TAKDIR YANG TIDAK PERNAH BISA DITEBAK

17 3 0
                                        

Di sela-sela suasana kelas yang hening, Zen masih menatap lembar ujiannya. Pensil di tangannya berhenti bergerak tepat di atas kertas jawaban.

Entah kenapa, pikirannya terus melayang ke mana-mana.

Bayangannya tiba-tiba tertuju pada seseorang yang tidak hadir di kelas hari itu.

"Si Al-Al itu ke mana sih..." batin Zen sambil menatap kosong ke depan.

Ia menghela napas pelan lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Aduh... overthinking banget aku," gumamnya dalam hati.

Beberapa detik kemudian, Zen mencoba kembali fokus pada soal ujian di depannya. Namun tetap saja, pikirannya terasa kacau.

"Dia kenapa ya..."

Ada rasa khawatir yang sulit dijelaskan muncul begitu saja di dadanya. Perasaan itu aneh, membuatnya gelisah tanpa alasan yang jelas.

Namun Zen tidak tahu...

Bahwa saat itu, Alika memang sedang tidak baik-baik saja.

Di rumah Alika, suasananya sangat berbeda.

Lorong rumah yang biasanya tenang kini terasa mencekam. Di depan pintu kamar, tubuh Alika tergeletak lemah di lantai. Benturan keras yang ia alami membuat tubuhnya tak mampu bangkit.

Beberapa saat kemudian, mamah Alika berjalan menuju kamar sambil membawa semangkuk bubur hangat untuk putrinya.

Namun langkah wanita itu tiba-tiba terhenti.

Matanya membelalak saat melihat sosok yang terbaring di lantai dekat pintu kamar.

Wajahnya langsung pucat seketika.

"TOLONG! TOLONG!" teriaknya panik hingga suaranya menggema ke seluruh rumah.

Orang-orang yang berada di rumah langsung bergegas menghampiri sumber suara.

"Kenapa, Non?" tanya salah satu pembantu rumah dengan wajah khawatir.

Mamah Alika hampir tidak bisa menahan tangisnya sendiri. Tangannya gemetar saat menunjuk ke arah Alika.

"Mbak... tolong... Alika kebentur. Kayaknya dia terluka... darahnya banyak banget..." ucapnya terbata-bata.

Napasnya mulai tidak teratur karena terlalu panik.

"Mbak cepat... tolong panggil ambulans!"

"Iya Non, sabar ya Non. Saya panggil ambulans dulu," jawab pembantu itu sambil buru-buru mengambil ponsel.

Beberapa menit kemudian, suara sirene ambulans terdengar mendekati rumah.

Petugas medis langsung masuk dengan cepat membawa tandu. Mereka segera mengangkat tubuh Alika dengan hati-hati sebelum membawanya masuk ke dalam ambulans.

Mobil itu pun melaju cepat menuju rumah sakit, membelah jalanan siang yang ramai.

Di ruang UGD, suasana terasa semakin menegangkan.

Para dokter dan perawat bergerak cepat menangani Alika. Oksigen segera dipasang, begitu juga berbagai alat medis lainnya.

Suara roda ranjang rumah sakit terdengar bergema di lorong UGD saat tubuh Alika dibawa menuju ruang penanganan.

Para tenaga medis terus berlari dan saling memberi instruksi dengan cepat. Semua berusaha melakukan yang terbaik agar kondisi Alika segera stabil.

Sementara itu, mamah Alika hanya bisa mengikuti dari belakang sambil menangis.

Hatinya terasa hancur melihat putrinya terbaring lemah di tempat yang seharusnya tidak pernah ditempati oleh seorang anak seusianya.

Sementara itu...

Di ruang kelas sekolah, Zen masih duduk diam di bangkunya.

Tatapannya kembali tertuju pada lembar ujian yang sejak tadi belum selesai ia kerjakan.

Ia sama sekali tidak tahu bahwa di waktu yang bersamaan, sesuatu yang besar sedang terjadi pada Alika.

Yang ada di pikirannya hanyalah bayangan Alika yang biasanya duduk di kelas, mengerjakan ujian bersama mereka.

Padahal kenyataannya... semuanya sangat berbeda.

Karena dalam hidup,

takdir adalah sesuatu yang tidak pernah bisa ditebak oleh siapa pun.

ALZEN Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang