"Kringg... kringg..."
Bunyi jam weker memecah kesunyian pukul 04.00 pagi.
Zen terbangun, lalu meraih jam itu dan mematikannya.
"Ini hari apa, ya...? Hari Jumat," gumamnya pelan.
Seketika senyum kecil muncul di wajahnya.
"Kan hari ini Aikaa masuk sekolah..."
Ia membuka selimutnya perlahan, lalu menoleh ke arah foto yang ada di meja kecil di samping tempat tidurnya.
"Aikaa... kamu mau masuk sekolah, ya. Nanti jangan lupa bersenang-senang, ya," ucapnya sambil menatap foto itu cukup lama.
Ia menarik napas dalam.
"Aku tahu ini hari yang paling aku tunggu-tunggu... tapi bukan berarti ini hari yang indah bagiku."
alika menunduk, memandang kakinya yang masih terbalut perban.
Ia menghela napas pelan, lalu mulai mengancingkan seragam sekolahnya.
"Alika, bangunnnnnn!"
Suara ibunya terdengar keras dari luar kamar—suara yang selalu ia tidak suka ketika dirinya sebenarnya sudah siap lebih dulu.
"Mah, masuk saja," jawab alika
Pintu kamar terbuka.
"Ya ampun... ternyata sudah cantik, ya. Cepat, sudah mau jam enam," kata ibunya sambil tersenyum sebelum menutup kembali pintu kamar.
alika melirik jam di dinding.
"Padahal masih setengah lima..."
Tak lama kemudian terdengar suara dari luar kamar.
"Langit... ini Mbak sudah bikin bekal buat kamu. Ada di atas kasur, ya."
"Iya, Mbak. Terima kasih," jawab Zen.
Ia berdiri di depan cermin, merapikan rambutnya. Aroma parfum laki-laki yang menempel di seragamnya membuatnya berhenti sejenak.
"Kayaknya... kurang, deh, parfum ini."
"Langit? Sudah siap berangkat, kan?" suara ibunya terdengar lagi dari depan pintu kamar.
"Soalnya Mas sudah nunggu di depan, tuh. Sambil manasin moge-nya."
"Oke, siap, Mah. Sabar bentar lagi Langit selesai," jawabnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Langit segera keluar dari rumah untuk memakai sepatu. Jam sudah menunjukkan 06.05.
Baru saja ia hendak naik motor
"Langittt!"
Teriakan yang tidak asing terdengar dari dalam rumah.
"Ya ampun, Langit! Bekal kamu ketinggalan. Untung Mbak tahu," kata pembantunya sambil terengah-engah mengejar motor yang hampir berangkat.
"Terima kasih ya, Mbak," jawab Langit dengan wajah datar—ekspresi yang sudah menjadi ciri khasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ALZEN
Storie d'amoreSenja itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Zenn berdiri di hadapan Alika, seolah menahan sesuatu yang berat di dalam hatinya. Angin sore berhembus pelan, membuat suasana perpisahan itu terasa semakin nyata. Dengan suara yang sedikit bergetar, Zenn...
