🕊️🕊️🕊️
Devano dan Komisaris Rico sudah meninggalkan Dateen sendirian diruang tengah, seluruh ruangan diselimuti oleh cahaya matahari sore yang berangsur bergeser menyorot masuk kedalam yang membuat mata nya silau dan terbangun dari tidur nya, tanpa sadar Dateen tertidur di sofa saat Devano dan Rico pamit untuk beranjak pergi, sekitar dua jam Dateen bisa tertidur pulas meskipun hanya beralas di sofa
Mata nya seakan berat tidak tertahan karena semalaman dirinya terus menjaga Gita dari demam dan tidak bisa memejamkan mata nya meski hanya untuk beberapa menit saja.
Dateen mengubah postur tubuhnya untuk terduduk menyandarkan punggung nya ke sofa, tangan nya mengusap wajah keringnya seperti mencuci.
Mata nya kini menatap jam besar yang terpajang di dinding dengan angka romawi
"Aku rasa aku tertidur cukup lama"
Dateen merenggangkan otot-otot pada tubuh nya
Tatapan nya terhenti ke arah kotak kecil yang terletak diatas meja, dia mulai meraih dan mengeluarkan satu batang rokok untuk dia hisap, asap rokok yang memenuhi ruangan disekitarnya mengepul ke atas udara dan terbang menghilang.
Perlahan batang rokok yang terbakar menyusut, sebelum semakin memendek Dateen segera melempar puntung rokok nya ke dalam asbak kaca dibatas meja
Dia beranjak dari sofanya dan segera masuk ke ruang kamar tidur tempat Gita berada, air infus yang semakin habis terserap ke dalam tubuhnya kini telah menyusut di detik-detik penghabisan.
Setelah memeriksa keadaan Gita, Dateen bergegas untuk mandi di kamar mandi yang berada di dalam ruangan kamar tidur nya.
***
Gita mencoba membuka kelopak matanya dan terdiam membeku pandangan nya terpaku pada langit-langit atap dan berpindah ke sekeliling ruangan, sinar matahari sore yang terhalang oleh tirai damask sekarang menjadi pusat perhatiannya.
Dia mencoba bangun dan bersandar pada divan ranjang, dan disaat itu dirinya baru menyadari tangan nya sedang dalam keadaan terinfus.
'apakah ini dirumah sakit?'
'ngg..tapi kenapa bisa semewah ini?, terus ini dimana?'
Gita mencoba melepaskan infusan yang sedikit lagi menyusut itu,
Gita menyandarkan punggung nya di divan ranjang yang empuk, kini dia termenung memikirkan sudah berapa hari yang dia lalui berada ditempat ini, pandangan nya memerhatikan pakaian yang terasa sangat longgar dikenakan di tubuh nya, meski kepalanya masih terasa sedikit pusing Gita mencoba berdiri perlahan dan melangkah menghampiri jendela kaca yang begitu luas di samping ranjang nya, dia mengulurkan tangannya mencengkram kain tirai yang menghalangi pemandangan yang berada di luar, saat matanya terpaku pada warna cahaya matahari yang akan terbenam dari atas gedung tempatnya berada, membuatnya terpesona dengan semua yang memanjakan matanya, membuat diri nya lupa dengan tempat asing yang kini dia tempati.
Saat Gita sedang menikmati pemandangan yang memesona di depan matanya, seketika ingatan yang menyakitkan hatinya tentang perlakuan buruk Jassen terhadap nya terasa seperti mimpi yang begitu nyata,
Kebenaran yang begitu pahit terlupakan olehnya karena dirinya tidak sadarkan diri.
Ingatan yang membuat dadanya terasa sesak, tubuhnya kini bergetar saat dia mengeluarkan isakan tangisnya.
"Semua akan mendapatkan balasan yang setimpal kan?, tunggu saja Tuhan engga akan membiarkan lo hidup dengan tenang Jassen."
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Love Pain
Romance🔞 "pelangi yang indah tidak akan pernah datang begitu saja, tanpa adanya awan hitam, begitu pula dengan kebahagiaan tidak akan kamu rasakan sebelum adanya kesulitan" Dateen Oliver Abellard adalah pria tampan berperilaku dingin seperti kutub, antar...
