Suara motor melaju kencang, meninggalkan wanita yang tadi sempat menyelamatkan bekal itu.
"Ini hari pertama aku kerja di rumah ini. Aku harus bisa pelan-pelan nguasain keadaan... tapi mulai dari siapa dulu ya? Kayaknya yang paling gampang itu si Langit deh," gumam pembantu baru itu saat rumah sedang sepi. Kini hanya tersisa kedua orang tua Zen yang bersiap berangkat kerja.
"Mbak, tolong jaga rumah ya. Saya percaya Mbak Sarmi bisa menjaga dan merawat rumah keluarga kecil saya," ucap ibu Zen sambil menggenggam tangan Mbak Sarmi dengan hangat.
"Siap, Bu. Pasti saya jaga baik-baik. Saya juga bakal menjalankan amanah dari Ibu dan Bapak sebaik mungkin," jawab Mbak Sarmi sopan.
"Ya sudah, Mbak. Saya berangkat dulu, sudah mau terlambat kerja soalnya," kata ibu Zen sambil membuka pintu mobil.
Suara klakson terdengar, menandakan mobil akan segera berangkat.
"Mbak..."
"Iya, Bu. Hati-hati di jalan, sama Bapak juga," balas Mbak Sarmi sambil melambaikan tangan.
Ia menunggu sampai mobil itu benar-benar keluar dari area rumah. Setelah suasana mulai sepi, Mbak Sarmi memutuskan untuk membereskan kamar terlebih dahulu.
Kamar pertama yang ia tuju adalah kamar Zen. Pagi tadi, Zen lupa merapikan tempat tidurnya hingga kamar itu terlihat berantakan.
"Wah, kamarnya Mas Langit berantakan banget. Aku ambil sapu dulu deh," gumamnya pelan.
Mbak Sarmi berjalan ke teras rumah, tempat ia ingat sapu biasa disimpan.
"Nah, ini dia."
Selain mengambil sapu, ia juga membawa alat penepuk kasur untuk membersihkan tempat tidur Zen.
"Permisi ya, Mas Langit," ucapnya pelan saat memasuki kamar yang sedang kosong itu.
Matanya menyapu seluruh isi kamar. Selain kasur yang belum rapi, meja belajar Zen juga terlihat berantakan. Buku-buku pelajaran berserakan karena kebiasaan Zen menarik buku tanpa pernah membereskannya kembali.
"Rapihin meja belajarnya dulu deh," katanya sambil berjalan mendekat.
Di sela-sela membersihkan meja, pandangannya tiba-tiba tertuju pada sebuah foto perempuan yang terpajang rapi di sana.
"Ini siapa...? Kok ada foto cewek di meja belajarnya?" gumamnya heran.
Dengan rasa penasaran, Mbak Sarmi mengambil ponsel dari saku bajunya lalu diam-diam memotret bingkai foto itu.
"Wah, ada yang nggak beres nih. Bisa-bisanya ada foto cewek di kamar Zen..." katanya pelan sambil menaruh kembali bingkai foto itu sedikit kasar hingga menimbulkan bunyi kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
