Hari Minggu akhirnya tiba—hari yang paling ia tunggu-tunggu.
Zen duduk di meja belajarnya, memandangi sebuah foto yang baru saja ia cetak seminggu yang lalu di tempat fotokopi dekat rumah.
Kertas foto itu masih terlihat baru.
"Enggak kecewa aku... lihat fotonya aja sudah senang," ucap Zen dalam hati.
Ia tersenyum kecil, lalu memasukkan foto itu ke dalam bingkai kecil dan menaruhnya di ruang kosong di atas meja belajarnya.
"Semangat 45 ini, nih," gumamnya sambil terkekeh pelan.
Zen menopang dagunya di atas telapak tangan. Beberapa detik kemudian ia mengambil kembali foto itu, menatapnya lebih dekat, sambil tersenyum tipis—senyum yang sulit dijelaskan.
Tiba-tiba—
Tok... tok...
Pintu kamarnya diketuk.
"Woy, Zen! Disuruh makan sama Mamah!" teriak kakaknya dari balik pintu.
Zen hanya menoleh sekilas ke arah pintu, lalu kembali menatap foto itu, seolah tidak mendengar apa-apa.
"Woy! Keluar! Disuruh makan!" panggil kakaknya lagi dengan nada lebih keras.
"Iya, sebentar! Masih sibuk, enggak usah ganggu!" balas Zen dari dalam kamar dengan suara cukup keras, wajahnya sedikit mengerut karena kesal.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Zen memutuskan menghentikan lamunannya.
Ia berdiri dan berjalan menuju pintu.
Klik.
Pintu kamar terbuka perlahan.
Tanpa sadar, Zen keluar dari kamarnya masih sambil membawa foto Alika di tangannya.
Kakaknya yang melihat itu langsung bereaksi.
"Ciee... cieee... Mahh! Zen bawa foto pacarnya!" godanya sambil tertawa.
Mamah yang melihat kejadian itu hanya tersenyum.
Wajah Zen langsung memerah.
Tanpa berkata apa-apa, ia buru-buru kembali masuk ke kamar dan menutup pintu dengan cepat.
Di dalam kamar, Zen duduk di dekat jendela. Ia menyalakan musik dari ponselnya.
🎧 "Dan" — Sheila On 7
Angin sepoi-sepoi masuk dari jendela, membelai rambut lurusnya dengan lembut.
Zen menatap langit di luar jendela, menikmati pemandangan sore yang tenang.
Dalam benaknya, ia membayangkan sesuatu.
Betapa menyenangkannya kalau Aika ada di sana...
Duduk di sebelahnya...
Menemani hari-harinya...
Tertawa dan bermain bersama.
Namun Zen tersenyum kecil pada dirinya sendiri.
"Langit... ini cuma haluanmu."
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
