[21] True Villain

106 4 0
                                        

Sunghoon dan Jaeyun kini berjalan mengitari rumah dan sudah berjalan jauh sampai melewati perbatasan komplek rumah Sunghoon, mereka hanya berputar-putar sejak tadi sambil berpikir. Baru saja Sunghoon menelfon Jaeyun karena dia merasa tidak nyaman dengan sosok Yeji di rumahnya.

Yeji yang ada di rumah lebih suka diam dan tidak berbicara apapun. Bahkan untuk makan saja dia tidak bernafsu, tidak seperti biasanya. Tapi di mata orang tua mereka itu seperti biasa saja, yang bisa melihat keanehan itu hanyalah Sunghoon.

Jaeyun yang tidak memiliki pekerjaan juga menyetujui usulan Sunghoon untuk berkeliling mencari Yeji, siapa tau mereka akan mendapatkan petunjuk.

Sebuah bayangan yang mengganggu pandangan Sunghoon berjalan tidak jelas. Sunghoon terus memperhatikan pergerakan bayangan itu dan terlihat juga, bahwa yang dia yakini sebagai bayangan itu adalah Heeseung dan juga Jongseong yang sedang melihat-lihat rumahnya.

"Jae, liat itu,"tunjuk Sunghoon kepada Jaeyun.

Jaeyun mengikuti arah jari Sunghoon. Dia bisa melihatnya dengan jelas. Heeseung dan juga Jongseong tidak kunjung pergi. Sunghoon dan Jaeyun memutuskan untuk menghampiri mereka berdua.

"Ekhem."

Heeseung dan juga Jongseong hampir saja terjatuh jika tidak saling berpegangan. Kedatangan Sunghoon dan juga Jaeyun tidak bisa mereka tebak.

"Ngapain?"tanya Sunghoon.

"Ngga,"jawab Jongseong.

"Liatin rumah orang, kaya maling,"sahut Jaeyun.

"Udah lah Jae, ayo pergi."

Jaeyun dan Sunghoon pun kembali berjalan menjauh. Entah angin dari mana, Heeseung dan juga Jongseong mengikuti mereka. Terbesit sebuah pikiran jahat di benak Sunghoon tapi Jaeyun menahannya untuk tidak melakukan hal yang tidak perlu.

"Kalian ngapain sih ngikutin?"tanya Jaeyun.

"Yeji yang ada di rumah lo itu kosong,"ucap Jongseong kepada Sunghoon.

"Hm."

Sunghoon tidak banyak membalas, dia memang merasa apa yang dikatakan oleh Jongseong itu benar adanya. Yeji yang ada di rumahnya bukan seperti adiknya.

"Dia bukan adik lo, tapi kloningan,"lanjut Heeseung.

"Sejak kapan kalian peduli?"ucap Jaeyun memojokkan kedua pria di sampingnya.

Heeseung pun menatap Jongseong, sejak kapan juga mereka peduli?

"Kita ngga peduli ya, kita cuma ngasih tau doang,"ucap Jongseong.

"Tau nih."

Sebuah aroma yang begitu familiar untuk Heeseung dan juga Jongseong pun mengalihkan perhatian mereka. Mereka berdua berjalan lebih dulu, mendahului Sunghoon dan juga Jaeyun.

"Eh, di situ danau gila. Nanti nyebur tau rasa,"ucap Sunghoon.

Jaeyun yang merasa ingin tahu tentang tujuan kedua pria itu pun menghampirinya dan tidak ada pilihan lain untuk Sunghoon kecuali mengikutinya. Betapa terkejutnya mereka berempat saat melihat ada Jungwon dan juga Riki yang terkulai lemah.

Lokasi Jungwon tidak jauh dari Riki yang terkapar. Mereka sama-sama terkapar lemah di tanah dengan begitu banyak luka seperti cakaran di punggung mereka dan juga luka dari benda tajam di perut dan dada mereka.

Mereka berempat tidak bisa berkata-kata melihat hal ini, mereka segera membawa Jungwon dan Riki ke pinggir jalan yang mendapatkan sinar lampu jalan. Heeseung memperhatikan luka-luka Jungwon dan terlintas di kepalanya.

"Luka-luka ini ngga aneh menurut gue,"ucap Heeseung.

Jaeyun dan Sunghoon yang tidak mengerti apapun hanya diam melihat Jungwon dan Riki yang tidak kunjung terbangun.

"Dari jenis luka, goresan sama motif penyerangannya gue kaya tau siapa dia,"ucap Jongseong membuat Heeseung memantapkan pikirannya pada satu titik.

"Sunoo."

.
.
.

"Kakak ada dua?"

Yeji kebingungan melihat Sunoo yang ada dua di hadapannya.

"Nggak kok, kita satu."

Sosok berjubah itu menghampiri Sunoo dan mulai menyatu dalam tubuh Sunoo. Yeji tidak mengerti apa yang dia lihat di hadapannya ini, Sunoo bersikap aneh dan membuatnya begitu takut.

Tangan Sunoo yang tadi berusaha melepaskan tali itu kini meraih dagu gadis manis itu dan menatap sepasang manik mata yang cantik itu.
Y

eji ingin berteriak dan menghilang saja tapi dia menyadari dia tidak bisa melakukan apapun.

"Kamu tau siapa yang bikin kamu kaya gini?"

Yeji menggelengkan kepalanya pelan. Dia sangat takut hanya untuk bergerak, dia seakan diikat sangat kencang bukan oleh talinya namun oleh pandangan Sunoo.

"Kamu tau kenapa aku kaya gini?"

Yeji kembali menggelengkan kepalanya, tapi di sisi lain Sunoo terkekeh puas dan membisikkan sesuatu di telinga Yeji yang membuat Yeji begitulah terkejut.

"Biar kamu ngga lari dari aku."

Ucapan itu seakan bergema di kepala Yeji. Dia tidak bisa mengerti apa yang dikatakan Sunoo tapi dia merasa bahwa kalimat itu adalah sebuah pertanyaan mutlak yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun.

"Aku udah nungguin lama buat ketemu sama kamu. Kamu makin cantik,"ucap Sunoo membuat Yeji semakin takut untuk sekedar bernafas.

Yeji berusaha melepaskan ikatan tangannya tapi pohon di belakangnya ini seperti menempel sangat keras di tubuhnya, seakan ada lem yang menahannya.

"Kak, tolong lepasin aku."

"Nggak, susah-susah aku nyariin kamu. Capek nungguin kamu, masa waktu dah dapet dilepasin,"ucap Sunoo membuat Yeji menegang karena setiap kalimatnya seperti mengeluarkan aura mencekam.

"Kak, sadar. Kakak kenapa?"

Usapan di dagu Yeji kini menjadi cengkraman kuat. Sunoo menatap Yeji dengan begitu tajam seakan siap melesatkan panah ke arah Yeji.

"Aku bilang engga ya engga! Kamu itu punya aku!"

Baru kali ini Yeji mendapatkan bentakan telak di depan wajahnya. Tidak terbayangkan sebelumnya seorang laki-laki menggunakan nada tinggi di hadapannya, tapi Sunoo kini mematahkannya. Bahkan tepat di dean wajah Yeji.

Air mata Yeji mulai turun membasahi pipinya, di dalam pikirannya saat ini hanyalah kakaknya. Dia berharap kakaknya yang bisa membantunya.

"Dari dulu aku yang berharap dapetin kamu tapi kenapa selalu orang lain, ckck. Tapi tenang aja sekarang kamu kan sama aku,"ucap Sunoo tersenyum seperti seorang yang menggila.

Di dalam hatinya, Yeji hanya bisa memanggil-manggil nama Sunghoon untuk membantunya walau dia tidak tau apakah kakaknya bisa mendengar suaranya atau tidak.

Kakak tolong.

Sunghoon menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dia seperti mendengar sesuatu di kepalanya tapi dia tidak bisa fokus.

"Sunghoon kenapa?"tanya Jaeyun.

"Engga kok,"ucap Sunghoon tidak ingin membuat Jaeyun khawatir.

Kini mereka ada di suatu rumah entahlah, seperti rumah gelandangan bagi Sunghoon tapi ini sepertinya tempat persembunyian Heeseung dan Jongseong selama mereka memantau Yeji dari jauh.

"Kita cari Sunoo, dia penyebab Jungwon sama Riki tumbang,"ucap Jongseong.

"Kita pulang?"tanya Jaeyun kepada Sunghoon.

Sunghoon hanya menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin pulang. Rumah baginya sudah berbeda, dia akan mencari Yeji sampai dia mendapatkannya dan tidak akan pulang sampai dia membawa Yeji.

"Gue benci buat bilang ini, tapi selama Jungwon sama Riki ga sadar. Kita butuh dua orang buat alihin Sunoo nanti,"ucap Heeseung.

"Kenapa harus dialihin?"tanya Jaeyun.

"Kalau dia musuh, dia udah jadi rajanya."

•••

7VampiresTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang