Bab 10 ( pengakuan )

193 7 0
                                        

Pagi itu ruangan meeting yang sudah dipenuhi oleh setiap divisi menduduki kursi rapatnya masing-masing, mereka memulai rapat dengan beberapa kata sambutan yang disampaikan sebelum Dateen mulai angkat bicara memulai pembahasan tentang pembangunan hotel nya.

Sebelum rapat selesai Dateen menanyakan pendapat setiap divisi pada pertemuan dengan tender yang melakukan presentasinya kemarin.

"Bagaimana menurut kalian tentang pembahasan kita kemarin?", Ucap Dateen dengan nada suaranya yang terdengar tegas

"Saya sangat menyukai ide dari Z contruction terutama untuk arsitek Anggita Thalassa dia sangat mengesankan, saya hampir ingin merekrutnya masuk ke perusahaan kita", ucap salah satu bawahan Dateen.

"Ya saya juga berpikir demikian pak", sahut beberapa dari mereka menanggapi dengan kompak.

Semua yang hadir dalam pertemuan pagi ini sangat memuji penuh presentasi dari Gita kemarin yang sangat terlihat begitu percaya diri dalam menjalankan presentasinya.

"Saran dari renovasi pada bangunan adalah ide yang sangat bagus, saya pikir desain yang dia buat untuk hotel kita sangat-sangat mengagumkan, saya menilai dari presentasinya kemarin bahwa dia adalah seorang arsitek yang berpengetahuan luas tentang ilmunya mempersiapkan diri nya dengan sangat matang pastinya"

Entah kenapa semua sanjungan yang tertuju untuk Gita justru juga membuat hati Dateen merasa bahagia dan bangga.

'aku pun juga setuju pada pendapat semua itu, Gita memang perempuan yang sangat cerdas, walaupun aku baru mengenal dirinya namun dia bisa membuktikan dengan caranya sendiri, sosok nya yang lembut bisa membuatku merasakan kenyamanan berada di dekatnya'

'aku suka saat melihat kedua pipinya mulai memerah seperti buah apel ketika merasa malu'

'aku suka semerbak harum dari sekujur tubuhnya, aku suka bola matanya yang hitam yang selalu menatapku dengan malu '

'semua yang ada pada dirinya aku sangat menyukainya'

'Bahkan sekarang aku tidak bisa mengerluarkannya dari otakku, seakan aku telah menjadi tawanan hatinya'

"Anggita Thalassa..."

Dateen mengucapkan namanya tanpa suara seperti mantra yang keluar dari bibirnya,

Dateen mulai merasakan hatinya sudah terpikat pada sosok wanita yang selalu hadir mengisi ke dalam pikirannya.

Tanpa sadar Dateen menjadi termenung ditengah-tengah perbincangan rapatnya.

Kini hari-harinya selalu dipenuhi dengan bayang-bayang Gita yang selalu menghantui pikirannya, Dateen tidak mampu mengusir semua itu dari dalam benaknya.

Semakin hari bayangannya membuat Dateen mengharapkan akan keterikatan yang tidak bisa dirinya rasakan menjadi keinginan yang lebih kuat diluar kendali nya sendiri

Dateen merapatkan kedua telapak tangannya saling menggenggam erat mengatup di depan dagunya, tatapan kosong namun penuh keseriusan di wajahnya,

Pikirannya berperang dengan perasaan di dadanya yang begitu menggebu-gebu,

Devano menengok reaksi dari wajah Dateen langsung bersimpati untuk mengambil alih di dalam rapat menyampaikan semua tugas pada masing-masing divisi,
Setelah sadar dari lamunannya Dateen memberikan isyarat pada Devano untuk segera menutup pertemuan itu.

"Apa lo baik-baik saja?", tanyanya dengan penuh perhatian.

"Apa lo merasa gaenak badan?"

Devano langsung mencecar Dateen dengan pertanyaan saat semua karyawan sudah meninggalkan ruang.

Another Love PainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang