BAB 25: TAK MERESPON

564 25 6
                                        

"Saya tidak bercerita apapun padanya dan saya juga tidak janjian. Saya tidak tahu kalau dia datang ke mall ini, saya juga tidak tahu Mall ini miliknya. Saya sudah jelaskan semuanya. Tolong, jangan ada kesalahpahaman."

Dini mencoba menjelaskan yang terjadi sampai dia berada di ruangan Darsa pada pria yang duduk di sampingnya tapi tak ada satu suara pun respon darinya.

Dia masih tetap diam membeku dan membuat suasana jadi sangat mencekam di dalam mobil.

Mana Dini hanya duduk berdua bersebelahan dengannya dengan sekat antara penumpang dengan pengemudi yang dinaikkan jadi Dini mati kutu.

Baik kalau Anggia masih ada bersama dengannya tapi tadi saat Dini ke tempat bermain ingin menjemput, ternyata Anggia sudah pulang bersama susternya. Hanya pria yang bersamanya sekarang yang menunggu di dalam mobil di parkiran.

Padahal Dini tidak bersalah tapi rasanya tegang betul berada di sampingnya. Masih mending kalau dimarahi. Setidaknya Dini tahu responnya marah atau tidak tapi kalau sekarang tak ditegur?

Tatapannya kaku menatap ke depan seakan-akan dia patung. Lalu sekarang Dini harus melakukan apa? Ikut diam sajakah?

Yah, setelah menimang-nimang karena tidak ada respon, Dini akhirnya hanya menatap ke arah luar jendela sebelah kirinya. Dini pasrah.

Mobil itu mau melaju ke mana juga dia tidak memperhatikan karena sekarang fokusnya meredam rasa kesal pada orang di sampingnya yang masih tidak bicara.

"Maaf Pak Rio."

Inginnya Dini, dia juga melakukan aksi diam. Tapi sayang saat ini perutnya tidak bisa dikontrol. Ada bunyi yang membuatnya tak enak pada Rio. Perasaan Dini dia sudah makan pagi tadi sampai habis makanan yang disipakan Rio. Tapi kenapa perutnya malah berbunyi seperti orang yang kelaparan?

Ini memalukan! Jengkel sekali Dini pada dirinya sendiri. Tak berhenti Dini mengumpat di hatinya sampai mobil berhenti di satu tempat yang rasanya tak asing.

"Masih mau diam di sana?"

Mereka di pinggir jalan. Ini belum sampai ke rumah tapi pria di sampingnya sudah memerintahkan Dini untuk turun. Terpaksa Dini yang gugup keluar dan mengikuti Rio yang sudah turun tanpa mengenakan jasnya. Bahkan dia menggulung lengan kemejanya sampai siku.

"Selamat siang, Bu! Saya pesan soto lamongannya dua, seperti biasa ya," serunya yang tak malu untuk duduk di kursi plastik saat dirinya memesan juga.

Dini juga baru sadar kalau dia sudah tidak lagi mengenakan dasinya dan kancing kemeja atasnya sudah terbuka. Dini masih melongo, tak yakin Kalau pria yang sudah kaya raya itu masih mau duduk di warung tenda. Padahal seingat Dini sikapnya sangat sombong sekali sekarang.

Apa pria itu belum berubah? Atau bagaimana cara berpikirnya? Kenapa Dini makin bingung?

"Wah, Mas Rio apa kabar? Sudah lama tidak main ke sini dan ... ya ampun, ini mbak Dini kan? Kalau ibu gak salah ini kan --"

"Eh, I-ibu masih inget saya?" Dini kaget, segera dia mengalihkan fokus pada sang penjual soto.

"Ya inget dong. Dulu kan sering banget ke sini beli soto sama Mas Rio. Hampir tiap hari mampir. Ya gak mungkinlah Ibu lupa."

Dini hanya tersenyum dan jujur saja dia canggung saat ikut duduk di samping Rio. Perasaannya jadi tidak enak. Pada ibu warung yang dulu selalu akrab dengannya dan sering Dini sapa, sekarang malah Dini tidak berani berkata apapun. Khawatir akan salah bicara apalagi ini di muka umum.

Rio yang ada di sampingnya adalah suami dari seorang wanita terpandang dan kini duduk di warung tenda bersama dengannya. Bagaimana kalau ada orang yang mengenali Rio? Dini tak mau cari masalah.

"Maaf Pak, tapi seharusnya tidak perlu khawatir dengan perut saya yang tadi bunyi.Palingan cuman karena masuk angin saja. Tadi pagi saya makannya banyak kok. Nggak harus makan di sini," bisik Dini yang tak tahu bagaimana sebenarnya pikiran Rio. Tapi dia juga tak mau suaranya terdengar siapapun.

Rio masih diam. Dini tak mengerti apa juga alasan Rio dia mengajak Dini beli soto? Nostalgia? Tidak mungkin, kan! Mereka tidak punya ikatan yang layak sebagai seorang teman. Apalagi lebih. Rio membencinya. Lalu untuk apa dia berada di sana bersama Dini?

Apa ini adalah cara Rio untuk menyakitinya lagi, mengingatkannya pada masa lalu, dan menghinanya lagi sebagai penghianat di antara hubungan mereka?

"Kalau tidak suka dengan sikap saya tidak perlu menyudutkan saya terus-terusan seperti ini dan mengajak saya ke tempat umum. Bagaimana kalau ada laporan yang tidak sedap nanti?" bisik Dini yang sudah berusaha bicara sepelan mungkin tapi lagi-lagi dia seperti bicara dengan angin karena pria itu tidak bicara satu kata pun padanya.

Tatapannya datar, tidak dingin dan juga tidak menunjukkan kemarahannya. Tapi Rio tidak merespon Dini juga. Dia hanya menatap ke arah penjual warung dan tersenyum padanya saat makanan sudah diantarkan.

"Terima kasih ya, Bu. Selalu ngangenin kalau makan di sini."

"Iya selamat makan Mas Rio dan Mbak Dini. Mudah-mudahan rasa sotonya ndak beda ya sama dulu. Soalnya kata Mas Rio udah nggak pernah ngajak Mbak Dini ke sini lagi, karena selera makanannya Mbak Dini udah berubah."

"Iya Bu, terima kasih. Selalu ngangenin kok sotonya." Dini menjawab kikuk.

Dia jadi ingin tahu lebih apa saja yang dibicarakan Rio pada ibu penjual soto langganannya itu.

Soto yang terletak tidak jauh dari tempat Rio dulu koas. Dini dan Rio sering makan di sana karena dia sangat suka sekali dengan soto di warung tenda pinggir jalan itu.

Sampai sekarang pun jualannya masih di tenda dan rasanya tidak berubah. Dini sudah tidak pernah muncul di sana. Tapi dia tidak menyangka saja kalau Rio masih sering datang.

Meski Dini tak tahu seberapa sering Rio ke sana. Dini yakin tempat itu bukan tempat yang tepat untuk mereka datangi karena hanya akan memberikan rasa sakit dari kisah masa lalu mereka.

Tapi kenapa Rio seakan tidak bermasalah? Dia bahkan bisa menikmati soto dengan tenang sedangkan Dini terus saja memikirkan tentang keakraban mereka saat makan soto di zaman dulu ketika hubungan mereka masih sangat hangat.

Apa ini karena Rio sudah move on darinya makanya sudah bisa menikmati makanan itu sedangkan Dini masih terbelenggu dengan cinta masa lalunya sampai makan saja menelannya pun rasanya sulit.

"Ini tissue. Kalau mau menangis tidak perlu mengambil sambal terus-terusan. Kasihan yang membuat sambal kalau dihabiskan olehmu. Cabai sekarang lagi mahal."

Dini pikir Rio tidak memperhatikan dirinya yang kembali mengingat tentang masa lalunya dengan Rio. Sampai rasanya pengap hati Dini dan sulit untuk mengendalikan emosinya.

Air mata itu tumpah tanpa direncanakan. Dini jadi malu. Padahal dia sudah berusaha menutupi seakan-akan dirinya sedang kepedasan. Ternyata Rio masih memberikan perhatian yang sama seperti dulu.

"Kenapa harus ke sini? Dan seberapa sering kamu ke sini? Inikah alasan kenapa kamu tidak bisa melupakan masa lalu kita dan terus dendam padaku? Karena kamu terus-terusan mengingat tentang jejak masa lalu kita. Jadi siapa yang tidak bisa move on?" suara Dini pelan. Dia berharap bisa mengendalikan dirinya tapi ternyata ini memang tidaklah mudah! Air matanya terus keluar dan dia berusaha sekuat mungkin untuk menutupinya dari orang-orang dengan menunduk, seakan-akan sedang makan dan dia menutupi dengan rambutnya supaya orang tidak melihat jelas Bagaimana mimik wajahnya.

Tapi apa tebakan Dini itu benar?

"Soto di sini yang paling enak. Aku makan di sini karena aku suka sotonya. Mungkin kamu saja yang baper karena banyak dosa!" seru Rio sambil berdiri dan sudah mendekat pada penjual warung dan mengobrol sejenak sebelum membayar makanan mereka.

Dini tak menyangka kalau Rio bisa secuek itu.

Dengan cepat, Dini meminum air jeruk yang dulu juga sering dipesan olehnya. Selepas itu dia mengikuti Rio keluar padahal soto dipiringnya belum habis. Beda dengan mangkuk Rio yang sudah bersih sampai kuah-kuahnya pun tidak tersisa setetes pun. Dini sudah kehilangan selera makan karena kenangan masa lalunya.

"Berikan padaku!" dan di dalam mobil yang sudah melaju, Dini bingung saat Rio sudah membuka telapak tangannya.

"Apa?"

"Kartu yang diberikan oleh Darsa padamu. berikan padaku!"

Sewa Rahim MantanCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang