cap.22#

10K 591 113
                                        

KALO GAK SUKA SAMA CERITA INI
TOLONG DI SKIP AJAH YH besty ☺️

Jangan tinggalkan komentar buruk ❌

Dan jangan lupa vote and comment 😗

♨️HAPPY READING♨️

*
*
*
*

  Banyak orang yang bilang bahwa hidup itu Adalah sesuatu yang di mana kita yang menentukan pilihan nya, seperti ingin menjadi apa dan menjalani hidup yang seperti apa tergantung di dirimu sendiri.

Namun bagi Arsyana kehidupan itu adalah takdir, di mana kita tak tahu akan jadi apa kita kedepannya dan apa yang akan terjadi pada kita ke depannya, apakah kita akan mati,hidup, miskin, atau sukses?, Tak ada yang tahu.

****

   Tak terasa beberapa menit kemudian.

Kini mereka telah tiba di depan sebuah pintu putih besar nan megah dengan dua daun pintu yang terukir bunga-bunga rumit.

Arsyana menahan gugup dalam hati.

Ini kali pertama nya ia akan bertemu dengan orang lain selain para mertua serta suaminya.

Pintu di buka lebar Hingga terpampang pemandangan sebuah ruangan yang begitu luas serba putih yang di hiasi dengan bunga-bunga mawar dan matahari di sekitar nya.

Terdapat bangku-bangku yang sudah di duduki oleh para tamu undangan yang Arsyana yakini adalah para keluarga dan kolega bisnis suami dan mertua nya.

" Ayo "

Suara mommy Sena menginstruksi mete untuk berjalan masuk.

Menelan ludah nya susah payah, Arsyana perlahan mulai menginjakkan kaki masuk ke dalam ruangan tersebut di dampingi oleh mommy Sena dan bunda Rania di samping nya.

Semua orang langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Mereka menatap takjub wanita yang di apit oleh mommy Sena dan bunda Rania.

" Wah jadi itu istrinya Xavier?. Cantik sekali "

Arsyana Memang cantik. Apalagi dengan gamis putih mewah menghiasi tubuh ramping nya.

" Iyh dia begitu cantik. Ah aku jadi tidak sabar melihat para bayi dalam kereta itu "

" CK. Percuma cantik jika ia punya banyak suami. Bukankah itu tidak senonoh "

Cibir salah satu dari mereka.

" Benar juga sih. Tapi kan kita tahu sendiri Alasan dari pernikahan mereka "

" Alah tetap saja itu sangat tidak bermoral. "

" Ssst. Kalian ini berhenti bergosip. Apa kalian tidak takut jika nyonya Sena mendengar nya "

Walaupun samar namun masih bisa Arsyana dengar bisik-bisik para istri kolega bisnis para mertuanya itu.

Namun ia tak peduli. Dengan kepercayaan diri dan menahan gugup dalam hati, ia terus berjalan dengan anggun mengikuti kedua mertuanya.

Perjalanan yang memakan waktu beberapa menit itupun, kini berhenti tepat di depan para kiyai juga ibu mertua nya yang lain.

Mereka tersenyum menyambut nya. Perlahan umi Khadijah berjalan turun dari podium menuju ke arahnya.

Ia hanya terdiam, menanti apa yang akan umi Khadijah Lakukan.

" Zein sini nak "

Umi Khadijah memanggil Gus Zein yang ternyata sedari tadi berada di sana, hanya keempat suaminya yang lain yang belum menampakkan diri.

Five-husband AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang