PERTANDA YANG KEMBALI MEKAR

23 2 0
                                        


Satu Minggu Kemudian

Tepat di hari Rabu, akhirnya Alika diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Pagi itu, suasana rumah sakit terasa lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Cahaya matahari masuk melalui jendela lorong rumah sakit, membuat suasana yang biasanya dingin terasa sedikit nyaman.

Alika duduk di kursi roda sambil memandangi halaman rumah sakit dari kejauhan. Meski tubuhnya sudah mulai pulih, pikirannya masih terus teringat pada satu kejadian yang sampai sekarang belum bisa hilang dari kepalanya.

Saat itu...

Zen berdiri tepat di depan pintu ruang rawatnya.

Tubuhnya yang tinggi dengan napas yang masih terengah membuat Alika sampai sekarang masih sulit melupakan momen itu.

Wajah Zen terlihat panik.

Matanya merah seolah habis menangis.

Dan suara cowok itu... masih terngiang jelas di telinganya sampai sekarang.

Suara yang terdengar tulus.
Suara yang penuh rasa takut kehilangan.

🙍🏻‍♂️ Zen :
"Kamu jangan tinggalin aku, Aika...
Aku masih ingin kamu selalu ada di sisiku."

Ingatan itu membuat Alika kembali terdiam cukup lama.

Tangannya perlahan menggenggam selimut kecil di pangkuannya.

Jantungnya kembali berdegup cepat hanya karena mengingat suara Zen malam itu.

🙍🏻‍♀️ Alika (dalam hati) :
"Kenapa... kata-kata dia masih kebayang terus..."

Pipinya mulai memerah sendiri.

Ia langsung membuang pandangannya ke arah luar jendela, mencoba menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba muncul.

Namun semakin ia mencoba melupakan, semakin jelas wajah Zen muncul di pikirannya.

Di sisi lain...

Zen juga tidak pernah benar-benar tenang selama Alika berada di rumah sakit.

Cowok bertubuh tinggi itu duduk sendirian di teras rumahnya seperti biasa. Seragam rumahnya terlihat sedikit berantakan, sementara rambutnya tertiup angin pagi.

Ia menatap halaman kosong sambil tenggelam dalam pikirannya sendiri.

🙍🏻‍♂️ Zen :
"Mau sampai kapan aku harus nunggu dia pulang dari rumah sakit..."

Zen menghela napas panjang.

Tatapannya terlihat lelah.

🙍🏻‍♂️ Zen :
"Aku nggak mau lihat dia sakit...
Waktu dia di rumah sakit... aku kesepian banget."

Suasana pagi itu begitu tenang. Hanya terdengar suara burung dan angin kecil yang meniup dedaunan di halaman rumahnya.

Namun di tengah lamunannya, mata Zen tiba-tiba tertuju pada salah satu pot tanaman kecil di dekat teras.

🤷🏻‍♂️ Zen (dalam hati) :
"Loh... itu tanamannya mekar?"

Zen langsung berdiri perlahan lalu mendekat ke arah tanaman itu.

Matanya membulat kecil karena kaget.

Padahal kemarin tanaman itu masih terlihat layu dan hampir mati.

Tetapi pagi ini... bunga kecil di tanaman itu justru bermekaran dengan cantik.

Warnanya terlihat segar terkena cahaya matahari pagi.

Zen menatap tanaman itu cukup lama.

Entah kenapa dadanya tiba-tiba terasa hangat.

Tanpa ia sadari... hari itu adalah hari ketika Alika baru saja pulang dari rumah sakit.

🙆🏻‍♂️ Zen :
"Akhirnya... bisa balik lagi."

Cowok itu tersenyum kecil sambil menyentuh daun tanaman tersebut dengan hati-hati.

Perasaan hangat perlahan memenuhi dadanya.

Seolah-olah tanaman itu sedang memberi tanda bahwa semuanya akan kembali baik-baik saja.

Di dekat pot tanaman itu, seekor kucing abu-abu sedang rebahan santai sambil menggoyang-goyangkan ekornya pelan.

Namanya Bubu. 🐈

Saat melihat Zen mendekat, kucing itu langsung mengeong kecil.

🙆🏻‍♂️ Zen :
"Bubuuu!"

Zen langsung mengangkat kucing itu ke pelukannya sambil tertawa kecil.

Karena terlalu senang, ia bahkan sampai melompat-lompat kecil di teras rumahnya sendiri sampai kepalanya sedikit pusing.

Namun Zen sama sekali tidak peduli.

Hari itu... hatinya terasa jauh lebih ringan dibanding biasanya.

Cowok itu kembali menatap bunga yang mulai mekar tadi.

Matanya sedikit berkaca-kaca saat tangannya kembali menyentuh daun tanaman tersebut.

🤷🏻‍♂️ Zen :
"Ini... tanda-tanda apa ya?"

Bubu sendiri bukan sekadar kucing biasa bagi Zen.

Kucing abu-abu itu dulu diadopsi dari Alika.

Saat pertama kali datang, tubuhnya masih sangat kecil dan kurus. Walaupun sudah tidak menyusu lagi pada induknya, Bubu tetap selalu menempel ke siapa pun yang merawatnya.

Dan sejak saat itu...

Bubu menjadi kucing kesayangan Zen.

Alasannya sederhana.

Karena Bubu berasal dari Alika.

Zen mengelus kepala kucing itu pelan sambil tersenyum kecil.

🙍🏻‍♂️ Zen (dalam hati) :
"Kalau lihat Bubu... rasanya kayak lihat dia."

Angin pagi kembali berhembus pelan menerpa halaman rumah.

Bunga di pot kecil itu bergerak lembut tertiup angin.

Zen memandangi bunga itu cukup lama dengan tatapan hangat.

Mungkin...

Mekarnya tanaman itu hari ini adalah hadiah kecil dari semesta.

Sebuah tanda bahwa Alika sudah kembali pulang.

Dan tanpa Zen sadari...

Hatinya yang selama ini terasa kosong perlahan mulai hidup kembali. 🌸

ALZEN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang