"Apa dipikirnya Aku tidak membutuhkan pakaian?"
Kalau tidak khawatir Rio akan memisahkan dirinya lebih lama dengan Anggia, Dini tentu sudah memecahkan kaca wardrobe. Dini yang masih berusaha bersabar, mecoba mencari solusi lain.
Tapi apakah mungkin ada beberapa lemari yang tidak terkunci?
Dini yang sudah hampir putus asa. Dia mencoba membuka satu persatu pintu kaca wardrobe berharap ada salah satu yang tidak terkunci karena kelupaan.
Dia juga mencoba menarik semua laci yang dilewatinya berharap akan menemukan kunci atau menemukan pakaian ganti yang tidak harus diambilnya dari lemari.
"Memang yang ini bisa dibuka kacanya. Tapi masa iya aku harus memakai baju seperti itu sih? Maunya apa coba? Melecehkan aku?"
Dan ternyata harapan Dini itu terjawab. Ada satu lemari kaca yang memang tidak terkunci hanya saja, baju di dalamnya semuanya hanya lingerie. Dini jadi resah!
Apa Rio memang hanya ingin dia memakai itu?
Dini sebenarnya ingin memilih masuk ke dalam selimut ketimbang harus mengambil salah satu pakaian itu
Tapi jika dipikir ulang, bukankah menemukan satu macam pakaian itu lebih baik daripada dia tidur polosan di dalam selimut sedangkan Dini tidak pernah melakukan hal itu sebelumnya?
Berbekal pertanyaan pada dirinya sendiri dan mencoba memikirkan ulang apa yang terbaik untuknya, Dini akhirnya mengambil keputusan memakai salah satu pakaian tidur wanita dewasa yang tidak pernah disentuh olehnya saat dulu dirinya menikah dengan Satrio, Dini tidak pernah berkeinginan untuk memakai baju macam itu.
Namun malam ini dirinya terpaksa.
"Pulas sekali tidurmu! Apa terlalu enak karena tadi malam sudah dapat kepuasan?"
Tadi malam, Dini tidak bisa tidur karena selain memikirkan tentang putrinya, dia juga merasa tidak nyaman dengan baju yang dikenakannya. Bukan hanya itu. Perlakuan Rio juga membuatnya tak bisa tenang.
Itulah kenapa dirinya bangun kesiangan.
"Selamat pagi! Apa saya bisa menemui Anggia sekarang? Dan apa saya bisa pakai pakaian model lain?" tanya Dini yang kini dalam posisinya duduk tapi masih menutupi tubuhnya dengan selimut sampai ke bawah leher.
Dini bertanya pada pria yang duduk di sofa dan seakan tidak mendengar ucapan Dini, dia hanya sibuk saja dengan tabletnya
"Saya yakin sekali Bapak pasti mendengar yang saya katakan! Anggia-"
"Dia aman bersama dua susternya dan tenang saja, kami punya alasan saat dia bertanya di mana ibunya sampai enam hari ke depan saat ibunya sudah menyelesaikan hukuman, baru dia bisa bertemu."
Dini ingin protes! Sayangnya pria itu sudah lebih dulu menyelak.
"Para beauty akan mengurusmu di sini. Seorang dokter kulit juga akan datang. Ikuti saja apa yang mereka perintahkan padamu. Jangan menolak dan jangan membuat masalah karena aku bisa menambah waktu hukumanmu lebih lama lagi untuk bertemu Anggia."
"Pak Rio, Anda kejam sekali!"
"Lebih kejam mana dari seorang wanita yang tahu, kekasihnya sangat mencintainya tapi pergi bersama pria lain dan mengingkari janjinya?"
Lagi lagi pembahasan yang tidak sesuai dengan konteks menurut Dini.
"Saya tidak pernah tidak bertemu dengan Anggia selama seharian. Kalau Anda ingin membalas dendam Anda pada saya, lakukan saja pada saya, bukan pada putri saya!"
"Tidak pernah tidak bertemu seharian. Kemarin seharian kamu kemana?"
Rio tak peduli. Dia tetap ada pendiriannya dan kembali menyindir Dini.
"Saya-"
"Aku terlalu sibuk untuk menjawab pertanyaanmu dan mendengarkan semua alasanmu," ujar Rio yang sudah memotong ucapan Dini lagi, sambil menunjuk ke arah meja.
"Jangan membuat masalah jadi semakin rumit! Makan sarapan pagimu dan lakukan semua yang disarankan para beauty dan ikuti saran dokter. Mereka akan membantumu untuk terlihat pantas di hadapanku dan membuatku bergairah."
"Pak Rio!"
"Apa?" tatapan dingin itu kembali memindai Dini. "Melihatmu kemarin tanpa pakaian saja tak sama sekali membuatku bangun. Bagaimana pembuahan itu bisa terjadi kalau aku tidak tertarik padamu karena tubuhmu terlalu kerempeng, wajahmu kusam, dan lemah!"
Wajah Dini terasa panas mendengar ucapan Rio. Tapi dia juga tidak punya kekuatan untuk menjawabnya karena suaranya tercekat di kerongkongan.
Rio memang menyebalkan! Dia memiliki Anggia sehingga Dini terpaksa mengikuti tindakan yang sudah disiapkan oleh dokter dan membiarkan para beauty melakukan apa saja pada tubuhnya sesuai dengan permintaan Rio.
Dini juga tidak menyangka kalau Rio juga akan mendatangkan alat-alat penting untuk mendukung perawatannya. Bukan hanya wajahnya saja yang menjadi konsen dokter dan beauty. Semuanya, sampai ke bagian sekeliling pangkal kaki Dini, ini juga dirawat. Sampai Dini merasa jengah. Masalahnya semua perlakuan itu di dalam kamarnya. Dan Dini merasa CCTV atau kamera pengintai hanya membuat tubuhnya terekspose. Dini tak suka.
Awas saja kalau Rio datang, Dini akan protes.
"Kemarin kalian sudah melulurku dan dokter juga sudah merawat tubuhku lalu apa sekarang juga harus melakukannya lagi?"
"Benar ibu Dini. Kami diperintahkan untuk merawat kulit ibu dan memastikan tidak ada kesalahan ibu pakai cream-creamnya. Kami juga harus datang ke sini untuk memastikan makan ibu dan Pak Rio juga meminta training khusus untuk menambah berat badan, untuk kekuatan, dan menambah massa otot Ibu."
Dini tak tahu seberapa penting semua latihan yang Rio minta Dini ikuti. Bukan hanya yoga, tapi beberapa jenis olahraga untuk menambah kekuatan juga harus dilakukan olehnya di dalam kamar.
Andai Dini tahu kalau hukuman mengikuti tes memasak itu seperti sekarang, maka Dini memilih untuk tidak melakukannya.
Mungkin ada cara lain untuk mendapatkan uang dari berjualan online? Atau Dini bisa ikut dropshipper, dan lainnya.
Entahlah! Dini sudah buntu.
Tapi yang pasti sekarang. setiap harinya Dini selalu merasa kelelahan setelah training dan perawatan yang dilakukan oleh para beauty.
Hari berganti hari, rasanya semakin berat saja! Apalagi dia sudah rindu dengan putrinya dan Rio juga tidak menampakkan batang hidungnya sehingga Dini tidak bisa protes hingga hari yang ditetukan tiba.
"Sudah seminggu. Tolong bawa saya bertemu dengan Anggia!" pinta Dini sesaat setelah pintu kamarnya dibuka dan pria yang ditunggu-tunggu olehnya kini muncul di hadapannya.
"Pak Rio! Saya rasa Anda tidak tuli dan bisa mendengar yang saya katakan! Saya ingin bertemu dengan putri saya Anggia! pekik Dini, tak terima tidak dipedulikan.
Rio membuat Dini makin gemas dengan tingkahnya yang hanya melirik Dini lalu duduk di sofa seakan tidak pernah merasa bersalah.
"Pak Rio!"
"Jangan meninggikan suaramu di hadapanku! Ancamanku masih tetap sama untuk menghentikan biaya pengobatan Anggia yang ternyata lumayan besar."
"Apa maumu?" seru Dini emosi.
"Berdiri di hadapanku!"
"Mau apa? Aku tidak mau!"
Dini memang masih bersembunyi di balik selimutnya karena tadi dia juga sebetulnya ingin tidur tapi karena orang yang ditunggunya sudah datang kantuknya hilang.
"Sayangnya tidak ada pilihan untukmu menolakku! Berdiri di hadapanku atau hukumanmu akan semakin lama bertemu dengan Anggia!"
Dini tak berhenti mengumpat dengan semua sumpah serapah di dalam hatinya dan tentu saja kebun binatang seakan pindah ke dalam kamar. Dini terpaksa berdiri mengikuti perintah Rio
"Kenapa masih diam? Apa Bapak lupa cara berkomunikasi?" cicit Dini yang sudah semakin tak sabaran dengan ketenangan orang yang ada di hadapannya.
"Lucuti pakaianmu, lalu mendekat, buat aku bergairah!"
(Bersambung)
***
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomanceDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
