BAB 26: PENGORBANANKU

694 27 9
                                        

"Eh itu-"

"Kamu pikir aku tidak tahu soal kartu itu? Aku ini pria bodoh seperti kekasihmu masa kuliah dulu?"

Rio kini tidak menatap Dini. Matanya seperti biasa lurus ke depan hanya tangannya saja yang terbuka masih menanti kartu yang tadi dimintanya.

Dini juga tidak tahu sejak kapan Rio mengetahui soal kartu itu. Apa sudah lama? Atau itu baru saja terjadi tadi karena Satrio yang berkoar-koar masalah dua kartu di tasnya?

Dini hanya pasrah membuka tasnya dan memberikan dua kartu itu.

"Saya tidak tahu mana yang punya Anda dan mana yang punya Mas Darsa," ucap Dini yang juga malas memandang Rio dia memilih menatap ke depan sama seperti pria itu bersikap.

Dini tidak merasa bersalah karena dirinya tidak meminta kartu itu dari Darsa. Dia juga tidak pernah menggunakannya. Dia juga tidak menghubungi Darsa. Kalau dia melakukannya, bukankah berarti Rio akan tahu?

"Pegang yang satu ini!"

Rio juga tidak berbasa-basi dengannya. Dia melihat kartu itu dan dia yang tentu saja tahu yang mana kartunya dan bukan. Rio menyerahkan lagi kartu miliknya pada Dini.

"Sepertinya dia cukup akrab denganmu sampai cara memanggilmu juga begitu halus padanya."

"Mas Darsa?" tanya Dini sambil mengambil kartu yang diberikan Rio.

"Dia juga akrab dengan mantan suamimu."

"Ah, benar, yang Anda maksud Mas Darsa! Ya, dia itu sepupunya Satrio. Saya mengenalnya lebih dulu daripada Satrio. Dia sering ke rumah orang tua saya bersama dengan ayahnya sejak kecil. Dia sudah seperti kakak kandung."

"Ah, ternyata banyak hal yang tidak kutahu tentang dirimu. Karena memang aku bukan pria penting. Tidak perlu terlalu banyak cerita pada orang miskin tentang circle orang kaya, kan?"

Yah, dulu, saat Rio berpacaran dengan Dini, dia tidak pernah mendengar nama Darsa disebut oleh wanita itu. Makanya lagi-lagi dia kembali menyindir Dini.

"Saya dekat dengannya saat kecil. Tapi setelah dewasa, saya tidak pernah bertemu dengannya. Saya berkomunikasi lagi dengannya, dia sudah menikah dan saya datang ke acara nikahannya. Keluarganya cukup berperan dalam hubungan saya dengan Satrio. Jadi Mas Darsa cuma merasa bersalah saja karena Satrio sudah mengambil semua milik saya, peninggalan orang tua saya dan dia meminta saya menjelaskan padanya apa permasalahan saya dengan Satrio dan dia berjanji untuk mengambil kembali semua milik saya yang sudah diambil alih Satrio itu."

Bahkan Rio juga tidak tahu tentang kisah ini. Satrio mencuri harta Dini? Bagaimana kisahnya?

Di rumah sakit, Dini hanya bercerita kalau dirinya bercerai saja dengan Satrio tapi tidak menceritakan semua tentang kehidupannya.

Ini pertama kalinya dia mendengar. Dan ini sebenarnya menarik. Tapi ada rasa kesal juga karena dia mendengar cerita ini bukan yang pertama. Darsa lah yang dipercaya Dini.

Sebegitu percayakah Dini pada Darsa?

"Dia duda sekarang. Kekayaannya juga terus bertambah dari hari ke hari karena nilai sahamnya terus naik. Dia juga orang yang ulet dalam berbisnis. Pilihanmu ternyata tepat juga. Tidak pernah lepas dari orang-orang kaya dan berusaha berlindung dengan kekayaan mereka."

Lagi-lagi jawaban yang membuat Dini memanas hatinya. Dia tidak pernah berpikir untuk dekat dengan Darsa hanya untuk uangnya.

"Mas Darsa masih mencintai istrinya Delora dan Mereka adalah pasangan yang serasi. Saya yakin sekali ada masalah kesalahpahaman saja di antara mereka. Hubungan saya dengannya sudah saya jelaskan hanya sebatas seperti adik dan kakak. Tidak lebih dari itu. Dia tidak pernah mencintai saya seperti seorang pria mencintai wanita. Itulah kenapa keluarga saya tidak menjodohkan kami."

Sewa Rahim MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang