cap. 17 # ^_________^

9.2K 467 10
                                        

KALO GAK SUKA SAMA CERITA INI
TOLONG DI SKIP AJAH YH besty ☺️

Jangan tinggalkan komentar buruk ❌

Dan jangan lupa vote and comment 😗

            

              ♨️HAPPY READING♨️

                              *
                              *
                              *
                              *
                              *

Pov Alisha

    Sayup-sayup suara tangis Beberapa bayi membangun kan ku dari tidur nyaman ku.

Mengucek mata perlahan. aku bangun dari kasur. Dengan Mata menyipit aku menatap jam dinding di dekat kasur yg ternyata sudah menunjukkan pukul 4: 11. Seketika Mata ku membelak terkejut karena aku belum menunaikan shalat subuh.

Namun Suara-suara tangis bayi-bayi itu menyadarkan ku bahwa aku harus mengurus mereka terlebih dahulu.

" Husff "

Kalo boleh jujur rasa nya aku sungguh lelah dengan semua yg terjadi padaku sampai saat ini, mulai dari menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini aku sayangi dan ku Anggap sebagai orang tua Ternyata adalah sosok paman yg ingin membuat ku menderita atas kesalahan yg sama sekali tak aku lakukan.

Dan kini aku harus menghadapi sesuatu yg tak masuk akal dan logika ku sama sekali. Transmigrasi?, Ayolah orang waras mana yg akan mempercayai nya?.

Namun sayang nya orang waras itu adalah aku karena realitanya aku yg mengalami nya secara langsung dan yg paling membuat ku tak habis pikir adalah ketika aku harus bertransmigrasi ke dalam sosok tokoh jahat dengan lima suami dan anak-anak yang banyak yg pada akhirnya harus berakhir menyedihkan.

Bahkan kehidupan wanita yg ku singgahi tubuhnya ini tampak lebih menyedihkan dengan status nya sebagi istri dari lima orang pria dan bahkan di abaikan oleh mereka.

Mengenyahkan pikiran-pikiran itu terlebih dahulu. Yg paling penting sekarang adalah aku harus membangun sosok di samping kasur ku yg tampak nyaman dalam tidur lelapnya tanpa terganggu dengan suara-suara para baby. Aku harus meminta bantuan nya mengurus ke 7 bayi gemoy itu karena aku tak akan mampu jika sendirian, ah yh aku juga akan menelpon BI Ijah karena bagaimanapun aku harus melaksanakan kewajiban ku sebagai Umat muslim terlebih dahulu.

" RINA... BANGUN . Bantu aku mengurus para baby "

aku berteriak lantang di dekat telinganya sembari mengguncang-guncang kan tubuh nya. Aku tahu ini perilaku tak sopan namun persetan dengan itu Karena suara tangis para baby lebih penting.

" BANJIR..... BANJIR " 

Suara reflek beserta teriakan nya membuat ku segera menjauh dan menutup telinga ku yg berdengung akibat teriakan nyaring nya. Dan yg membuat ku berdecih kesal adalah akibat dari teriakan nya membuat bayi-bayi ku yg lain juga ikut terbangun dan menangis seperti saudara-saudaranya yg lain.

" Banjir apaan?. Cepat bangun dan bantu aku mengurusi para baby. Oh astaga semoga aku tidak terlambat sholat subuh "  gerutu ku pelan sembari berjalan ke arah salah satu box bayi dengan dua orang anak kembar di dalam nya.

" Ah maaf kan saya nona. Apa yg bisa ku bantu?" Tanya nya.

Bisa ku lihat tubuh linglung nya saat terbangun dari kasur. Astaga aku jadi merasa bersalah akibat membangun kannya secara tiba-tiba tadi.

" Kau panas kan saja susu yg ada di kulkas, seperti nya aku sudah menyetor nya tadi malam sekitar sepuluh botol"
Ujar ku lantang sembari kedua tangan ku menggendong si kembar. susah memang namun tak ada pilihan lain ketika tangisan mereka terdengar semakin kencang. Jujur saja ada sedikit rasa kesal dan ingin menyerah dalam diri ku untuk mengurus mereka. Namun aku berusaha sebisa ku untuk melawan rasa itu karena aku tak mau terkena baby blues  walaupun aku sadar itu wajar terjadi dengan diriku yg baru saja menjadi seorang ibu.

Five-husband AntagonistTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang