[25] Start Again

26 5 0
                                        

Sunghoon memeluk Yeji dengan sangat erat, kali ini dia tidak akan membiarkan siapapun melukai adiknya. Dengan genggaman tangan yang kuat Sunghoon membawa Yeji keluar dari rumah sialan itu. Sesekali Sunghoon menoleh ke belakang untuk melihat teman-temannya yang menahan Sunoo, mereka akan baik-baik saja begitulah ucapnya dalam hati. 

Jungwon, Riki dan juga Jongseong menahan Sunoo agar dia tidak lepas dari kendali mereka sedangkan Heeseung sedang bersiap untuk melayangkan pukulannya. Satu pukulan, dua pukulan dan pukulan ketiga mampu membuat mereka terdiam karena Sunoo yang tertawa seakan menikmati pukulan yang diberikan Heeseung. 

"Hei, kalian lupa siapa gue?"ucap Sunoo sambil menatap mata Heeseung. 

Seketika Heeseung terdiam dan pandangannya jatuh di mata Sunoo. Tatapan yang tidak biasa itu bisa membuat cekalan tangan Jongseong dan Jungwon pada Sunoo mengendor. Sunoo tersenyum miring melihat Heeseung dengan mudah bisa diambil kendali kembali. Sunoo berjalan perlahan mengusap bajunya yang kotor oleh darahnya, kali ini dia akan benar-benar mendapatkannya. 

Langkah Sunoo berhenti di depan Jongseong, dengan senyumannya yang menyeramkan Sunoo mengusap bahu Jongseong. 

 "Lo salah satu yang terkuat di sini, gue mau lo cari Sunghoon dan bawa dia ke sini, atau bunuh aja dia. Buat kalian semua juga, jangan sampe Yeji kenapa-napa,"perintah Sunoo yang langsung dibalas anggukan oleh mereka semua. 

Sunoo hanya tersenyum melihat mereka smeua s=mudah dia kendalikan. Dia tidak akan takut dengan sang vampir murni, dia bisa jauh lebih kuat darinya. 

Lihat saja, aku akan mendapatkannya.

.

.

.

Yeji berulang kali melihat ke belakang, dia takut jika saja ada yang mengikuti mereka. Yeji tidak pernah melepaskan tangan Sunghoon walau sedetikpun. Dia merasa jika dia melepaskan tangannya akan habis sudah hidupnya. Sunghoon menyadari Yeji yang merasa waspada itu hanya memberikan kata-kata penenang. 

"Dia udah ngga ada, ngga usah takut."

Yeji berusaha percaya dengan ucapan kakaknya tapi dia juga masih merasa ragu. Di sepanjang jalan Yeji memperhatikan sekitar, hanya pepohonan dan juga semak-semak. Mereka seperti tersesat. Yeji berusaha meyakinkan dirinya mereka akan baik-baik saja. 

"Jangan pikirin apa-apa, kita pasti keluar dari sini,"ucap Sunghoon lagi.

Sunghoon bisa melihat Yeji yang menjadi pendiam. Yeji pasti sangat ketakutan. Sunghoon berinisiatif untuk menggendong Yeji di punggungnya. Dengan tiba-tiba Sunghoon berjongkok di depan Yeji membuat adik perempuannya itu kebingungan. 

"Kakak kenapa?"tanya Yeji.

"Ayo naik."

"Ngga usah, aku bisa jalan,"tolak Yeji.

Sunghoon menarik tangan Yeji dan memintanya untuk naik ke punggungnya. Yeji sudah tidak bisa menolak dan dia hanya diam saja digendong oleh Sunghoon. Sunghoon memegangi Yeji dnegan sangat hati-hati. Tidak ada kata lelah, justru Sunghoon merasa lebih aman membawa Yeji di punggungnya.

Hampir 2 jam lamanya Sunghoon berjalan dan hari mulai gelap. Hutan itu menjadi sangat gelap tidak ada cahaya sama sekali. Sunghoon melihat sekeliling, dia tidak bisa membedakan mana tanah yang bisa dipijak dengan bibir jurang. Tidak mau mengambil resiko, Sunghoon memilih berhenti di bawah pohon besar untuk beristirahat. Dia yakin sudah selama ini dia berjalan pasti sudah jauh dari rumah itu. 

Menyadari tidak ada reaksi apapun dari adiknya, ternyata adiknya sudah tertidur lama sejak di jalan. Sunghoon berusaha menurunkan Yeji tanpa ada pergerakan yang mengganggu. Yeji tertidur duduk dengan bersandar pada pohon. Sementara Sunghoon mengumpulkan ranting disekitar pohon untuk membuat api. 

Malam itu, Sunghoon benar-benar menjaga Yeji dengan kesadaran penuh dan menolak untuk tertidur. 

Entah sudah berapa lama Sunghoon memainkan batu-batu yang ada di hadapannya. Kini dia merasa bahwa fajar akan tiba, hawa dingin yang menyelimuti dan juga embun yang mulai terlihat membuat Sunghoon mengeratkan pelukan pada kakinya. Sunghoon memberikan luarannya untuk selimut Yeji, kini dia hanya memakai kaos tipis yang tidak begitu membantu untuk hawa dingin. 

"Sunghoon?"

Suara itu sangat familiar bagi Sunghoon, saat dia mendongakkan kepalanya ternyata Jaeyun ada di hadapannya. Seketika Sunghoon berdiri. Dia senang karena Jaeyun berada di sini bersamanya, dia sudah memikirkannya sejak tadi malam kalau dia adalah teman yang jahat karena meninggalkan Jaeyun di sana. 

"Lo beneran di sini? Yang lain gimana?"tanya Sunghoon. 

"Yang lain ngga papa kok, mereka lagi nahan Sunoo,"jawab Jaeyun membuat Sunghoon lega. 

"Lo kok bisa sampe sini?"

"Gue ngga sengaja liat ada jelaga terus gue ikutin akhirnya sampe sini. Untung deh ketemu kalian,"jawab Jaeyun.

"Yaudah duduk aja dulu, kita jalan lagi nanti,"ucap Sunghoon mempersilahkan Jaeyun duduk.

"Kita harus pergi sekarang Hoon, Sunoo mulai hilang kendali."

Ucapan Jaeyun membuat Sunghoon tidak bisa berpikir jernih. Sunoo yang sudah ditahan oleh Heeseung dan juga Jongseong masih bisa hilang kendali. Dia akan pergi membawa Yeji lebih jauh. Sunghoon tidak membangunkan Yeji, dengan perlahan dia menggendong tubuh Yeji dan membawanya berjalan lagi bersama Jaeyun. 

Semakin jauh mereka berjalan semakin basah kaki mereka. Langkah Sunghoon menjadi licin begitu juga dengan Jaeyun yang berusaha mencari jalan yang aman untuk mereka. Sunghoon mengikuti langkah Jaeyun untuk menghindari kakinya tergelincir. 

"Kita udah sampe mana deh?"tanya Sunghoon sambil melirik sekeliling. 

"Bentar lagi kayanya kita ketemu jalan."

Ucapan Jaeyun memang benar, sedikit lagi mereka akan bertemu dengan jalan raya yang ada di tengah hutan tapi itu jika mereka berjalan ke utara, Jaeyun justru memandu Sunghoon untuk berjalan ke timur. Jaeyun dengan langkah tegaknya membawa Sunghoon sampai ke bibir jurang yang tertutup kabut embun. 

Hampir saja Sunghoon terjatuh karena tanah yang dia pijak terperosot ke dalam jurang. Sontak Sunghoon berjalan mundur. Sunghoon melihat sekitar dan dia baru menyadari kalau dia berada di mulut jurang. 

"Jae? Kenapa kita di sini?" tanya Sunghoon namun tidak ada jawaban. 

Sunghoon baru menyadari hal lain, dia berjalan sendiri. Tidak ada Jaeyun di sampingnya. Sunghoon berusaha menajamkan penglihatannya tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan Jaeyun.

"Jaeyun?!"

Tidak ada jawaban. 

Sunghoon mencoba menemukan jalan lain, dia berjalan ke selatan dan menjauh dari jalan raya. Tidak ada petunjuk yang Sunghoon punya. Dia hanya mengandalkan instingnya, dia tidak boleh menyerah begitu saja. Sunghoon memegangi Yeji dengan kuat dan mulai berjalan lebih jauh. 

Sekelebat bayangan bisa Sunghoon rasakan, seperti ada yang mengikutinya. "Jaeyun?"

Anggapan bahwa orang yang mengikutinya adalah Jaeyun itu salah, Sunghoon merasakan ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh dan memiliki mata jingga. Oh, sial.

Sunghoon membawa Yeji berlari menjauh dari tempat itu, tapi bayangan yang mengikuti mereka justru lebih kencang. Sunghoon masih mempertahankan tujuannya dan berlari lebih kencang. Saat langkah Sunghoon sudah jauh berlari bayangan di belakangnya tidak terlihat namun seseorang di hadapan Sunghoon membuat Sunghoon cukup terkejut. Seseorang yang dia kenal tapi matanya berwarna jingga dan juga memiliki tatapan yang angkuh terhadapnya.

"Jungwon?"



7VampiresTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang