"Pak Rio, tidak puaskah Anda melecehkan saya dan ingin mengulanginya lagi di hari ulang tahun putri saya?"
"Apa seorang suami menyentuh istrinya itu namanya pelecehan?"
Rio membalikkan badan Dini dan menatap wajah kesal Dini dengan posisi yang sangat dekat sekali. Jadi saja, Dini yang tingginya cuma sebahu Rio jadi nervous.
Apa lagi pas dirinya mendongak, tepat sekali mata Dini mengarah ke bibir Rio.
"Kenapa memperhatikan bibirku? Ingat kecupan semalam dan ingin lagi?"
Ah, sial sekali! Dini sama sekali tidak menginginkan itu. Tapi ya kenapa juga netranya terpaku ke sana? Pandai saja Rio memanfaatkan keadaannya.
"Boleh juga, Anda mau melayani saya dengan kecupan itu lagi? Mumpung Anda belum menceraikan saya, kayaknya saya bisa menikmati itu dulu. Sebelum nanti, kalau saya sudah melahirkan anak itu kan saya tidak bisa lagi merasakan service plus-plus dari Bapak Rio Ravindra."
Masa bodo lah Rio mau suka atau tidak suka. yang penting Dini sudah membalasnya. Enak saja! Memang hanya Rio saja yang bisa bicara se-asal itu? Meski saat ini Dini miskin, tapi dia tidak mau kalah!
Dan lagi sekarang Dini terdistraksi dengan telepon yang masuk ke handphonenya. Dirinya jadi gelagapan dan segera mungkin mengambil handphone tersebut. Tanpa peduli ada pria di hadapannya yang masih memperhatikan tindak tanduknya.
"Apa aku boleh mengangkat telepon ini?"
Dini tidak memutuskan sendiri. Dia malah menunjukkan teleponnya membiarkan Rio sendiri yang mengambil keputusan.
"Itu teleponku bukan teleponmu. Seharusnya kamu bisa menentukan sendiri apa kamu akan mengangkatnya atau tidak!"
"Ah, begitu ya?" Dini manggut-manggut
"Apa? Kenapa senyummu seperti itu?" tanya Rio sebal saja. "Kalau mau angkat angkat saja!"
"Baiklah, kuangkat ya!"
Sebetulnya kalau dilihat dari cara Rio menjawab dan tatapannya pada Dini, bisa dilihat kalau Rio tidak suka Dini mengangkat telepon itu.
Tapi wanita yang ada di hadapannya seakan tak peka dan sudah memencet tombol hijaunya.
Dini: Halo Mas Darsa?
Nah yang menelepon adalah Darsa! Pantas saja Rio wajahnya sudah sengit seperti itu!
Apa lagi yang diinginkan oleh pria itu?
Sehingga terlintaslah apa yang tadi terjadi sebelum dirinya bertemu dengan Dini
Flashback ON
"Hai Sayang, aku sudah tidak sabar sekali bertemu denganmu! Jadi malam ini kita mau check in?"
"Ish, menjauh dariku Brahma!" Rio merasa risih sekali dengan temannya yang Baru saja datang dalam ruangan Teddy dan sudah ingin memeluknya
"Hei, tadi malam kan Bang Rio bicara denganku sayang-sayangan! Tapi kenapa sekarang malah menghindar dariku? Ayo dong! Jadi mau lubangmu atau lubangku yang dimasukkan?"
"Hahaha, Rio, jadi lo sayang-sayangan sama Brahma? Wah kedoyanan lo udah berubah jadi pentungan nih? Hahaha!"
Teddy sampai tergelak mendengar kelakar Brahma. Memang yang tadi malam telepon Rio itu bukan istrinya. Tapi salah satu sahabatnya.
Tapi entah kenapa dia iseng saja di hadapan Dini seakan-akan yang meneleponnya itu adalah Christa. Dan tadi malam dia juga tidak pergi kemanapun! Keluar dari kamar Dini dia langsung menuju kamar Anggia. Sedangkan temannya sendiri tidak mengajak untuk bertemu tadi malam.
Dia hanya ingin menanyakan sesuatu tapi bukan mendapat jawaban justru sapaan seperti yang didengar Dini sebelum teleponnya ditutup tanpa dia bisa bertanya apa yang ingin diketahuinya.
Dan memang Rio sudah yakin, dia pasti akan jadi bulan-bulanan teman-temannya karena ulahnya sendiri.
"Jadi, kemarin lo lagi sama Dini ya?" tanya Teddy yang makin kepo sedangkan Rio sendiri sudah bangkit dari tempat duduknya merasa terganggu dengan Brahma yang berusaha untuk mengganggu tubuh Rio. Seakan-akan dia benar-benar seperti seorang laki-laki penggoda yang ingin menggoda Rio
"Minggir dan menjauh Brahma! Risih banget gue!" protes Rio yang Tentu saja tidak konsen dengan pertanyaan Teddy dan lebih menjaga kelaki-lakiannya yang terganggu oleh Brahma.
"Masa begitu saja mau menghindar? Kemarin katanya Sayang. Ayolah sentuh-sentuh dikit nggak apa-apa kan?"
Teddy sebetulnya merasa terhibur dengan kelakar kedua temannya ini. Cuma sayangnya ruangannya diketuk oleh seseorang sehingga Dia menepuk kedua tangannya supaya kedua temannya yang sepertinya tidak peduli dengan ketukan itu kembali kesadarannya.
"Hei, gue lagi ada tamu. Kalian coba jaga sikap dulu! Brahma, tolong buka pintu dulu."
Wah Padahal dia belum puas menggoda Rio. Apalagi jarang-jarang mereka bisa membuat Rio kewalahan seperti ini.
Diantara mereka bertiga yang paling dingin dan jarang sekali bercanda itu kan Rio. Dan sekarang mereka dapat hiburan tapi terpaksa tidak bisa melanjutkannya! Ah menyebalkan. Siapa pula yang datang ini?
Awas aja kalau tidak penting! Brahma sudah berniat akan segera mengusirnya.
"Ehm, Anda-"
"Darsa Dewandaru. Saya ingin mencari Rio Ravindra Dan saya yakin sekali beliau ada di dalam. Orang saya tadi sudah memberitahukan tentang keberadaannya."
Suasana di dalam jadi agak sedikit tegang.
Mereka tentu mengenal siapa Darsa Dewandaru. Beliau termasuk dalam peringkat sepuluh orang terkaya di Indonesia. Meski Bukan dalam urutan tiga besar teratas, tapi tetap saja, peringkatnya lebih tinggi daripada keluarga Christa. Ada apa dia mencari Rio?
Kedua teman Rio itu tidak tahu jawabannya tapi mereka menyingkir membiarkan Darsa masuk dan menatap Rio yang kini juga sudah terlihat tidak terlalu menyukai kehadirannya.
"Ted, boleh pinjam ruangan lo bentar?"
Kedua temannya tidak tahu ada masalah apa dengan Rio tapi Teddy sudah berdiri dan menghampiri Brahma yang ada di dekat pintu.
"Kita ke ruangan rapat duluan ya Rio. Nanti kalau urusan lo udah selesai langsung aja nyusul."
Rio memang punya saham di rumah sakit itu jadi hari ini akan ada rapat pemegang saham dengan petinggi rumah sakit makanya mereka memang sudah berkumpul di ruangan Teddy. Dan sebetulnya pembicaraan yang ingin dibahas oleh Brahma tadi malam ada hubungannya sama rapat kali ini juga.
Tapi sudahlah, mereka tak mau mengganggu dan sudah meninggalkan Rio dengan satu orang yang kini sudah menutup pintu ruangan Teddy.
"Tumben sekali Pak Darsa mencari saya. Ada yang bisa saya bantu?"
"Kalau membantu saya sih tidak! Tapi saya butuh penjelasan. Dan kira-kira di mana saya bisa duduk?"
Darsa itu sangat sopan sekali Dia tidak sembarangan bicara dan sikapnya juga tidak membuat orang lain merasa terlalu terintimidasi.
Hanya saja kedatangan Darsa kali ini tidak diprediksi oleh Rio
Dia yakin sekali ini pasti ada hubungannya dengan wanita yang tadi sedang dibahas oleh kedua temannya.
"Silakan, kita bisa bicara di sofa," ucap Rio yang semakin tak sabar ingin tahu pembahasan apa yang ingin disampaikan Darsa
"Apa saja yang sudah Anda cari tahu tentang saya?" tanya Rio setelah dia melihat Darsa sudah dalam posisi cukup nyaman.
"Baiklah Saya tidak akan berbasa-basi." Darsa menaruh satu berkas yang dari tadi memang ditentengnya.
"Bisa tolong dijelaskan tentang ini semuanya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Sewa Rahim Mantan
RomanceDini Putri Lestari terpaksa membiarkan dirinya terjebak dalam hubungan yang sulit dengan Rio Ravindra karena menawarkan diri menjadi ibu pengganti yang akan mengandung anak Rio dan istrinya Christa. Dini tak ada pilihan karena harus membiayai pengob...
