🕊️🕊️🕊️
Saat matahari pagi menyorot masuk ke kamar mereka, Gita mulai perlahan berusaha membuka sedikit matanya yang mulai merasakan kesilauan cahaya matahari itu
Samar-samar ingatan sisa dari kejadian semalam melintasi isi kepalanya
Ingatan-ingatan yang mulai tersusun seperti potongan puzzle yang mulai sempurna, dia mengingat pertama kali itu dimulai mereka masih berada dimeja makan malam nya, namun kini tubuhnya telah terbaring diatas ranjang, kepalanya yang masih sedikit pening, dan seluruh badan nya terasa begitu letih seperti seluruh tenaganya terkuras habis oleh acaranya semalam sehingga sulit untuknya segera bangkit dari ranjang tidurnya.
Sesaat dia menyadari bahwa tubuhnya hanya ditutupi dengan selimut tebal tanpa satu helaipun pakaiannya tersisa pada tubuhnya
Gita mulai menyingkap selimutnya untuk memastikan keadaan dirinya saat itu, dia hampir tak memiliki kekuatan yang tersisa selain hanya mampu menutup mulutnya saat kedua matanya menyadari begitu banyak noda darah yang tertinggal pada kain ranjangnya.
Namun sebuah sapaan dari suara pria yang dikenalinya berasal dari sofa yang berada di dekat jendela kamar itu membuatnya terkejut, Gita menoleh dan masih dengan perasaan kagetnya begitu melihat Dateen berdiri dari sofanya masih mengenakan jubah handuk dengan sebuah cangkir di tangannya
"Selamat pagi... Sepertinya tidurmu sangat nyenyak", ucapnya dengan senyuman
Gita masih bergeming mematung, mencoba mencerna situasi yang dia hadapi kini
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?", Dateen sekali lagi menyapanya dan menyentuh pipi Gita yang terlihat memerah dan kulitnya terasa menghangat
Sentuhan itu menyadarkan lamunan nya, matanya menatap Dateen setengah tidak percaya apa yang telah terjadi antara mereka berdua semalam, Dateen mengulangi kembali pertanyaannya
Membuat Gita tergagap untuk menghadapi sosok pria yang dicintainya itu sekarang,
"I..iyaa, kenapa? tentu aku baik-baik saja"
Dateen duduk tepat di hadapan Gita pada sisi pinggir ranjang ,tangan nya menyeka rambut panjang Gita yang sedikit tergerai ke wajah nya
Mereka saling menatap satu sama lain sebelum akhirnya Dateen menyentuh pada dagunya dan menangkupnya untuk mengecup bibir Gita dihadapannya
Tentu itu membuat Gita terperanga dan memudahkan Dateen untuk lebih melahap bibirnya sekarang
"Tapi kamu terlihat tidak sehat sayang!"
Gita menggelengkan kepalanya,
"Tidak...hanya badanku terasa sakit semua, mungkin nanti akan hilang"
"Mau aku antar ke dokter saja?, mungkin kita harus periksa untuk itu", ucap Dateen dengan menyentuh pipi Gita dihadapannya
"Tidak perlu Dateen, mungkin ini efek dari semalam saja", dia menoleh ke kaca jendela untuk menghindari tatapan Dateen padanya.
"Apakah efeknya separah itu?"
Gita bergeming tanpa merespon ucapan Dateen kepadanya, pikiran mengingat semua apa yang telah terjadi diantara mereka semalam
'Kenapa bisa sampai seperti ini ? Kenapa gw bisa membiarkan ini terjadi, semuanya memang gw yang memulai tetapi kenapa gw bisa membiarkan diri ini terbawa begitu saja, tidaaaakkk...gw bahkan seperti wanita penggoda semalam dihadapannya bukan?'
Tanpa sadar Gita menutup bibirnya dengan kedua tangan, dia kini benar-benar tidak menyangka apa yang sudah terjadi diantara mereka sekarang, sesaat dia sadar dan menatap kembali Dateen yang sejak tadi memanggilnya
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Love Pain
Romance🔞 "pelangi yang indah tidak akan pernah datang begitu saja, tanpa adanya awan hitam, begitu pula dengan kebahagiaan tidak akan kamu rasakan sebelum adanya kesulitan" Dateen Oliver Abellard adalah pria tampan berperilaku dingin seperti kutub, antar...
