Bab 20 ( flowers )

100 2 0
                                        


🕊️🕊️🕊️


Siang itu masih di jam makan siang kantor, bahkan Devano belum sempat makan ataupun minum di jam istirahatnya, saat menemukan Rite dengan keadaan yang sepertinya tidak baik-baik saja membuatnya mengesampingkan rasa lapar pada perutnya yang mulai berbunyi, Devano memilih untuk mengejar kemana Rite berlari untuk menjauhinya.

Saat seluruh tubuhnya kian membeku, namun telapak tangannya justru mulai berkeringat dingin, Devano mempercepat langkahnya untuk mendekati Rite di tepi atap gedung.

Angin kencang menyapu rambutnya yang bergelombang dibiarkan tergerai mengikuti angin berhembus

Devano menarik pergelangan tangannya dengan cepat mendekat ke tubuh nya, membuat Rite tercengang dengan perbuatannya yang sangat tiba-tiba, karena terlalu asik menikmati hembusan angin yang menerpa dirinya bahkan Rite sama sekali tidak menyadari dengan kedatangan Devano yang menghampiri keberadaan nya.

"Apa-apaan sih Van?, ngegetin aja tahu gak?", ucap Rite dengan nada suara yang kencang karena dirinya benar-benar dibuat terkejut

"Lah lo yang ngapain disini?! Ada apa sih sama lo sampe keliatan kusut kaya gini hah??" ,jawaban Devano terdengar sangat frustasi, matanya melebar untuk menatap Rite didepan nya
"Buruan cerita!! Ada masalah apaan hah?!".

"Sumpah deh lo gak jelas banget, gw cuma mau nyendiri aja disini masa gak boleh"

"Banyak tempat buat menyendiri, kenapa lo malah lari ke atap gedung?,lo pikir orang gak akan kepikiran jelek?"

"Ya gw mau nya disini, lagian kenapa lo jadi ngatur-ngatur sih, lepasin!!"

Rite menarik tangannya dari genggaman Devano dengan kasar, namun Devano mencengkeram untuk menahan nya menjauh, dengan tatapannya yang tajam.

"Lo pikir gw disini sendirian apa? Tuh lo lihat, bukan gw aja yang suka nikmatin angin disini, banyak!!", sambung Rite dengan berbisik

Tanpa perintah pandangan Devano langsunh menyapu ke sekeliling atap gedung, ternyata benar disana banyak karyawan yang menghabiskan waktunya untuk sekedar menghabiskan batang rokoknya ataupun menikmati semeriwing angin di rooftop, Devano pun sedikit tercengang dengan apa yang dia lihat.

Selama ini dia tidak pernah tahu bahwa tempat itu menjadi tempat peristirahatan untuk sebagian karyawan, dan hari itu adalah hari pertama kali baginya menginjakan kaki nya disana.

Devano menarik tangan Rite sedikit lebih mendekat pada dirinya,

"Kenapa lo engga bilang dari tadi?" Balasnya dengan nada yang tak kalah lebih kecil dari bisikan Rite sebelum nya,

"Yakan lo yang dateng-dateng langsung ngag....mmm"

Devano langsung menutup mulutnya sebelum Rite menyelesaikan kata yang ingin dia ucapkan, lengannya dengan paksa merangkul Rite dan menggiring langkahnya untuk keluar dari sana.
Rite memukul-mukul tangan yang kini menutupi mulutnya agar melepaskannya segera, namun Devano tak menghiraukan sedikitpun sebelum langkah mereka melewati ambang pintu.

"Sumpah deh ya!! Lo gajelas banget asli ah, kenapa pake disekep segala sih?"

"Lo berisik"

"Engga kebalik tuh? Dari tadi lo yang ngikutin gw engga jelas sambil berisik bangeeet loh",

Devano hanya mendengus dan terkekeh geli dengan kalimat yang diucapkan Rite kepadanya,

Memang benar dengan ucapan itu, saat melihat Rite marah karena Devano menenggak kopinya sampai habis dan memaksanya untuk mencari makanan lain selain kopi dan pastry untuk mengenyangkan perutnya, Devano merasa bersalah atas sikapnya kepada Rite dan dia memutuskan untuk mendekatinya namun Rite menolak justru memilih menjauhinya.

Another Love PainCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang