.
"Yang ketiga saya hanya cemburu pada pria yang saya cintai. Bukan pria yang menikah dengan saya dengan pernikahan kontrak."
Lagi Dini kembali menunjukkan senyum di bibirnya sebelum matanya melirik sarkas pada Rio.
"Yang keempat, saya tidak tahu kalau orang penting ternyata bisa keluar masuk kantor seenaknya dan dia meninggalkan kantor untuk mengganggu orang yang tidak bernilai untuknya."
Dini sih berharap kalau di sindir seperti itu Rio akan pergi.
Tapi sayangnya dia malah mengeluarkan handphone dan menunjukkan sesuatu pada Dini.
[Maaf mengganggu Pak Rio. Nona Anggia meminta tolong pada saya untuk menghubungi Anda dan meminta datang nanti siang karena dia ingin memberikan potongan kue ulang tahun untuk Anda.]
Pesan yang dikirimkan satu setengah jam yang lalu.
Rasa-rasanya Dini ingin sekali mengulang waktu dan mengingatkan pada putrinya untuk tidak mengundang Rio.
Memang sih Rio yang sudah memberikan hadiah pada Anggia tapi tetap saja Dini risih jika ada Rio juga diundang datang.
"Jadi, mana kopiku?"
Sudah tahu kalau Dini masih menghias kue tapi tanpa tahu malu Rio sudah meminta sesuatu yang memang dari dulu menjadi favoritnya.
"Sebentar!"
Dini terpaksa meninggalkan kuenya dan kini sibuk membuat piccolo latte kesukaan Rio. Dini memunggungi Rio dan dia tidak memperhatikan apapun kecuali mengumpat dalam dirinya sendiri karena Rio yang terus mengganggunya.
Tanpa Dini sadari, Rio sudah memberi tanda pada semua pelayan untuk meninggalkan tempat itu dan juga mengirim pesan pada kepala pelayan agar mereka tidak ke dapur sampai Rio mengizinkannya lagi.
Dan kini diam-diam Rio yang masih mengawasi wanita yang tengah sibuk membuat kopi. Entah apa hasrat yang ada di dalam benaknya, Rio juga sudah berjalan mendekat pada Dini, sebelum kedua tangannya berhasil mengejutkan Dini.
"Pak Rio, apa tidak malu jika dilihat pelayan, Anda memeluk saya? Lepaskan saya!"
***
BERSAMBUNG
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomantikDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
