Rean pulang pukul dua dini hari. Kakinya melangkah masuk ke rumah yang sudah gelap. Ia mengedarkan pandangan, memastikan apakah Bi Inah sudah tidur atau belum. Jika belum… habislah dia.
Rean mengendap pelan menaiki tangga. Belum sampai di anak tangga terakhir, lampu ruang keluarga menyala. Rean membeku, lalu memutar badan 180°. Di bawah sana, Bi Inah berdiri dengan tangan berkacak pinggang. Satu tangannya bergerak, memerintah Rean turun.
Rean pasrah. Ia kembali turun dan menuju ruang tamu, tempat Bi Inah duduk sambil meminum air dingin. Pantas saja ia tidak menyadari keberadaan Bi Inah—ruangannya gelap, seolah sengaja supaya Rean tak tahu kalau Bi Inah sudah menunggunya sejak tadi.
Rean sudah bersiap menerima petuah dan interogasi. Perkiraannya, setidaknya sampai pukul empat subuh.
Ia duduk di samping Bi Inah. Dalam kondisi seperti ini, Bi Inah terasa bukan seperti pengasuhnya, melainkan… seperti ibunya sendiri.
Rean jadi rindu mamahnya yang berada di luar negeri. Entah kapan beliau pulang.
Interogasi pun dimulai.
“Kenapa baru pulang?”
“Main.”
“Sampai lupa waktu?”
“Iya, maaf.”
“Main apa?”
“Eum… itu—”
“Balapan?” tebak Bi Inah, tepat sasaran.
Rean terperangah. Dari mana Bi Inah tahu?
“Bi—”
“Jawab.”
“…Iya. Latihan balapan sama teman-teman.”
“Den tahu nggak… Bi Inah khawatir?”
Suara Bi Inah bergetar. Beberapa jam tadi ia panik karena Rean tak bisa dihubungi. Telepon tidak diangkat, pesan tidak dibalas, baca saja tidak. Bi Inah tidak bisa tidur. Meski Rean laki-laki, rasa khawatirnya tidak berkurang sedikit pun. Tugasnya adalah menjaga Rean, memastikan anak majikannya itu aman, sehat, dan baik-baik saja.
Namun pelakunya… hanya menunduk tanpa merasa bersalah.
Rean mendongak. Sorot matanya bertemu mata Bi Inah yang basah. Refleks, ia menggenggam tangan Bi Inah.
“Bi… Rean minta maaf. Rean salah. Seharusnya Rean izin dulu. Maaf ya, Bi. Jangan nangis.”
Terlambat. Bi Inah sudah lebih dulu menangis, terisak pelan.
“Ya Allah, Den… sekali aja jangan bikin Bi Inah jantungan. Kalau Den dibegal gimana? Kecelakaan gimana?”
Rean mengusap tangan Bi Inah lembut.
“Bi… Rean laki-laki, Rean bisa jaga diri. Jangan khawatir berlebihan gini. Rean minta maaf, ya.”
Ia menarik Bi Inah ke dalam pelukannya.
"Sial." umpat Rean dalam hati. Sudah kesekian kalinya ia membuat Bi Inah khawatir. Ia benar-benar lupa mengabari. Ponselnya pun dalam mode silent.
“Sudah, Den. Sekarang ke kamar. Tidur. Nggak usah mandi. Bi Inah ke kamar dulu.”
Rean menghela napas panjang, mematikan lampu ruang tamu, lalu naik ke kamarnya.
Setibanya di kamar, jaket denim ia lempar sembarangan lalu ia menjatuhkan tubuh ke ranjang.
Tadi, di arena balapan, Fathan dan Bryan menunjukkan wajah seseorang—Geovano.
Rean masih tak percaya. Lawannya nanti ternyata adik Hafasha DeAndra. Pantas nama belakangnya mirip.
Ia memijat keningnya.
Bagaimana ia bisa santai jika harus berhadapan dengan Geo?
Apakah Geo sudah tahu bahwa Reanlah lawan yang akan ia hadapi?
Dan bicara soal Geo… apa Hafasha tahu adiknya ikut balapan liar? Usianya baru lima belas, masih di bawah umur. Bagaimana bisa Araski memasukkannya ke dalam anggota geng?
KAMU SEDANG MEMBACA
REANO
Teen FictionKursi ini kembali menjadi saksi dari ratap pilu yang selalu hadir. Aku kembali terduduk sendu, menghembuskan nafas berat pertanda lelah menunggu. Pena di tanganku sudah banyak menulis untaian rindu. Diary Ku sudah penuh. Tanpa sadar, air mata berhas...
