Senja itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata.
Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
Pada bulan itu, Zen terpilih menjadi salah satu anggota Pramuka yang akan mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan antar sekolah.
Kabar itu tentu membuat banyak siswa bangga, termasuk Alika.
Sebenarnya, Alika juga sempat terpilih menjadi anggota tim tersebut. Namun sayangnya, takdir berkata lain. Karena suatu hal, namanya harus dikeluarkan dari daftar peserta dan ia batal mengikuti perlombaan itu.
Hal itu membuat Alika sangat kecewa.
Bukan hanya karena gagal ikut lomba, tetapi juga karena ia sangat ingin merasakan berjuang bersama Zen dan teman-temannya sampai mendapatkan juara bersama.
Perlombaan itu masih berlangsung sekitar dua sampai tiga minggu lagi sejak pemilihan anggota dilakukan. Itu artinya, masih ada banyak waktu untuk latihan dan belajar tentang kepramukaan.
Namun Alika hanya bisa melihat semuanya dari jauh.
Setiap sore, ia memperhatikan teman-temannya berlatih dengan penuh semangat di lapangan sekolah. Tawa, teriakan penyemangat, dan kekompakan mereka membuat hati Alika semakin sesak.
Ia ingin berada di sana juga.
"Instruksi tali-temali dibenerin lagi!" teriak salah satu pembina dari kejauhan.
Sementara itu, Alika hanya berdiri diam sambil memandangi mereka dengan tatapan sedih.
"Andaikan aku juga bisa kayak gitu..." gumamnya lirih.
Untuk pertama kalinya, Alika merasa begitu dekat dengan mimpinya... namun di saat yang sama, mimpi itu juga terasa sangat jauh untuk digapai.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alika hanya bisa melihat perjuangan Zen dari belakang.
Meski sempat kecewa karena gagal ikut perlombaan Pramuka, perlahan ia mulai belajar menerima semuanya. Hari demi hari, rasa sedih itu mulai mereda walaupun masih meninggalkan sedikit luka di hatinya.
"Mungkin ini memang takdirnya..." batin Alika mencoba mengikhlaskan.
Akhirnya, Alika dan teman-teman ceweknya berinisiatif melihat latihan perlombaan dari lantai tiga sekolah. Kebetulan kelas Alika berada di lantai tiga, sedangkan Zen dan tim Pramuka sedang latihan di lapangan lantai satu.
Dari atas, Alika bisa melihat Zen yang sedang sibuk merakit tongkat bambu bersama anggota lainnya.
Tatapan Alika nggak pernah lepas dari cowok itu.
Dan tanpa sadar, ia tiba-tiba berteriak cukup keras dari balkon kelas.
"SEMANGAT ZEN! JUARA YA, ZEN!"
Zen yang mendengar suaranya langsung menoleh ke arah lantai tiga. Sesaat kemudian, cowok itu tersenyum kecil sambil mengangkat tangan singkat.
Melihat itu, wajah Alika langsung berbunga-bunga sendiri.
Namun kebahagiaan itu nggak berlangsung lama.
Di tengah Alika yang sedang asyik memperhatikan Zen, tiba-tiba datang seorang cewek yang menurutnya cantik, pintar, dan terlihat cocok berdiri di dekat Zen.