SURAT UNTUK MALIKA ZEYANA OLIVINA
Dear Alika
Aku tahu bahwa cintaku padamu bertepuk sebelah tangan. Ya, aku sadar itu.
Namun, seiring waktu, aku baru memahami bahwa cinta tidak harus memiliki, Semoga angin memberikan pesan kepadaku, menyampaikan secercah harapan pada jiwa yang bersedih.
Inilah surat cinta untuk Orang yang aku sukai selama ini
Kelak jika kita bertemu di antah berantah, semoga kita bisa saling menyapa, meski menyapa dalam diam.
Aku selalu ingin kamu dalam keadaan baik - baik saja disana aku selalu mengkhawatirkan saat tidak ada keberadaanmu, rasanya hatiku sunyi tidak ada yang bisa membuat bahagia meskipun hanya diam " diam bukan berarti limbad ", semoga kamu cepat sembuh alikaa bisa beraktifitas seperti biasa yang sering kamu lakukan di sekolah maupun di luar sekolah.
from M. Zen damare
Cowok bertubuh tinggi itu akhirnya selesai menuliskan surat untuk gadis yang ia cintai.
Kamar Zen malam itu terasa begitu sunyi. Hanya suara kipas angin dan cahaya lampu belajar yang menemaninya.
Zen membaca ulang surat yang tadi ia tulis dengan tangan gemetar.
Semakin lama dibaca, dadanya justru terasa semakin sesak.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia menggigit bibir pelan, berusaha menahan tangis, tetapi tetap gagal.
Air matanya perlahan jatuh membasahi kertas surat itu.
Zen lalu memeluk surat tersebut erat di depan dadanya, seolah surat itu bisa menyampaikan semua rasa khawatir yang selama ini ia pendam untuk Alika.
🙍🏻♂️ Zen : semoga kamu baik-baik aja... (dalam hati)
Cowok itu menundukkan kepala sambil cepat-cepat mengusap air matanya.
Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, Zen akhirnya meletakkan surat itu dengan hati-hati di atas meja belajarnya.
Ia tidak ingin terus larut dalam kesedihan malam itu. 🌌
Zen pun berdiri perlahan dari kursinya lalu merapikan posisi kursi seperti semula. Setelah itu, ia berjalan menuju kasur karena jam sudah menunjukkan pukul 00.15 malam.
Tak lama kemudian, tubuhnya terbaring lemah di atas kasur dan perlahan tertidur.
⸻
Di ruang tengah, ibunya Zen masih duduk santai di sofa sambil membaca buku.
Namun beberapa menit kemudian, pandangannya refleks tertuju pada cahaya dari arah kamar Zen yang masih menyala terang.
🧕🏻 Ibunya Zen : "Loh, kok kamar Zen masih kebuka..."
Wanita itu langsung menutup bukunya lalu berjalan menuju kamar anaknya.
Saat pintu dibuka perlahan, terlihat Zen sudah tertidur pulas di atas kasur. Namun lampu meja belajarnya masih menyala.
Ibunya Zen menghela napas kecil sambil berjalan mendekati meja belajar untuk mematikan lampu.
Namun langkahnya tiba-tiba terhenti ketika melihat sepucuk surat di atas meja.
Karena penasaran, ia mengambil surat itu perlahan. Awalnya ia mengira itu hanya surat edaran sekolah biasa.
Tetapi saat dibuka...
🧕🏻 Ibunya Zen : "Dear Malika..."
Wanita itu langsung tersenyum kecil.
🧕🏻 Ibunya Zen : "Owalahh... ini buat Alika."
Ibunya Zen mulai membaca isi surat itu perlahan.
Dari tulisan anaknya, ia akhirnya mengerti kalau Alika sedang sakit dan Zen sangat mengkhawatirkannya.
Setelah selesai membaca, tatapan wanita itu perlahan beralih ke arah Zen yang sedang tertidur pulas.
Namun ada sesuatu yang membuat hatinya terasa sedikit nyeri.
Wajah anaknya terlihat berbeda malam itu.
🧕🏻 Ibunya Zen : "Loh... matanya kok kayak habis nangis..." (dalam hati)
Wanita itu menatap Zen beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya tersenyum tipis penuh rasa iba.
Ia lalu berjalan mendekat ke arah kasur dan mengusap lembut rambut anaknya.
🧕🏻 Ibunya Zen : "Kamu bener-bener sayang ya sama Alika..." (dalam hati)
Lampu belajar itu akhirnya dimatikan perlahan.
Malam kembali sunyi. 🌌
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
RomanceSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
